bc

Terpaksa Menikahimu

book_age16+
13
IKUTI
1K
BACA
love after marriage
forced
goodgirl
drama
sweet
bxg
campus
affair
sacrifice
Neglected
like
intro-logo
Uraian

Gabina Farida. Arti nama tersebut adalah perempuan yang kuat dan tangguh. Walaupun Gabina merasa serba kekurangan, merasa sering kali disakiti, namun Gabina tetap kuat berkat seseorang yang datang menemui dirinya di suatu tempat hanya untuk sekedar memberitahu arti nama. Aneh memang, tapi siapa sangka, keanehan tersebut justru merupakan awalan kisah cinta Gabina dengan lelaki itu terajut. Hingga Gabina berpacaran dengan lelaki itu, lalu bertunangan, dan menikah di usia muda. Kemudian sebuah pengakuan membuat Gabina berniat untuk mengganti nama agar artinya juga ikut terganti.

Bagaimana nasib pernikahan Gabina dengan lelaki itu? Akankah Gabina akan berpisah dengan lelaki itu? Atau justru Gabina akan mempertahankan rumah tangganya?

Namun ternyata, bukan hanya tentang berpisah atau bertahan. Ada yang jauh lebih menyakitkan, yaitu tentang kepergian untuk selama-lamanya, karena penyakit ganas yang secara perlahan menggerogoti tubuh Gabina.

"Sebelum aku pergi, boleh enggak aku minta satu hal? Tolong, segera cari pengganti aku. Cintai wanita lain, tapi aku mohon..., cintai dia dengan tulus bukan dengan paksaan seperti apa yang aku alami."

