Bab 2 - Mendaftar

1787 Kata
Sudah tiga pintu yang dilewati Mawar. Namun, masih saja Mawar belum menemukan tulisan di papan pintu yang menerangkan bahwa ruangan tersebut adalah ruangan untuk klub pendaki gunung.  Mawar mencebik kesal. Ia berdiri di depan pintu ketiga dan memutar ransel di punggunya ke depan. Tangannya merogoh sesuatu di reseleting bagian depan tas. "Yes, ketemu!" girangnya. Mengacungkan sebuah permen lolipop di tangannya. Mawar membuka bungkus permen dengan wajah yang semringah. Seketika rasa kesalnya berubah karena permen s**u yang sekarang ada di dalam mulutnya. Mawar melanjutkan pencariannya setelah ia menjatuhkan dengan sengaja bungkus permen tadi ke lantai. Ia melimbai pergi dengan langkah yang ringan.  Sekitar lima langkah Mawar berjalan, ada sesuatu yang menghadangnya. Tepatnya seseorang.  "Buang." Cowok itu menyodorkan bungkus permen sama persis seperti bungkus yang dibuang Mawar tadi. Mawar menelisik sesaat bungkus di tangan cowok itu. Ia mengernyit.  "Ini punya kamu, 'kan?" tanyanya ketus. "Tadi emang punya gue, tapi udah gue buang," jawab Mawar terkekeh. "Buang." Cowok itu lebih menyodorkan lagi bungkus permen di tangannya.  Mawar menggeleng manja. "Nggak mau."  "Buang." Cowok itu melototkan matanya. Membuat Mawar mencebikkan bibirnya ke atas lantaran mulai takut dengan ekspresi garang cowok di depannya. Lalu, memasukkan lolipop ke mulutnya dengan melas.  Cowok itu menarik tangan Mawar yang tidak memegang permen, menyerahkan bungkus permen yang ia bawa ke Mawar, dengan kasar. Setelah itu ia meninggalkan Mawar di posisinya.  Desisan sebal keluar dari lidah Mawar. Ia menghentakkan kedua kakinya secara bergantian ke lantai alih-alih ingin meluapkan kejengahannya pada cowok yang sama sekali tidak ia kenal.  "Siapa sih, tuh cowok. Sok ganteng banget," gerutunya seorang diri. Saat Mawar memasuki ruangan berukuran sedang dengan tampilan sederhana, tapi terlihat sangat rapi dan bersih itu. Mawar melebarkan matanya karena menangkap seseorang yang tengah terduduk di salah satu kursi ruangan ini. Seseorang yang membuatnya kesal tadi pagi.  Ketika melintas di depan cowok itu, Mawar menjulurkan lidahnya tepat di hadapan cowok ber-sweater hitam itu. Sementara cowok itu hanya memandang Mawar dengan datar, tidak lebih dari tiga detik.  "Permisi," sapa Mawar ke seorang cowok yang tengah terduduk di meja pendaftaran.  "Iya, silakan," sahut cowok itu mempersilakan Mawar duduk.  "Saya mau daftar jadi anggota pendaki, Kak."  "Kamu dapet informasi dari mana mengenai klub pendaki kita?" tanya cowok berambut cepak itu, dengan ramah. "Dari mading," jawab Mawar terdengar nyaring. "Sebelumnya kamu udah pernah melakukan pendakian belum?" "Belumlah, Kak. Makanya sekarang saya mau daftar," jawabnya lagi semakin lantang.  Cowok itu tersenyum geli, menurutnya gadis di depannya saat ini benar-benar lugu. Berbeda dari gadis-gadis di Kampus ini. "Nama gue Dero. Gue sekretaris di bagian pendaftaran ini."  Mawar mengangguk paham.  "Untuk ikut pendakian ini ada beberapa persyaratan yang harus kamu tahu. Pertama, kamu harus niat ...."  "Saya niat kok, Kak." Mawar memotong pembicaraan yang baru dimulai oleh Dero. "Iya-iya. Tolong dengerin dulu, ya." Dero berusaha bersikap manis dan sabar. Mawar mengangguk tanda mengerti.  "Kedua ...." "Emang ada berapa banyak sih, persyaratannya?" Mawar memotong lagi penjelasan Dero.  Dero meringis, mencoba menahan sebisa mungkin kekesalan pada gadis itu.  "Nih." Dero menyerahkan selembaran kertas putih yang di dalamnya banyak catatan penting.  Mawar mengambil selembaran itu. "Apaan ini?" Lantas membaca judul di dalam tulisan kertas itu.  "Di sana tertulis persyaratan dan tata cara tentang pendakian. Kamu bisa baca itu semua, jadi nggak perlu gue jelasin lagi."  "Iya-iya tau." Mawar manggut-manggut.  "Dan ini formulirnya." Dero menyerahkan lagi kertas putih berisi beberapa pertanyaan untuk para pendaftar.  Secara bersamaan, Dero dan Mawar tersentak. Seorang cowok yang sedaritadi berada di ruangan ini dan hanya terduduk diam, tiba-tiba menahan kertas putih yang baru saja akan diambil Mawar  "Kenapa, Bang?" tanya Dero ke cowok itu. "Kamu nggak keterima," tukas cowok itu menatap tajam ke Mawar.  Mawar mengerjapkan matanya. "Lho, kenapa?" tanyanya heran. Begitupun Dero yang menyaksikan adegan itu, sama herannya.  "Pokoknya, kamu nggak keterima," kata cowok itu dengan tegas. Kemudian, ia meraup kertas yang ditahannya tadi dan dibawa pergi. "Kamu kenal sama Daun?"  "Hah? Daun? Siapa nama cowok tadi? Da-un?" Seketika Mawar tertawa terbahak-bahak.  "Kenapa?" tanya Dero heran. "Nggak, gapapa. Lucu aja namanya." Mawar masih terus merasa geli sendiri.  Dero mengambil lagi formulir di laci. "Yaudah, nih. Ambil formulirnya." Lantas menyodorkan sebuah kertas ke Mawar. "Nggak usah ditanggepin sikap Daun tadi. Dia emang gitu orangnya,"  "Iya, aneh tuh cowok," gumamnya.  Mawar beranjak dari kursi dan pamit ke Dero. Namun, baru beberapa detik Mawar meniggalkan ruangan, ia kembali.  "Ada apa? Ada yang ketinggalan?" "Boleh minta satu lagi nggak, formulirnya?"   *****   "Taraaaaaa ...." Mawar menaruh kertas yang ia bawa, tepat di depan wajah Randy.  Dengan spontan, Randy menjauhkan tangan Mawar dari pandangannya. "Gue udah dapet formulirnya," girang Mawar.  "Bagus deh."  "Kok nggak seneng gitu ekspresinya?" Mawar memiringkan tubuhnya untuk bisa melihat wajah Randy secara jelas.  "Terus, gue harus gimana? Loncat-loncat ? Guling-guling? Enggak kan?" "Nggak gitu juga sih." Mawar melorotkan bahunya lemas. Mengambil posisi duduk di sebelah Randy. "Yang elo lakuin cuma siap-siap aja. Siap-siap untuk nerima gue jadi pacar lo." Mawar menarik senyumnya begitu lebar.  "Besok malem mau temenin gue nggak?"  "Kemana?" tanya Mawar sangat antusias.  "Nggak usah banyak tanya. Lo siap-siap aja." "Oke." Mawar mengacungkan ibu jarinya di udara.  Saat Randy hendak bangkit, ujung bajunya ditahan oleh Mawar. "Apalagi?"  "Emangnya elo tau rumah gue?"  Randy memejamkan matanya, dia sendiri lupa kalau dia tidak tahu alamat rumah Mawar. "Mana hape lo?"  Mawar mengambil ponsel di kantung bajunya, menyerahkannya ke Randy. Tak lama kemudian Randy selesai memasukkan nomor ponselnya di kontak Mawar.  "Ganti, ah." Mawar terlalu senang karena mendapatkan nomor ponsel cowok yang disukainya. Lalu, ia mengutak-atik layar ponselnya, berniat mengganti nickname Randy menjadi pacarku.   *****   Dengan beralaskan rumput hijau yang sedikit basah, Mawar tengah terduduk di atasnya. Menyilakan kakinya sambil sibuk mengisi formulir yang ia dapat kemarin dengan bangku Taman sebagai mejanya.  Bibirnya komat-kamit lantaran membaca setiap pertanyaan yang tertulis. Sejujurnya Mawar agak bingung harus mengisinya seperti apa, ini pertama kalinya bagi Mawar disuguhkan formulir yang menurutnya, membingungkan. "Apaan sih, nih?" Mawar memiringkan kepalanya. Lalu, menaruh ujung dagunya di atas punggung tangannya yang tertempel di tepi bangku. Mawar mengangkat kepalanya, memegang pulpen di udara. "Ahaaa ...." Mawar menulis sesuatu lagi dengan wajah yang berbinar, sepertinya Mawar sudah agak memahami maksud pertanyaan di kertas itu.  "Yah ... Salah," pekik Mawar, menggaruk keningnya yang agak gatal. Bibirnya mengerucut sebal.  Kemudian, Mawar mengambil benda kecil berwana merah dari dalam tasnya. Setelah mengocok beberapa kali, Mawar menekan badan benda itu dan menekan ujungnya di tulisan Mawar yang salah. Benda itu mengeluarkan cairan putih seperti cat.  Setelah memasukkan kembali tip-x nya, Mawar kembali menulis.  "Arrrrgghh ...." Tiba-tiba saja Mawar mengerang. Ia merasa tulisannya tidak benar. Mawar mengacak rambutnya dengan frustasi, dan menghentak-hentakkan pangkal pahanya ke rumput. Mawar kesal.  Mawar melempar pulpen dengan asal. Lalu, menggunakan tangan kanan dan kirinya untuk menarik rerumputan yang berada tepat di sebelah kakinya. Mawar juga merobek dan meremas formulir yang terlihat berantakan itu. Mawar melempar gumpalan kertas itu ke arah belakang.  Setelah puas dengan kehebohannya sendiri, Mawar menenggelamkan wajahnya di antara lipatan tangannya. Detik berikutnya, sontak Mawar mengangkat wajahnya. "Oiya." Mawar mengambil formulir lainnya dari dalam tas. "Untung gue minta satu lagi." Seketika senyumnya mengembang.  Kali ini Mawar lebih hati-hati dalam menulis apa yang akan ia tulis. Cara menulisnya pun pelan-pelan agar sesuai dengan apa yang sudah otaknya pikirkan. "Selesai," girangnya.  Sreeeekkkk  Ada seseorang yang mengambil paksa formulir Mawar. Tidak ingin diam begitu saja, Mawar segera bangkit dari duduknya. "Elo ...." Mawar melototkan matanya ke cowok di depannya.  "Sekali lagi kamu buang sampah sembarangan dan ngerusak alam, jangan harap kamu bisa masuk ke anggota pendaki!" geram Daun terdengar sangat lantang.  "Siapa yang ngerusak alam, hah? Lo tuh ya, di mana-mana ada. Udah kayak hantu aja," gerutu Mawar kala mencebikkan bibirnya ke atas lalu ke bawah.  Terdengar embusan napas Daun yang menahan amarah. Hanya beberapa detik cowok itu menatap Mawar dengan tatapan membara. Daun melenggang pergi dengan formulir Mawar yang ia bawa. Sebelum benar-benar menjauh, Daun mengambil gumpalan kertas yang di buang Mawar tadi.  Gadis itu cukup tertegun dengan apa yang dilakukan Daun, jarang sekali ada cowok yang memperhatikkan kebersihan seperti yang Daun lakukan, kedua kalinya.  "Siapa sih yang ngerusak alam?" Mawar bertanya pada dirinya sendiri. Setelah kehilangan punggung Daun, pandangannya jatuh ke bawah, dekat kakinya. Mawar meringis malu, ternyata benar kalau tadi dia sudah merusak alam dengan mencabuti rumput karena kekesalannya sendiri.   *****   Mawar sudah siap dengan dress merah api selutut dengan bagian atas yang sedikit terbuka. Wajahnya sangat berseri-seri akan malam yang selalu ia dambakan, yaitu bisa berkencan dengan seorang Randy.  Selama limabelas menit, Mawar tidak pernah berpaling dari cermin di kamarnya. Tidak lupa pula ia menambahkan terus lipblam dengan warna kesukaannya, peach.  Tok tok tok tok  Mawar berlari kecil menghampiri suara pintu kamarnya yang terketuk, lalu membukanya.  "Ada temannya Non Mawar di bawah," ucap Bi Ratna.  Sebelum melangkahkan kakinya keluar dari kamar, Mawar menata kembali tatanan rambutnya yang di kuncir satu ke samping. Dengan riang Mawar menuruni satu per satu anak tangga itu. Namun, langkahnya terasa berat ketika Mawar sampai di anak tangga terakhir. Raut wajahnya menjadi tegang karena seseorang yang tengah terduduk di ruang keluarga.  "Kak," panggil Mawar pelan ke seorang gadis yang sedang membaca majalah itu. Mawar berdiri di depan gadis itu.  Tidak ada jawaban dari gadis yang mempunyai hubungan darah dengan Mawar.  "Kak, Mawar mau pergi dulu, ya. Nggak malem-malem kok, pulangnya. Kakak tidur duluan aja nggak usah nungguin Mawar pulang." Mawar pamit pada Kakaknya. Nada bicaranya sangat mencerminkan karakter asli Mawar yang nyaring dan polos, tidak dibuat-buat.  Masih. Belum ada satupun suara yang keluar dari pita suara Sang Kakak.  "Kak ...."  Gadis yang wajahnya tidak terlalu tua itu bangkit dari duduknya. Melempar majalah yang ia baca tadi dengan asal. Sesaat menatap Mawar dengan sinis, dan melimbai pergi begitu saja.  Mawar menghela napasnya seraya dengan bibirnya yang mengerucut ke samping.  Selalu aja begitu,  Tak ingin membuat Randy menunggu lama, Mawar mengambil langkah cepat menuju gerbang. Menemui Randy.  "Kok, nggak tunggu di dalem aja?"  Alih-alih tidak menjawab pertanyaan Mawar, Randy dengan pakaian sporty nya malah menelisik Mawar dari ujung rambut sampai ujung kaki.  "Elo mau kemana?" tanya Randy bernada sarkastik.  "Mau kencan kan," jawab Mawar terlalu polos.  "Siapa bilang kita mau kencan?" Mawar melototkan matanya dengan kening yang berkerut. Apa maksudnya Randy?  "Emangnya malam ini, kita mau ke mana?" tanya Mawar sangat bingung. Tawa Randy menggelegar, mengalahi suara angin yang berembus cukup kencang. "Kita itu mau ke Bumi Perkemahan, bukannya mau dinner di Cafe," ucap Randy masih di sisa-sisa tawanya.  Mawar cemberut. "Salah sendiri nggak ngasih tau mau kemananya," gerutu gadis itu.  Randy membuka jaketnya, memindahkan jaket itu di punggung Mawar. Karena pergerakan itu, membuat wajah Randy dan Mawar berada di jarak yang cukup dekat. Beberapa saat keduanya saling bertatapan.  Melihat ekspresi Mawar yang tegang, Randy semakin memajukan wajahnya. Mawar terpejam, bibirnya sudah seperti orang yang siap sedia untuk di kecup.  Randy semakin dekat dengan hidung Mawar. Sumpah demi apapun, saat ini jantung Mawar sedang melakukan push-up di dalam lapisan kulitnya. _To Be Continued_
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN