Setelah beberapa lama tak sadarkan diri, pendengaranku kembali berfungsi. Aku mendengar suara orang-ora.g di dalam kamar. Aku berusaha keras membuka mata, tetapi tak bisa. Mencoba berteriak memanggil Mama, tapi bibirku kelu. Aku berusaha menggerakan jari. Setelah berhasil, aku coba meraba sesuatu yang bisa terjangkau oleh jari. Lalu, aku merasakan ada seseorang duduk di samping dan bersandar pada tempatku berbaring. Aku berusaha sekuat mungkin membuka bibir untuk memberi isyarat bahwa aku ingin Mama mendekat. Om Rahmat pun membangunkam Mama, yang sedang tertidur pulas. Setelah Mama bangun, beliau mendekat padaku. "Kenapa, Sayang? Septi mau apa?" tanya Mama terdengar panik. Aku berusaha sekuat mungkin untuk membuka mata dan mulut ini, tetapi tak bisa. Aku hanya bisa mngeluarkan