chap-preview
Pratinjau gratis
Pengenalan
Secercah cahaya pada pagi hari menelusup masuk ke jendela kamar perempuan pemilik surai panjang yang begitu lurus nan halus. Gabina bangun dari tidur lelapnya setelah berulang kali handphonenya bergetar. Drttt... Drttt... Drttt... Mata bulat Gabina terlihat saat ia membukanya. Sembari menguap, ia memiringan tubuhnya ke kanan, lalu sebelah tangannya terulur guna menggapai benda pipih yang selalu menjadi teman setia Gabina dimanapun Gabina berada. Gabina meraba nakas hingga bertemu handphone. Masih dengan posisi rebahan, Gabina menerima panggilan telepon tanpa membaca nama di layar, karena Gabina yakin orang yang menelepon dirinya pasti dia. "Bangun, Gabina!" pekik seseorang kala sambungan telah terhubung. Gabina spontan menjauhkan handphone dari telinga. "Kiran, suara lo tambah cempreng aja deh," sahutnya tenang. Kiran Dewita---Manusia berjenis kelamin perempuan. Mempunyai wajah semanis gula serta rambut hitam sepunggung membalas dengan intonasi yang meninggi, "Gimana suara gue enggak tambah cempreng coba kalau setiap hari gue harus cosplay jadi alarm supaya lo bangun tepat waktu!" Gabina malah menyengir lebar sampai gigi kelincinya nampak. Dilihatnya jam dinding menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit. Kebiasaan buruk Gabina yang satu itu memang tidak mudah untuk dihilangkan. Padahal sudah ada Kiran si bala bantuan yang tidak pernah absen menghubungi Gabina dari telepon di jam segini agar Gabina tidak terlambat datang ke kampus. "Iya ini gue mau mandi, Kiran," imbuh Gabina. Namun tindakan Gabina tidak sinkron dengan ucapannya. Cewek itu menarik selimutnya hingga puncak kepala dan kembali memejamkan mata. "Mandi apa lo, Na? Mandi kok di kasur, sih?! Cantik-cantik gila lo, Na!" maki Kiran yang seolah-olah dapat melihat Gabina dari jauh. Jangan harap Kiran mudah untuk ditipu. Pokoknya kali ini Kiran mesti membuat Gabina tiba di kampus sebelum apel pagi dimulai. Gabina mendengus kecil, "Ran, lo tau sendiri kan gue di kampus dijuluki cewek apa? Iya udah, berarti gue harus mempertahankan julukan gue, Ran. Enggak boleh di sia-siain." Kiran di seberang sana menghentakkan kakinya kelewat kesal. Ia berteriak jengkel, "Julukan lo julukan jelek, Gabina! Enggak usah bangga! Nih, ya, Na, gue bilangin---" "Aduh, gue kebelet, Ran. Gue tutup teleponnya, ya. Bye, Ran," potong Gabina. Dan suara Kiran hilang seiring sambungan telepon mati. Sekarang Gabina beneran ke kamar mandi, karena perutnya mendadak sakit. Beberapa menit berlalu. Aroma parfum menguar sehabis Gabina menyemprotkannya ke baju sekolah yang dipakainya. Ia tak lupa memoles bedak bayi, lalu memakai softlens hitam melapisi bola matanya. Terakhir, mencatok rambutnya agar semakin lurus. Gabina tak mau rambutnya berantakan walau hanya sedikit. Pyar! Bunyi gelas jatuh dan pecah menghantam lantai menyambut Gabina yang baru saja berpijak di dapur. Cewek itu berlari terbirit-b***t menghampiri wanita paruh baya yang duduk di kursi roda dengan pandangan kosong. "Kenapa lagi, Ma?" tanya Gabina. Ia menatap wajah pucat pasi Ibunya yang diketahui bernama Arumi. Sedangkan yang ditanya cuma diam, enggan menjawab meski hanya sepatah kata. Gabina menghela napas lelah. Arumi masih sama. Sebetulnya pertanyaan Gabina hanya bentuk formalitas belaka yang ia sudah tau tidak akan ada jawabnya. Tiap kali Gabina keluar kamar, Arumi pasti sedang melamun dan tak jarang menjatuhkan benda-benda berbahan kaca atau yang lainnya. Yang selalu membereskan pecahan tersebut ialah Gabina, sebab tidak ada pembantu rumah tangga yang bekerja disini, di rumah sederhana yang Gabina tempati bersama Arumi. Gabina berjongkok, menaruh kedua tangan di atas paha Arumi. Karena tak mendapat berontakan dari Arumi, Gabina mengulum senyum tipis, "Mama udah sarapan belum?" "Belum." Arumi menjawab pelan, nyaris tak terdengar, juga tanpa membalas tatapan Gabina. "Mama mau sarapan pakai apa? Bubur langganan Mama kayaknya hari ini enggak jualan. Nasi uduk aja mau enggak, Ma?" tawar Gabina. Tatapan Gabina untuk Arumi menunjukkan betapa ia sayang wanita itu. Arumi menggelengkan kepalanya, "Mama enggak mau sarapan. Udah sana kamu berangkat, jangan sering telat nanti Papa kamu marah." "Mama...," panggil Gabina lirih. Digenggamnya jemari Arumi. "Papa udah enggak bareng kita. Mama enggak boleh sebut-sebut nama Papa lagi, Ma." "Kenapa enggak boleh?" tanya Arumi dengan penuh penekanan. "Papa kamu itu Suami saya, Gabina!" Dada Gabina teramat sesak mendengarnya. Ia mengusap-usap lengan Arumi seraya berkata, "Iya, Ma, dulu Papa emang Suami Mama, tapi sekarang keadaannya udah beda, Ma. Mama harus sadar. Jangan terus-menerus stuck di satu titik. Ayok, Ma, kita sama-sama bangkit." "Enak kamu ngomongnya, yang jalanin kan Mama," sahut Arumi, Gabina dibuat membisu oleh perkataannya. Kemudian Arumi mulai menggerakan kursi rodanya. Arumi pergi, meninggalkan Gabina yang mematung. *** Gelak tawa yang menggelegar terdengar di rumah mewah milik salah satu keluarga terpandang di Jakarta. Namun sayangnya, mereka mempunyai setumpuk hutang di bank, dan dengan tak tahu dirinya mereka bersikap santai mengabaikan hutang-hutang tersebut. Dari luar memang keluarga mereka terlihat yang paling harmonis. Padahal, di dalam isi pikiran mereka selama dua puluh empat jam selalu tentang bagaimana cara melunasi hutang-hutang yang ada. Masalahnya, perlu