Ujian Terberat Aljana
Terik matahari pagi menyinari halaman belakang rumah sakit jiwa, hamparan aspal lapangan basket telah terisi dengan semangat yang tidak biasa. Aljana menatap Atfal yang sedang berlari mengejar bola basket, seragam olahraganya basah oleh keringat. Di tengah keseriusan dan teriakan bercampur tawa, ada semburat harapan di matanya, harapan bahwa olahraga ini bisa menjadi salah satu jembatan penyembuhan Atfal.
Pikiran Aljana terkoyak antara cinta dan rasa takut. Cinta seorang istri yang terus mendampingi, dan ketakutan bahwa suaminya itu mungkin tak pernah pulih sepenuhnya. Peningkatan dosis obat Atfal minggu lalu memunculkan efek samping yang membuat Atfal semakin terasing, dan Aljana tahu bahwa jalan penyembuhan ini penuh dengan ketidakpastian.
Pada detik-detik ketika Atfal menangkap bola dan menatapnya dengan senyum lebar, waktu seolah berhenti. Namun, Aljana menyadari bahwa setiap senyuman itu hanyalah sementara. Bisa jadi, di hari berikutnya, Atfal akan tenggelam kembali ke dalam kabut skizofrenianya—kabut yang telah melanda mereka sejak dia terjebak dalam ajaran sesat dari guru mengajinya.
Sesaat sebelum babak pertama permainan berakhir, Atfal membuat lemparan terakhir. Bola meluncur di udara, menggambar lengkungan sempurna menuju keranjang. Aljana mencoba untuk bertepuk tangan, tetapi tepukannya terhenti saat Atfal tiba-tiba jatuh tersungkur, tangannya meraih kepala, ia berteriak hampir tidak terdengar.
Hatinya mencelos. Ia tahu, ini adalah lengkungan sempurna menuju keranjang. Aljana mencoba untuk bertepuk tangan, tetapi tepukannya terhenti saat Atfal tiba-tiba jatuh tersungkur, tangannya meraih kepala, ia berteriak hampir tidak terdengar.
Hatinya mencelos. Ia tahu, ini adalah awal dari episode lain, sebuah badai pikiran yang tak hanya melukai Atfal tapi juga mereka yang berada di sekitarnya. Aljana bergegas mendekat, berlutut di samping suaminya yang sekarang bergelung di lantai, tangannya meremas ubun-ubun.
"Atfal, sayang, lihat aku," suaranya tetap tenang, meski jantungnya berdebar kencang. Aljana tahu persis apa yang harus dilakukan, berkat semua sesi terapi yang telah mereka ikuti bersama. Ia mengingatkannya pada nafas yang harus diatur, wajah-wajah yang harus diingat, dan suara hati yang harus didengar.
Selang beberapa detik yang terasa seperti jam, Atfal menatapnya, ada kebingungan di matanya, namun kepanikan sebelumnya telah mereda. Perawat segera berada di sisi mereka, mengevaluasi situasi, sementara pasien lain menonton dari kejauhan, diliputi oleh keheningan yang tiba-tiba.
Setelah meyakinkan bahwa Atfal telah kembali tenang dan bisa berbicara, Aljana meraih tangannya yang dingin. "Kamu baik-baik saja, sayang. Aku di sini." Kata-katanya adalah mantra yang telah berulang kali mereka ucapkan di momen-momen serupa.
Namun, di benaknya, pertanyaan berputar-putar: Apakah ini akan terus berlanjut? Bisakah ia menjaga anak-anak mereka dari kekacauan yang tak dapat diprediksi ini? Saat itulah ia menyadari bahwa sabar dan kejujuran harus menjadi kompasnya dalam mengarungi laut kehidupan yang bergelombang ini.
Matahari semakin tinggi di langit, dan sesi permainan basket mereka yang seharusnya menyenangkan telah berubah menjadi pengingat akan realitas yang sulit. Aljana membantu Atfal berdiri, lengan mereka saling mengait erat. Ketika mereka bersiap meninggalkan lapangan, mata Aljana tertuju pada pagoda kecil tempat meditasi di pojok halaman. Sejenak ia berpikir, mungkin inilah saatnya untuk mencari jalan lain, sebuah kekuatan yang lebih besar dari apa yang bisa ditawarkan obat dan terapi - mungkin dukungan spiritual kini menjadi kebutuhan, bukan hanya pilihan.
Seiring langkah mereka menuju bangunan utama rumah sakit jiwa, Aljana menyampaikan tekadnya kepada Atfal, "Kita akan mencari panduan yang lebih, Atfal. Kita akan menemukan ketenangan dan kekuatan bersama."
Atfal sekadar mengangguk, pikirannya tampak jauh. Dan di sana, di ambang pintu rumah sakit, dengan suara orang-orang di kejauhan, Aljana merasakan tekadnya menguat. Ia akan menghadapi apa pun yang menanti, demi Atfal, dan demi keempat anaknya. Dia tak dapat menyerah, karena ia adalah batu karang di tengah lautan.
Saat mereka lenyap di balik pintu, sebuah desas-desus muncul di antara perawat: Atfal akan diberi kesempatan keluar dari rumah sakit untuk masa percobaan. Kabar itu menimbulkan rangkaian emosi dalam diri Aljana yang tidak akan temui jawabnya hari itu.