Setelah membereskan semua biaya administrasi perawatan dan rawat inap Vanessa. Vio melangkahkan kakinya dengan berat. Perasaannya sekarang bercampur aduk antara sedih, kecewa, bahagia menjadi satu. Perasaan sedih dan kecewa karena Vanessa terlalu bodoh mengambil jalan pintas dengan bunuh diri dan bahagia karena nyawa Vanessa dapat diselamatkan. Begitu tiba di depan pintu ruang rawat Vanessa. Vio menghembuskan napasnya. Dia harus tetap tegar tanpa terlihat sedih. Semua dilakukannya agar bisa membuat Vanessa memiliki semangat hidup. Begitu masuk dia langsung menghampiri Vanessa yang terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit. Air matanya terjatuh di pipinya dengan perlahan memegang tangan Vanessa. “Vanes, kenapa kamu jadi begini?” Vio menangis sesenggukkan di depan Vanessa. “Kamu jang

