Setelah sadar, aku sudah berada di rumah. Kedua indra penglihatan ini kubuka secara perlahan, tampak dengan samar banyak kerabat yang berdatangan. Beberapa dari mereka menunjuk ke arahku. "Itu... itu... sadar," ucap salah seorang memberitahu Mama. Mengingat apa yang telah terjadi pada diri ini, bahwa wajahku miring, butiran bening pun keluar begitu saja dari sudut mataku. "Kamu kenapa?" tanya Mama. "Kepala aku sakit." Aku benar-benar tak bisa membendung lagi butiran bening yang mengalir. "Tadi habis pergi ke mana sama Irfan?" tanya Mama. "Tadinya mau ke dokter gara-gara lihat wajah aku udah miring. Pas ngeludah juga miring, nggak kayak biasanya. Rencananya nanti aja bilang ke Mama kalau udah ada diagnosa dari dokter." "Kamu ini kebiasaan! Kalau sakit nggak pernah mau c