uang ratusan juta bahkan sampai miliaran supaya hutang mereka lunas. Alviando Putra Halim. Cowok berhidung mancung, rambut bermodel ivy league, serta kulit putih dan postur tubuh jangkung mencetuskan ide pertama untuk bolos sekolah pada seorang anak kecil perempuan yang duduk di sampingnya memakai seragam putih merah dan atribut lengkap, karena dia akan mengikuti upacara bendera yang rutin dilaksanakan pada hari senin. "Kalau aku bolos, entar yang bawa bendera siapa? Enggak ah, Bang, aku enggak mau bolos. Soalnya gini, Bang, teman-teman sekelas aku udah nunggu penampilan aku pas di lapangan sebagai pembawa bendera. Pasti aku keren banget," cerocos Sisy---Keponakan Alviando yang memanggil Alviando bukan Om, tetapi Abang, sesuai kemauan Alviando. Bagi Alviando, dari segi wajahnya yang mirip Dewa Yunani dan umur delapan belas tahun, sangatlah tidak cocok bila Sisy memanggil dirinya dengan sebutan Om. "Jangan ngajarin yang enggak bener ke Anak gue, Do," ucap Nada---Kakak semata wayang Alviando. Ia termasuk dalam jajaran Ibu-ibu muda sosialita. Hobinya ikut arisan sana sini, belanja barang-barang branded di Mall, berlibur ke luar negeri bersama teman-temannya. Singkatnya, hobi Nada adalah menghambur-hamburkan uang. Alviando tertawa sumbang. Ia mencodongkan tubuhnya mendekati Nada yang duduk di hadapannya, lalu berbisik, "Enggak apa-apa dong. Kan Anak lo udah terlanjur enggak bener sama kayak lo." "Maksud lo apa?!" Nada memelolotkan matanya tajam. "Lo paham pasti maksud gue," sahut Alviando. "Oke, gue jelasin lagi biar lo tambah paham. Lo enggak bener karena lo punya hobi foya-foya dan lo---" "Bacot lo!" sela Nada membuat orang tuanya menatap bingung ke arahnya. "Nada, ada apa, sih? Tadi barusan kita ketawa-ketawa, sekarang kok kamu marah-marah?" tanya Gracia---Ibunya Nada dan Alviando. "Dari kecil kalian berdua selalu kayak Tom & Jerry. Buat akur aja susah banget," komentar Dito Halim---Ayahnya yang tumben pagi ini berada di ruang makan untuk sarapan bersama. Sebab biasanya Dito sudah berangkat kerja, lalu pulang larut malam atau bahkan lembur. "Enggak usah baperan gitu." Alviando menoel dagu sang Kakak, disusul cengiran khas yang terlihat menyebalkan di mata Nada. "Iya udah, gue minta maaf," ucap Alviando seraya menjabat tangan Nada. "Daripada enggak dapet uang jajan dari lo. Walaupun cuma lima belas ribu, tapi lumayanlah buat beli bensin," lanjutnya. "Enggak ada uang jajan," cetus Nada. "Duit gue abis buat bayar arisan, laki gue belum transfer." "Ya elah, udah tau bensin gue sekarat!" Alviando menggebrak meja pelan, namun cukup bisa membuat meja makan bergetar karenanya. "Alviando," panggil Dito menginterupsi. Alviando berpaling melirik Dito. Cowok itu mengacungkan tangan, "Saya." "Abang Alviando kayak murid yang lagi diabsen sama gurunya, dan gurunya itu Kakek. Hihihi," sambar Sisy cekikikan. Dito tersenyum tipis pada Sisy. Kemudian fokus kembali pada Alviando, "Kamu duduk yang bener, cepetan makan nasi goreng-nya, terus berangkat Papa yang antar." "Ha? Apa? Alviando dianterin ke kampus sama Papa?" beo Alviando. Ia sangat terkejut mendengar perkataan Dito. Tapi bukannya senang, Alviando malah kesal dan langsung melayangkan protes. "Apa-apaan, sih, Pa! Alviando bukan Sisy, Alviando bukan anak SD! Pokoknya Alviando enggak mau dianterin Papa!" "Hey!" teriak Gracia tidak suka bikin Alviando menoleh. Gracia menatap serius Alviando, "Kalau ngomong sama orang tua jangan pakai urat. Pelan-pelan bisa, hmm?" Alviando menghela napas. Ia mengangguk sekali, "Bisa, Ma. Maaf, ya." "Alviando, barusan kamu yang ngomong sendiri bensin motor kamu sekarat. Lebih baik Papa yang antar kamu untuk menghindari motor kamu mogok di tengah jalan," kata Dito tenang, namun tetap tegas. "Tapi Alviando malu, Pa. Takutnya Alviando diledekin anak manja sama teman-teman kalau mereka liat Alviando datang ke kampus bareng Papa," balas Alviando jujur sambil memainkan garpu serta sendok yang akan digunakan untuk makan nasi goreng. "Bilang aja lo pingin samperin cewek dulu, Do," celetuk Nada. Nada menambahkan, "Ngerti gue mah, Do. Gue juga pernah mengalami masa cinta. Cinta bersemi di kampus. Hahaha." Alviando senyam-senyum. Dilahapnya nasi goreng buatan Gracia yang begitu nikmat sambil membayangkan wajah cantik pacar barunya yang beberapa jam lalu ia tembak, setelah kemarin dengan entengnya ia memutuskan hubungan dengan cewek cantik juga plus populer anak cheerleader dan mengambil jurusan yang sama seperti dirinya. "Eh, ada duit nyempil di saku celana gue. Nih, duitnya buat lo, Do. Ingat, buat isi bensin bukan buat jajanin cewek lo," kata Nada sambil menyodorkan selembar uang dua puluh ribu kepada Alviando. "Thanks, Kak." Alviando tersenyum semringah dan menerima uang itu. "Tadi apa kata lo? Jajanin cewek? Hahaha..., yang ada, tuh, cewek yang jajanin gue, Kak. Seumur-umur gue pacaran, gue enggak pernah keluar duit," lanjutnya diselingi tawa. Mendengarnya membuat Dito menatap Alviando lagi. Kali ini berupa tatapan yang sulit diartikan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
201.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.6K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
3.1K
bc

Kali kedua

read
221.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.2K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.0K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook