Bab 1 - Satu Syarat
Namanya Mawar Fradella. Wajahnya yang cantik tidak menjadi jaminan untuk Mawar bisa disukai oleh setiap cowok di kampusnya. Awalnya mungkin setiap cowok yang menatapnya akan terkesan, tetapi jika cowok-cowok itu sudah berada di dekatnya, tidak ada cowok yang mampu bertahan lama untuk mendengar segala ocehan Mawar yang beraneka ragam.
Sifat childish-nya membuat para cowok itu menjauh dengan otomatis dari gadis berambut pirang itu. Di tahun kedua ini, Mawar masih tetap seorang diri tanpa seorang teman satupun di dekatnya. Bukan hanya seorang cowok, melainkan setiap mahasiswi di sini tidak ada yang mau menjadi teman dekat untuk Mawar. Semua karena sifat kekanak-kanakannya yang selalu membuat orang jengah.
Seperti sekarang ini, di waktu senggang saat tidak ada kelas yang berlangsung, Mawar tengah terduduk di salah satu bangku Taman kampus. Menatap seseorang di kejauhan sana. Cowok yang dianggapnya tampan, seperti pangeran berkuda dari Istana. Kurang lebih dalam seminggu ini, Mawar melakukan kegiatan yang sama. Membuntuti cowok bernama, Randy.
Ibu jari dan telunjuk Mawar diacungkan ke udara membentuk seperti huruf L. Hal yang sama dilakukan Mawar pada tangan satunya. Lalu, kedua lengan itu terjulur ke depan dan disatukan pola huruf L tadi. Yang satu di atas, yang satu di bawah, sekarang pola itu menjadi sebuah kotak persegi yang Mawar arahkan tepat di wajah Randy.
"Tubuh tinggi, rambut hitam, hidung mancung, dan ...." Mawar memutar ke kanan dan ke kiri pola kotak yang ia buat dari jari-jarinya. "Senyum yang manis," lanjutnya sambil tersenyum.
"Kapan, ya, gue bisa dapet kesempatan untuk jadi pacarnya Randy?" Mawar bergumam, masih dengan dirinya sendiri. Pasalnya dalam seminggu ini, sudah tiga kali Mawar menyatakan cinta secara terang-terangan ke Randy. Dan tetap, selalu penolakan yang jelas juga yang Mawar dapat.
Mawar mengembuskan napasnya frustasi, seiringan dengan itu Mawar menghentakan kedua tangannya di atas paha. "Pokoknya gue nggak boleh nyerah gitu aja, gue harus dapetin cintanya Randy," tegas Mawar lalu berdiri.
*****
Di Kantin.
Lagi dan lagi. Mawar tengah terduduk seorang diri di bagian pojok kantin. Ia membuka bukunya sampai menutupi wajahnya. Mawar sengaja, karena tidak jauh dari sana ada Randy bersama teman-temannya.
Melalui sebuah intipan dari celah yang disediakan, Mawar tidak mengalihkan pandangan dari Randy yang entah sedang membicarakan apa. Hanya terdengar tawaan nyaring di telinga Mawar. Sesekali bibir tipis itu tidak sadar juga ikut tersenyum akan raut wajah gembira cowok di sana.
Saat Randy mengedarkan pandangannya dan berhenti di tempat Mawar duduk, dengan gelagapan Mawar segera menutupi wajahnya dengan buku, dan pura-pura membaca. Rasanya jantung Mawar hampir saja copot karena ketahuan sedang memperhatikan Randy.
Detik berikutnya, Mawar mencoba mengangkat wajahnya lagi guna kembali melanjutkan aktifitasnya. Mawar tersentak, menjatuhkan buku yang ia pegang tergeletak di meja.
"Elo ngeliatin gue?" Tiba-tiba saja Randy sudah berada persis di hadapannya.
Mawar semakin gelagapan melebihi yang tadi. "Eh ... Ehm ... Itu ... Ehm .... "
"Ham-hem-ham-hem. Gue tanya," tukas Randy berkacak pinggang.
"I-iya." Mawar hanya bisa menunduk. Entah kenapa jari-jarinya itu yang sekarang lebih menarik ketimbang cowok di depannya.
Randy memperhatikan wajah Mawar lebih seksama. Mengambil posisi duduk dan mengadahkan wajahnya di bawah wajah Mawar. "Elo ... Cewek yang nembak gue dua hari lalu, 'kan?"
Pertama kali Mawar menyatakan cinta pada Randy ketika cowok itu baru selesai memarkirkan mobilnya. Kala itu Mawar langsung menodong Randy dengan mengungkapkan perasaannya. Kedua, saat di koridor Mawar menghadang jalan Randy dan melakukan hal sama seperti sebelumnya. Jadi wajar jika Randy mengingat Mawar karena gadis itu sudah memberikan kesan yang berbeda.
Mawar membisu, menggigit bibir bawahnya karena tidak tahu harus menjawab apa.
Mawar tersentak lebih dahsyat, Randy menggebrak meja di depannya. "Gue nanya! Dijawab dong!"
"I--iya."
Randy bergumam, memikirkan sesaat sesuatu yang mulai muncul di otaknya.
"Elo mau jadi pacar gue?" tanya Randy dengan nada yang terkesan meledek dengan pertanyaan yang rasanya tidak mungkin ia ucapkan secara serius ke gadis di depannya.
Mawar mengangkat wajahnya yang tertunduk. "Eh?"
"Elo, sih, emang cantik. Tapi ...." Wajah Mawar yang semula ketakutan perlahan memudar menjadi sebuah ekspresi yang benderang. "Gue nggak suka sama cewek yang hobinya ngerengek kayak anak kecil." Seketika Mawar bagaikan diguyur air panas di atas kepalanya.
"Elo kan belum kenal sama gue, kok udah ambil kesimpulan kayak gitu?" Mawar cemberut. "Gue bisa kok, jadi cewek yang baik buat lo," lanjutnya sambil memainkan jari-jarinya di udara.
"Elo yakin?" Randy menopang dagunya dengan tangan yang bertumpu di meja.
Mawar mengangkat wajahnya lagi dengan spontan. "Yakin," jawabnya sambil mengangguk penuh semangat.
"Tapi ...." Mawar bangkit dari duduknya. Memutari meja yang panjang itu, dan mengambil posisi duduk di sebelah Randy. "Tapi apa?" tanyanya dengan antusias.
"Ada syaratnya,"
Mawar memiringkan wajahnya. "Syarat? Apa?" Mawar membawa pandangannya ke Randy, sangat serius.
"Buktiin kalo lo bukan cewek manja kayak apa yang anak-anak bilang selama ini."
"Gue nggak manja kok, gue emang begini orangnya." Mawar mengerucutkan bibirnya ke depan.
"Lo manja, lo childish, lo bawel," ucap Randy seraya dengan telunjuknya yang mengarah ke hidung Mawar. Nada bicaranya santai dan sangat tidak mengganggu Mawar sebagai tertuduhnya.
"Terus gue harus ngapain?" Mawar mulai merajuk, mengeluarkan karakter aslinya tanpa ia sendiri menyadarinya.
"Elo tau klub pendaki di Kampus kita ini?"
Mawar menggeleng. "Enggak."
"Elo cari tau."
"Buat apa?" tanyanya polos.
"Elo harus daftar jadi anggota pendaki itu, dan lo juga harus ikut kegiatan pendaki itu di bulan ini."
Mawar membulatkan matanya. "Mendaki gunung?"
Randy mengangguk diiringi senyuman yang mengartikan sesuatu. "Elo harus Selfie di Puncak Gunung yang bakalan lo taklukin nanti."
"Tapi ...." Mawar meringis. Mana mungkin ia melakukan kegiatan yang sama sekali tidak ada di bayangannya?
"Tapi apa?"
"Pertama, dingin. Gue paling nggak kuat sama dingin, bisa-bisa gue langsung sakit. Kedua, gue takut ketinggian. Dari balkon rumah gue aja rasanya bulu kuduk gue udah merinding disko. Dan ketiga, pasti bakalan cape jadi pendaki kayak gitu," paparnya dengan mendetail, dan pastinya dengan gaya bicara Mawar yang polos, lugu, dan sangat childish.
"Yaudah kalo lo nggak mau, gue juga nggak maksa." Randy bangkit dari duduknya, meninggalkan Mawar sampai bajunya ditarik oleh gadis itu.
"Tapi setelah gue ngelakuin pendakian, elo nerima gue, jadi pacar lo?" tanya Mawar hendak memastikan.
"Iya gue janji." Randy masih berdiri di posisinya, membelakangi Mawar. Ia menyimpulkan senyum yang terkesan, licik.
Berbeda dengan Mawar yang tampak antuasias dengan kesempatannya untuk bisa menjadi kekasihnya Randy.
_To Be Continued_