Deru mobil terdengar berhenti tepat di halaman rumah Bapak selepas waktu magrib. Maisa yang saat itu sedang bermain memasangkan baju-baju boneka, seketika beranjak dan berlari menuju pintu depan. "Ayah ...!" serunya semringah. Ia memang sudah hapal suara mobil Mas Rashad sebab terlalu sering diajak jalan bersama. Aku segera mengikuti langkah Maisa dari belakang. Akan tetapi, langkahku berhenti hanya sampai di muka pintu, sementara langkah Maisa terus berlari hingga ke mobil. Mas Rashad bahkan belum turun, Maisa sudah menunggu di depan pintu mobil. "Ayah ...!" Ia berseru kembali ketika Mas Rashad membuka pintu dan turun. Ia langsung membuka kedua tangan minta digendong. "Halo, Sayang." Mas Rashad tersenyum hangat. Satu tangan kekarnya serta merta mengangkat tubuh mungil Maisa ke dalam g

