24. Selamat Malam

1256 Kata

"Kenapa diiyakan, Mas?" protesku sengit pada Mas Rashad ketika seseibu yang tadi duduk di sebelahku sudah pergi. Ia tampak tenang meneguk minuman yang tadi sudah kuminum beberapa teguk, seperti tidak merasa risih sedikit pun jika itu bekas mulutku. Lagi pula, kenapa tadi aku mengembalikan minuman sisa itu padanya? Ah, otakku tadi sepertinya sedang ringsek. Namun, dia otaknya lebih ringsek lagi, sudah tahu bekas diterima. "Kenapa memangnya?" Setelah menyelesaikan minumnya, ia menyahut santai seolah tidak terjadi apa-apa. "Mas Rashad 'kan bukan suamiku. Kenapa bilang iya?" "Ya, tidak apa-apa. Lagi pula tidak akan ada yang marah juga 'kan?" balasnya masih santai. "Tapi itu bisa menyebabkan salah paham, Mas?" "Siapa yang akan salah paham?" "Ya, orang." "Orang yang mana?" "Ya, orang-ora

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN