Bab 1. 500 Ribu
“Kamu pakai saja uangmu dulu, nanti Mas ganti pas gajian. Mas nggak bisa kalau setiap minggu harus bantu rumah kita. Kamu kan tahu, Mas juga baru menikah dan banyak sekali urusan rumah tangga yang harus Mas penuhi!”
Ann menghela napas perlahan. Perasaannya makin tak karuan, perutnya mulas dililit cemas setelah membaca balasan pesan dari Faris, kakaknya.
Perlahan ia membuka aplikasi m-banking untuk melihat sisa saldo—sisa gaji yang harus ia pertahankan sampai akhir bulan nanti.
“Lima ratus ribu?! Ck! Ngadi-ngadi banget ini hidup! Gimana mau bayar listrik?!” gumam Ann cemas sekaligus sebal melihat angka yang tertera di layarnya.
Lima ratus ribu mana cukup untuk membayar tagihan listrik rumahnya yang besar? Biayanya bahkan sering kali lebih besar daripada gaji bulanan yang ia dapatkan. Sudah hampir setahun belakangan ini kondisi keuangannya benar-benar kusut.
Jika saja keuangan orang tuanya tidak kacau, ia tentu tidak perlu menanggung semuanya sendirian. Padahal keluarganya bukan orang susah—ayahnya mantan pejabat tinggi di perusahaan BUMN. Seharusnya mereka hidup baik-baik saja.
Belum sempat ia meredakan rasa gelisah, ponselnya berdering nyaring hingga membuat Ann hampir melompat dari tempat duduknya.
“Ya, Pak?” sapa Ann cepat begitu mengangkat telepon dari Pak Ridwan, atasannya.
“Ann, saya masih di jalan, sepertinya nggak bisa on time untuk meeting siang ini. Coba kamu saja yang berangkat, Pak Rex cuma butuh dijelaskan soal COGS yang sudah kita buat. Dia ada lunch meeting dengan vendor lain, jadi kamu susul saja ke sana. Nanti saya kirimkan nama restorannya.”
“Baik, Pak,” jawab Ann cepat sambil meremas ponselnya erat-erat.
Duh, presentasi budget lagi! Kenapa sih hari ini apes banget?! keluh Ann sesaat setelah menutup telepon.
Sebagai karyawan kroco, ia sebenarnya hanya ingin menjadi notulen saat meeting, bukan ikut menjelaskan pekerjaan atasannya. Walau berstatus sebagai sales, Ann sebenarnya sangat introvert. Bertemu banyak orang selalu menguras energinya.
“Ann! Ayo cepat berangkat! Pak Rex sudah sampai di restoran,” tegur Ivan, seniornya, membuat Ann makin lemas.
“Mas … kenapa nggak Mas Ivan aja yang jelasin ke Pak Rex? Aku takut salah…,” gumam Ann setengah memohon. “Aku belum pernah ketemu Pak Rex. Kalau sekelas direktur kan seharusnya Pak Ridwan atau Mas Ivan yang meeting.”
“Gak bisa, jam dua siang nanti aku ada online meeting dengan perusahaan pipa untuk instalasi proyek kita. Hari ini kita memang harus bagi tugas. Tenang saja, Pak Rex itu orangnya baik kok.”
Mendengar ucapan Ivan, Ann hanya bisa menghela napas panjang. Ia komat-kamit berdoa sembari membereskan tas dan laptop yang akan dibawa. Ia berharap semuanya akan baik-baik saja.
***
Ann menatap restoran fine dining di hadapannya. Perlahan ia melangkah masuk dan langsung disambut oleh seorang pelayan.
“Hmm, atas nama Pak Rex,” jawab Ann saat pelayan menanyakan reservasi tempat.
“Silakan ikuti saya, Mbak. Pak Rex sudah menunggu di dalam,” ucap pelayan itu sopan seraya mengantar Ann ke ruangan VIP.
Pelayan mengetuk pintu lalu membukanya perlahan. Di dalam, terlihat dua orang pria sedang duduk menyantap hidangan sambil berbincang serius—seorang pria paruh baya dan seorang pria muda berusia pertengahan 30-an. Ann tertegun sejenak, berusaha menebak mana yang bernama Rex.
“Selamat siang, Pak Rex. Perkenalkan saya Ann Nora, saya menggantikan Pak Ridwan untuk meeting siang ini,” sapa Ann sopan pada pria paruh baya.
“Ehem. Yang namanya Rex itu saya,” potong pria muda di sebelahnya.
“Oh! Maafkan saya!” jawab Ann gugup, rasanya malu setengah mati.
“Nggak apa-apa, duduklah,” suruh Rex datar.
Ann bergegas duduk di antara mereka.
“Kamu mau pesan sesuatu?” tanya Rex menawarkan makanan dan minuman saat pelayan masih berdiri menanti di belakang Ann.
“Ah, tidak usah, Pak. Saya air putih saja,” jawab Ann canggung. Belum apa-apa ia sudah kena mental karena salah mengenali orang.
Rex pun memesankan air mineral untuk Ann.
Tak lama setelah pelayan keluar ruangan, pria paruh baya itu berpamitan pada Rex.
“Aku pamit dulu. Kamu sudah harus meeting, kan?” ucap pria itu berdiri, lalu berpamitan pada Rex dan Ann.
Ann ikut berdiri refleks dan kembali duduk begitu pria itu pergi. Entah mengapa, rasa gugupnya makin menjadi-jadi saat ditinggal berdua saja dengan kliennya ini.
Rex terlihat dingin dan serius. Tanpa basa-basi, ia langsung mencecar banyak hal tentang pekerjaan mereka. Ann bahkan tak berani menatap wajah Rex dan terus berfokus pada layar laptop demi menjelaskan anggaran proyek yang akan ditawarkan.
Presentasi yang sebenarnya hanya berlangsung 30 menit terasa bagai 3 jam bagi Ann. Rex sosok yang sangat detail; ia tak segan memotong dan mempertanyakan ulang poin-poin budget yang sudah Ann jelaskan.
“Ck! Saya nggak mau yang seperti ini! Bilang sama Pak Ridwan, saya minta budget dan timeline yang lebih detail!” gerutu Rex, jelas tidak puas.
“Baik, Pak,” jawab Ann berusaha tetap tenang.
“Kita sudahi saja meeting-nya. Nanti biar saya hubungi Pak Ridwan langsung untuk detailnya,” ucap Rex cepat.
“Baik, Pak,” sahut Ann lagi seraya bergegas merapikan laptopnya.
Tiba-tiba ponsel Rex berdering nyaring. Ia melirik layar lalu bergegas keluar ruangan untuk mengangkat telepon tanpa mengucap sepatah kata pun pada Ann.
Ditinggal sendirian oleh Rex membuat Ann menghembuskan napas lega. Ia merasa sangat tegang sepanjang 30 menit tadi.
Namun baru saja hendak berdiri, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dari Pak Ridwan.
“Tolong bayarkan dulu pesanan makan Pak Rex. Nanti kamu reimburse saja di kantor. Soalnya hari ini saya yang ajak meeting.”
BOM!
Pesan singkat itu seketika membuat kepala Ann berdenyut. Ia tak berani membayangkan berapa harga makan siang mewah kliennya itu. Ann berniat langsung ngacir meninggalkan ruangan tanpa berpamitan pada Rex, lalu berpura-pura sudah terlanjur keluar restoran saat membaca pesan Pak Ridwan.
Apesnya, baru saja ia membalikkan badan, seorang pelayan masuk dan menyodorkan map hitam kecil berisi tagihan.
“Silakan dicek kembali pesanannya ya, Mbak…” ucap pelayan itu ramah.
Wajah Ann seketika pucat pasi melihat angka yang tertera di sana. 1,5 juta rupiah! Hanya untuk makan siang dua orang dan segelas air putih milik Ann. Tangan Ann gemetaran saat memegang bon itu.
Bagaimana ia bisa membayarnya?! Jangankan memikirkan reimburse, sisa tabungannya saja tinggal lima ratus ribu!
“Biar saya saja yang bayar.” Sebuah suara mendadak memotong.
Ann menoleh dan melihat Rex melangkah masuk. Pria itu memasukkan ponselnya ke saku celana, menarik sebuah kartu dari dompet, lalu menyerahkannya pada pelayan tanpa memandang bon sedikit pun.
“Kamu masih di sini?” tanya Rex pada Ann yang berdiri mematung.
“Oh … sa-saya pamit ya, Pak,” ucap Ann mencoba tenang walau sebenarnya ia hampir pingsan karena jantungan. “Permisi…”
Ann bergegas melangkah keluar ruangan dan meninggalkan restoran tanpa berani menoleh ke belakang.
Argh, kenapa sih hari ini?! keluh Ann kesal. Kenapa harinya harus dirusak oleh satu hal yang sangat ia butuhkan saat ini: uang.