22. Pisah

1442 Kata

"Aku enggak tahu harus bilang apa ke kamu ini, Ke. Selamat atau turut prihatin?" kelakar Arfandi sambil menyerahkan sebuah amplop coklat yang baru saja ia ambil dari Kantor Pengadilan Agama. Aku sudah tahu isi amplop itu merupakan akta cerai perkawinanku dengan Mas Reksa. Setelah empat bulan berlalu dan melewati tiga kali sidang, akhirnya aku resmi berpisah dengan Mas Reksa secara hukum dan agama. Arfandi sendiri yang mengurus akta cerai itu. Aku tidak ikut dengannya. Hari ini aku di rumah mempersiapkan acara syukuran ulang tahun Maisa yang ke empat. Sembari terkekeh miris, aku menerima benda itu dari Arfandi. "Iya, Fan. Aku sendiri juga bingung apakah harus bahagia atau prihatin atas nasibku?" ujarku antara kelakar dan miris. Tentu saja! Kukira tidak ada perempuan di dunia ini yan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN