Mobil angkutan umum berhenti di depan gerbang Universitas Bakti tanpa disuruh, karena supir angkut sudah tau bahwa kampus ini adalah tujuan cewek beralmamater yang duduk di sampingnya.
"Neng, udah sampai kampus," ucap supir angkut pada Gabina yang sedang menutup mata, earpods tersumpal di telinga, Gabina terhanyut dalam suasana sehingga ia tak sadar.
Gabina memandang sekeliling. Terdapat bangunan tinggi bercat putih campur biru. Cewek itu mendesah kecewa, "Ah, cepat banget sampainya. Padahal saya lagi asyik dengar musik sambil menghalu. Bapak pasti bawa mobilnya ngebut, nih, makanya cepat sampai."
"Bukannya kalau cepat sampai bagus, Neng. Kan Eneng jadi enggak terlambat." Supir angkut terheran-heran. Di saat penumpang lain ngomel-ngomel bila angkut ngetem lama, karena ingin cepat-cepat sampai tujuan. Gabina malah sebaliknya.
"Lain kali kalau saya naik angkot Bapak, bawa mobilnya santai aja, pelan-pelan gitu kayak keong," pesan Gabina seraya mengambil selembar uang di kantung seragam untuk diberikan pada supir angkut.
"Makasih ya, Pak! Jangan lupa sama pesan saya." Gabina turun dari angkot. Hal itu membuat supir angkot geleng-geleng kepala, tidak habis pikir.
Gabina dengan kemeja putih yang terlihat lecek dan hampir keluar dari rok hitamnya, sepatu putih lusuh, hanya rambutnya yang masih on point, berjalan hendak memasuki gerbang Universitas Bakti tanpa memedulikan suara Ibu guru yang berbicara di mikrofon, "Ayok anak-anak buat barisan yang rapi. Almamater dan dasi hitamnya dipakai yang rapi. Terus jangan ada yang bercanda kalau enggak mau ditarik paksa berdiri di tengah lapangan."
"Blablabla. Ngomongnya itu lagi itu lagi. Enggak ada kata-kata lain apa. Huh, sampai hapal gue gara-gara keseringan dengar," gumam Gabina bertepatan handphone yang dipegangnya berbunyi. Cewek itu melihat layar, ada pemberitahuan w******p dari Kiran muncul di layar.
Kiran Dewita
Kiran Dewita : Na, lo dimana woi?! Apel pagi sebentar lagi mulai. Tuh, Pak Jalu udah nenteng-nenteng kunci gerbang.
Gabina Farida : Iya, thanks infonya.
Kirain Dewita : Astagfirullah tiga puluh tiga kali gue sama lo, Na!
Gabina tergelak membacanya membuat Pak Jalu menengok dan menemukan Gabina. Langsung saja Pak Jalu berseru, "Ngapain kamu berdiri disana, Gabina?!"
Gabina agaknya terkejut. Seketika kepala Gabina tertoleh.
"Eh, ada Pak Jalu. Gimana kabarnya, Pak? Keluarga di kampung sehat, Pak?" tanya balik Gabina.
Pak Jalu tidak menyahut. Beliau sudah tua, setahun lagi akan pensiun. Maka ia tidak ingin buang-buang sisa tenaganya untuk meladeni Gabina.
Gabina memegang gerbang bermaksud menahan Pak Jalu yang sedang mendorong gerbangnya agar tertutup, "Eitttsss, Pak! Jangan ditutup dulu dong! Ish, saya belum masuk loh ini masih di luar."
Pak Jalu tidak menghiraukannya hingga pekikan super cempreng yang berasal dari Kiran membuat Gabina dan Pak Jalu kompak melindungi telinga masing-masing dari serangan maut Kiran.
"HELLO, PAK JALU! Tahan, Pak, saya enggak pingin belain Gabina, kok, tapi cuma pingin bilang kalau Pak Jalu dipanggil disuruh betulin speaker," ujar Kiran nyata adanya. Ia tidak bohong. Buktinya sekarang salah satu karyawan di Universitas Bakti berteriak menyebut nama Pak Jalu sambil melambaikan tangan meminta Pak Jalu untuk segera kesana.
Gabina tentunya memanfaatkan kesempatan ini. Cewek itu mengambil langkah besar untuk masuk. Keduanya pun menjadi pusat perhatian dari semua mahasiswa dan mahasiswi yang berbaris. Namun tidak ada guru yang memergoki kelakuan Gabina dan Kiran, karena sebagian dosen sibuk pada pelaksanaan apel, apalagi speaker mengalami gangguan. Dan sebagiannya lagi belum datang ke lapangan alias masih di ruangan.
"Kepala lo emang kepala batu ya, Na? Liat, gara-gara lo telat, lo dijadiin bahan tontonan sama teman-teman lo," geram Kiran, memutar kepala Gabina menghadap ke arah lapangan. "Malu enggak lo? Coba, Na, nurut sekali aja sama gue. Ini demi kebaikan lo juga, Na. Kalau lo terus-terusan nakal, makin banyak teman seangkatan kita yang enggak suka sama lo. Terlebih dosen-dosen. Duh, gue takut banget lo kena skors, Na."
Di novel atau film bila ada cowok nakal berwajah tampan yang terkesan bad boy pasti menjadi pemeran utama yang diidam-idamkan, disukai banyak kaum hawa, sangat populer di media sosial dan dunia nyata, juga mempunyai banyak teman. Tetapi kalau yang nakal cewek seperti Gabina itu sudah lain cerita. Gabina seorang cewek yang memang ditakdirkan menjadi cewek nakal meski tidak sepenuhnya nakal. Bisa dilihat dari seringnya ia terlambat datang ke kampus sehingga ia mendapat julukan 'Ratunya Telat', seringnya lupa mengerjakan tugas kuliah, dan seringnya tidur pada saat jam pelajaran berlangsung.
Teman satu angkatan Gabina membenci Gabina dan mayoritasnya perempuan. Kecuali Kiran. Pasalnya, menurut mereka Gabina sok jagoan dengan berpura-pura nakal padahal Gabina lemah, cupu, dan tidak bisa apa-apa. Ah, andai mereka tau kalau Gabina memiliki alasan yang membuat Gabina sering terlambat, lupa kerjain tugas kuliah, dan ketiduran di kelas. Sampai detik ini yang mengetahui alasan tersebut hanya satu orang, yaitu Ibunya, Arumi.
Kiran adalah sahabat sejati Gabina sejak SMA. Menurut Gabina, masih bisa melanjutkan kuliah bersama Kiran yang tetap loyal pada dirinya merupakan sebuah keajaiban dan keberuntungan untuknya.
Kiran menarik Gabina menjauh dari kawasan ini. Sambil lari, Kiran menoleh ke Pak Jalu yang belum juga selesai dengan urusannya.
Gabina yang diseret-seret Kiran pun bertanya, "Ran, lo ngapain narik-narik gue kesini?! Harusnya ke lapangan dong, Ran!"
Tiga detik setelah Gabina bertanya demikian, Kiran berhenti melangkah. Ia berpindah ke belakang Gabina, lalu mendorong punggung Gabina masuk ke dalam toilet.
"Mumpung apel belum mulai, gue mau lo rapihin penampilan lo dulu supaya lo enggak diomelin lagi kayak minggu lalu," papar Kiran. Mengingat apel Minggu lalu Gabina berdiri di barisan paling depan bersama mahasiswa dan mahasiswi yang terlambat tanpa dasi di kerah, kemeja putih yang hampir keluar dari rok hitam seperti sekarang. Kontan dosen-dosen memberikan siraman rohani untuk Gabina.
"Enggak usah repot-repot, Ran," balas Gabina seraya menahan tangan Kiran yang hendak menyentuh kemejanya.
Kiran mendengus kasar, "Kemeja lo berantakan, gue enggak betah liatnya. Kalau rapi kayak rambut lo gini, kan, enak dipandang."
Gabina menghela napas ringan, "Oke, gue rapihin sendiri, Ran."
Sembari menunggu Gabina rapi-rapi, Kiran mengambil liptint warna soft pink di saku rok.
"Bibir lo pucat, pakai liptint sedikit ya, Na. Biar enggak kayak orang sakit," ujar Kiran, dan langsung mendapat penolakan dari Gabina.
"Ran, please deh, lo kayak baru kenal gue aja. Gue enggak---"
"Enggak pernah mau pakai liptint atau sejenisnya," potong Kiran.
"Na, lo itu perempuan, harus terbiasa pakai makeup. Oke kalau lo enggak demen makeup, tapi setidaknya pakai liptint, Na. Mau, ya, Na?" bujuk Kiran menampilkan puppy eyes membuat Gabina tidak tega menolaknya lagi.