Part 2. Pertemuan

1382 Kata
Rutinitas pagi yang biasa Sila lakukan setelah subuh, adalah jogging di lingkungan sekitar rumah. Sebagai seorang Dokter, ia sadar betul arti kesehatan, serta bagaimana cara menjaga kesehatan. Apa yang terjadi pada seseorang di masa lalu, selalu menjadi pemecut bagi dirinya agar tetap mementingkan kesehatan. Sesibuk apapun, dia akan meluangkan waktu untuk sekedar berolah raga. Kemarin, setelah berbincang dengan Dokter Bram tentang kondisi seorang pasien yang sempat ia tangani, Dokter Bram meminta Sila pulang. Pria itu berkata, dia yang akan memantau kondisi korban kecelakaan tunggal tersebut. Tentu saja dia berterima kasih kepada sang dokter senior, karena pada akhirnya ia bisa kembali berada di klinik, dan melayani beberapa pasien yang datang hari itu. Termasuk seorang Ibu yang sempat menghubunginya. Ia tak segan menghubungi kembali pasiennya untuk datang kembali ke klinik. Sila berhenti di taman komplek. Melakukan beberapa kali peregangan sambil berusaha mengais udara pagi yang masih cukup segar. Pikirannya melayang pada seorang pasien tua yang mendatangi kliniknya semalam. Seorang wanita yang sudah berusia 65 tahun tersebut menyatakan keinginan untuk mengenalkan Sila pada anak sulungnya. Wanita tua itu bercerita banyak mengenai sang Sulung. Sulung dari empat bersaudara yang ia bilang terlalu sibuk bekerja, hingga tidak memikirkan umurnya yang sudah sangat matang untuk berumah tangga, keluh sang Ibu. Sila tersenyum saat mengingat raut wajah berseri wanita tua itu. Ia begitu bersemangat menjadi makcomblang sang sulung, meskipun Sila sudah berusaha menolak dengan halus. Bukan ia tidak menghargai niat baik Ibu itu, tapi hatinya memang masih belum bisa merelakan seseorang. Seseorang yang masih sering menemani mimpi-mimpinya. Sosok itu pula yang selalu membuatnya bersemangat menjalani hari-hari meski tanpa kehadirannya. “ Dokter Fai … “ kedua tangan yang terjalin, dan masih ia rentangkan keatas itu turun perlahan. Sila tersenyum memandang siapa yang sedang berjalan perlahan dengan di gandeng seorang pria dewasa. Senyum semringah menghias wajah tuanya. Sila meringis dalam hati, panjang umur wanita tua itu. Baru saja ia memikirkannya, dan sekarang sosok tersebut sudah berdiri di hadapannya. Wow … dunia memang sekecil itu kan. Lihatlah wajah bahagia wanita itu yang seperti baru saja memenangkan hadiah satu milyar. “ Kenalkan … ini sulung saya. Namanya Banyu.” Pria dewasa itu tersenyum kecil. Tingginya sekitar 180 cm, wajahnya bisa dibilang tampan meskipun tidak setampan Hesa. Karena bagi Faisila, Hesa adalah pria tertampan di dunia. Terlihat sekali pria dihadapannya itu sudah begitu matang. Bulu-bulu halus yang menghias seputar dagu, serta kumis tipis yang tumbuh membuatnya terlihat sexy. Rambutnya sedikit gondrong. Tubuhnya tegap dengan perut yang bukan sixpack iya yakin, tapi tidak bisa dikatakan buncit. Sang Ibu yang melihat bagaimana Faisila mengamati sulungnya terkikik hingga membuat Sila tersentak. Ia meringis ketika menyadari keteledorannya. Mengamati seseorang di depan sang Ibu. Sungguh memalukan. Pipi yang lumayan putih itu bersemu merah menahan malu. Ingin rasanya Sila menghilang dari hadapan keduanya saat itu juga. Seandainya ia memiliki kemampuan tersebut. “ Saya Banyu … “ Uluran tangan pria dihadapannya membuat Sila mau tak mau segera menyambut. Dia tidak ingin dikatakan tidak sopan. “ Faisila.” Sebut Sila memperkenalkan namanya. “ Dokter Fai ini yang semalam memeriksa Mama. Gratis. Dia tidak memungut biaya sepeserpun.” Puji sang Ibu. Sila hanya tersenyum kikuk, tidak tahu harus merespon seperti apa. Sang Ibu sedang menjalankan misi memuji dirinya dihadapan sang putra yang hanya menanggapi dengan tersenyum. Manis juga senyumnya … batin Sila dalam hati. Cepat-cepat ia membuang pikiran apapun terhadap pria itu. Hanya senyum Hesa yang sempurna bagi Faisila. “ Biasa olah raga di sini Dok ?” tanya Banyu memcoba membangun pembicaraan. Akan aneh jika mereka bertiga hanya berdiri tanpa ada percakapan bukan ? Sila mengangguk. “ iya … biasa habis jogging, ke sini sebentar sebelum pulang. Pemandangannya lumayan untuk membuang stress.” Banyu mengangguk membenarkan. Ia mengedarkan pandangan matanya ke sekitar taman. Meskipun ia sudah kembali ke Jakarta dua tahun belakangan, namun karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya, ia sama sekali tidak tahu ada taman dengan penataan yang cukup bisa menyegarkan mata. Kalau bukan karena sang Mama, ia lebih memilih melaju di atas treadmill dari pada berjalan ke sekeliling komplek. Mungkin nasibnya sedang baik saat ia menuruti sang Mama, hingga bisa bertemu seorang Dokter muda yang cantik. Kemana saja dia selama dua tahun terakhir hingga tidak tahu ada Dokter semenarik wanita di hadapannya yang berkeliaran di sekitar komplek setiap pagi. Sepertinya untuk sementara ia akan membiarkan treadmill yang ada di rumah tertutup plastik kembali. Ia tersenyum dalam hati. Sila merasa canggung berada diantara Ibu, dan anak tersebut. Si Ibu yang tak berhenti tersenyum, dan sang anak yang mencoba menghidupkan suasana dengan mengajak berbincang. “ Ibu saya banyak cerita tentang Dokter. Jaman sekarang tidak banyak Dokter yang mau bekerja dengan cuma-cuma hanya untuk menolong orang lain.” Banyu masih berusaha mencairkan suasana yang masih terkesan kaku. Sila tersenyum kecil. “ Saya salut pada Dokter.” Banyu tersenyum diujung pujiannya. Memang apa lagi kata-kata yang cocok untuk memuji seorang Dokter seperti Faisila ? yang mendedikasikan kemampuan yang ia miliki untuk mereka yang membutuhkan.  Sila tertawa. Tawa yang semula tidak di sangka akan muncul dari bibir wanita dihadapannya. “ Jangan terlalu menyanjung saya. Saya takut takabur.” Suasana akhirnya mencair. Baik Banyu maupun sang Ibu bisa ikut tertawa lepas. Mereka akhirnya berjalan beriringan menuju pinggir taman, tempat beberapa pedagang menjajakan dagangan mereka. Mereka bertiga menikmati bubur ayam pagi itu sebelum akhirnya berpisah untuk melanjutkan aktivitas masing-masing. Sila kembali berlari kecil menuju rumahnya. Dia harus segera membersihkan diri, kemudian bersiap kembali menjalankan perannya sebagai seorang Dokter. Sesampainya di halaman rumah tak berpagar tersebut, sudah ada dua orang Ibu yang duduk di teras rumahnya. Sila menggeleng saat matanya melihat apa yang ada dipangkuan kedua Ibu tersebut. Mereka mengangkat keranjang yang semula mereka pangku, kemudian berdiri begitu melihat Sila memasuki pekarangan. Selalu seperti ini. Mereka datang ke rumah untuk memberikan Sila makanan. “ Sudah lama Bu ?” tanya Sila setelah mendekat. Keduanya tersenyum kemudian menyerahkan keranjang bawaan mereka. “ Belum kok Dok. Ini ada makanan buat Dokter Fai. Semoga suka. Terima kasih atas bantuan Dokter. Anak saya sudah sembuh.” Kata salah satu Ibu. “ Ini saya panen sendiri dari kebun Dok. Mangganya manis. Di makan ya Dok. Alhamdulillah Bapak saya sudah lebih baik sekarang.” Sila tersenyum sembari menerima keranjang-keranjang tersebut. Ia tidak mungkin menolak kebaikan mereka. “ Terima kasih banyak Bu. Sebenarnya tidak perlu repot-repot begini. Saya Ikhlas membantu.” *** “ Dokter Fai … ada yang cari.” Kepala suster Mera melongkok ke dalam ruangan yang memang Sila biarkan terbuka. Belum juga Sila membersilahkan, seorang Ibu paruh baya melangkah masuk kemudian mengangguk kecil. Sila tersenyum. Ia masih ingat wajah wanita yang sekarang melangkah mendekati mejanya. “ Silahkan duduk Bu.” Dengan sopan Sila mempersilahkan wanita tersebut untuk duduk. Senyum di wajah yang masih terlihat cantik meski usianya Sila perkirakan sudah mencapai 50 tahun tersebut mengembang. “ Saya mau berterima kasih karena Dokter sudah membantu putra saya.” Sudah 3 hari sejak kejadian kecelakan tunggal yang menimpa putra sang Ibu. Sila bahkan sudah melupakannya karena pasien tersebut sudah diambil alih Dokter Bram. “ Itu sudah tugas saya Bu. Tidak perlu berterima kasih. “ Si Ibu menggeleng keras. Yang dia dengar dari perawat yang sempat merawat sang putra, ketika itu Dokter yang berjaga di IGD sedang melakukan operasi sehingga sang perawat memanggil Dokter muda di hadapannya. “ Putra saya juga ingin berterima kasih secara langsung kepada Dokter. Hanya saja … “ wanita itu menatap mata Dokter di depannya. “ Kaki kanannya masih di gips jadi dia belum bisa menemui dokter.” Ia masih mengamati raut wanita muda tersebut. “ Jika Dokter tidak keberatan, bisakah melihatnya sebentar ?” tanya sang wanita paruh baya dengan tatapan penuh harap. Sila melirik jam dinding yang tergantung, kemudian mengangguk. Dia masih punya waktu 15 menit sebelum jatah visit para pasiennya. Ia segera beranjak, mengajak sang wanita paruh baya yang tersenyum senang keluar ruang kerjanya. Si Ibu yang akhirnya memperkenalkan diri bernama Raya tersebut, membawa Sila menuju lantai 10 tempat ruang VIP berada. “ Di sini ruang rawat putra saya Dok.” Raya berhenti di depan ruang bernomor 25 A. Sila segera membersihkan tangan dengan handsanitizer. Hal yang sama di lakukan Raya sebelum perlahan membuka pintu ruang rawat tersebut. Raya menggeser tubuhnya ke samping untuk mempersilahkan Dokter Faisilla masuk. Sila tersenyum, kemudian melangkah memasuki ruangan. Senyumnya mendadak lenyap seketika, tubuhnya berdiri tegang selang dua langkah dari ambang pintu. Pria dengan kaki kanan memakai gips itu duduk bersandar dengan tatapan lurus kearahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN