Benih Naga
"Drako, lycan, centaur, fairy, duyung semuanya adalah bentuk shape shifter dari manusia yang hebat. Mereka yang menguasai dunia pertarungan. Mereka selalu ditempatkan dalam kedudukan yang istimewa. Kehidupan mereka pasti sangat menyenangkan. Tapi dari semua shifter itu yang paling berbahaya adalah naga elemental," kata seorang lelaki yang membaca sebuah buku bergambar.
"Om, kenapa naga elemental sangat berbahaya?" tanya seorang anak kecil yang kehilangan kedua orang tuanya.
"Karena naga elemental memiliki tiga jenis elemen sekaligus. Sekali serang satu pesawat bisa langsung jatuh," kata pamannya.
"Paman, kalau besar nanti aku ingin jadi naga elemental," kata si kecil.
"Hahaha, ada-ada saja kau ini Arsada," tawa sang paman.
"Memangnya ada apa?" tanya Arsada.
"Ars, kalau sendiri saja tidak punya orang tua. Bagaimana kau bisa menjadi naga elemental?"
"Kan ada Paman."
"Ars, jadi naga elemental itu harus memiliki kakek dan nenek shifter naga semua. Sedangkan kita hanya manusia biasa."
"Oh, begitu. Aku tak mau jadi naga. Aku mau punya ayah dan ibu. Nanti ayah dan ibuku menjadi naga dan aku pun sama."
Paman berdiri dan berbalik arah memandangi langit. Arsada beranjak mengikuti Pamannya. Sebuah bola api sangat besar melesat ke kamar tempat Arsada tidur. Terjadilah sebuah ledakan yang menghancurkan sebagian ruangan itu. Arsada dan pamannya terpental ke belakang. Arsada menyaksikan sendiri tubuh sang paman terbakar karena melindungi Arsada. Ingin rasanya Arsada menangis, tapi lukanya membuat dia tak bisa menangis.
Luka yang ada di tubuh Arsada sangat parah. Tangannya tertusuk besi yang membuatnya tidak berfungsi. Arsada melihat seluruh bangunan di kota yang dulunya indah kini sudah rata dengan tanah. Dirinya masih sempat melihat pertarungan yang dahsyat di malam itu.
Centaur bersama dengan manusia elang dan beberapa fairy bersatu mengumpulkan energinya ke bola yang sangat besar. Di sisi lain drako bersama phoenix juga telah mengumpulkan bola energi api yang sangat besar. Keduanya saling terbang dan bertemu di sebuah tempat. Keduanya pun adu bola energi. Kedua bola energi saling bergesekan dan terjadilah sebuah ledakan yang sangat dahsyat. Ledakan itu menghempaskan semua makhluk yang terbang di atas.
Kota kecil tempat Arsada tinggal menjadi porak poranda. Seluruh bangunan yang ada di sana hancur total. Puing-puing bangunan beterbangan. Sebagian menghantam tubuh Arsada. Kini kedua kakinya sudah tertimpa bongkahan yang besar.
Centaur dan drako sama-sama terpental. Centaur menabrak sebuah pesawat. Tubuhnya terurai halus setelah masuk ke dalam turbin pesawat. Pesawat tersebut kehilangan satu turbinnya dan mendarat mendadak di sebuah gunung. Sedangkan drako menabrak sebuah gedung sebelum terpantul ke tanah.
Si drako dalam keadaan sekarat. Luka parah tekah menghampiri Dia sudah merasakan nyawanya di ujung waktu. Drako dengan penglihatannya menemukan satu orang yang masih itu. Dengan sekuat tenaga dia mengepakkan sayapnya menuju ke seorang anak yang yang bernama Arsada. Tubuhnya kembali menjadi manusia biasa. Dilepaskanlah segala yang menancap di tubuh Arsada.
"Nak, sebentar lagi waktuku akan tiba. Aku titipkan misi ini kepadamu. Aku berikan kekuatanku dan kau sirnakan peradaban ini. Aku mempercayakan ini semua kepadamu," kata drako. Dari dalam tubuhnya keluar sebuah butiran seperti kapsul berwarna putih terang. Butiran itu dimasukkan ke mulut Arsada. Seketika tubuh Arsada memanas dan drako mati kehabisan darah dan energi.
Butiran putih masuk ke dalam tubuh Arsada. Butiran itu berubah menjadi butiran yang lebih kecil lagi seukuran sel darah merah. Butiran tergabung dan terbawa sel darah tersebar ke seluruh tubuh Arsadada. Tubuh Arsada panasnya semakin naik secara tidak wajar sehingga embun yang menempel di tubuhnya bisa menguap. Darah yang semula keluar bisa terhenti. Tulang yang retak bisa sedikit pulih. Tubuh Arsada agak membaik meskipun belum seperti sedia kala.
Sinar mentari sudah terlihat di ufuk timur. Tim investigasi diturunkan untuk menyelidiki kota kecil tersebut. Mereka melakuan sebuah survei. Kota kecil yang dulu indah kini tampak suram. Bangunan yang indah menjadi hancur. Beberapa bagian masih terdapat nyala api.
"Parah sekali kota ini, untung saja tidak terjadi di kota besar," kata seorang tim investigasi.
"Berapa perkiraan jumlah korbannya?" tanya ketua tim.
"Dari data setidaknya 2000 hingga 5000 orang. Itu pun belum termasuk jika ada orang dari luar yang ikut menjadi korban," kata seorang anggota tim.
"Naga elemental memang mengerikan. Untung saja aku ditugaskan untuk menyelidiki saja. Seandainya aku yang ikut melawan naga elemental pasti aku juga akan terkapar sampai tak tersisa," kata ketua tim.
***
Tim medis bersama dengan tentara negara ikut turun tangan untuk mengangkut para korban perang tersebut. Satu per satu dari korban diangkut ke sebuah truk besar.
"Dasar naga elemental. Sudah tahu akan kalah dan mati masih saja nekad untuk melawan. Jika menyerah begitu saja pasti nyawanya akan sedikit lebih lama. Setidaknya masih sepuluh tahun sebelum dikenakan hukuman mati," kata seorang prajurit.
"Sebenarnya malah dia itu pintar. Hanya dengan ratusan orang saja bisa mengalahkan kita yang jumlahnya puluhan ribu," kata prajurit yang lain.
"Benar juga, kita kehilangan ratusan pesawat dan peralatan berat. Sedangkan dia bisa dibilang tidak kehilangan apa-apa," kata temannya.
Salah satu perwira menemukan si kecil di depan drako yang tak bernyawa. Diperiksalah tubuh mungil itu. Arsada membuka matanya dan langsung menangis sambil berteriak, "Paman!"
"Teman-teman, masih ada korban yang selamat!" teriak prajurit itu untuk memanggil orang di atas reruntuhan.
Petugas yang menyebar tanpa pola menjadi tertuju pada seorang prajurit yang menggenggam anak kecil. Seorang dokter hendak memeriksa kondisi Arsada yang masih menangis tak karuan.
"Nak, diamlah. Kami ini yang menyelamatkan kamu. Tenanglah, Nak," kata dokter.
Arsada terus menangis hingga tenaganya habis. Arsada berhenti karena tak kuat lagi bersuara Seorang perempuan datang menghampirinya. Digendonglah tubuh si mungil itu. Arsada bisa tenang seketika merasakan kehangatan sang ibu yang tak pernah dia rasakan. "Kasihan sekali dirimu, Nak. Semoga besar nanti kau bisa memiliki keluarga yang menyayangimu," kata perempuan itu.
"Bu, sebaiknya kita serahkan kita bawa saja anak ini ke panti asuhan," kata temannya.
Semua orang telah pergi dari kota yang mati itu. Arsada yang masih kecil di serahkan ke dalam perawatan panti asuhan Mangun Projo.
***
Empat belas tahun sudah berlalu, Arsada bersama puluhan anak lain hidup di bawah binaan panti asuhan Mangun Projo. Hidup bersama, bermain bersama, belajar bersama, semua aktifitas mereka lakukan secara bersama. Arsada memang sedikit menjauh dari anak-anak yang lain, terlebih lagi dia sadar dirinya seorang naga elemental yang dia idamankan selama ini. Kala waktunya beristirahat telah tiba Arsada sedang duduk di atas atap sebuah gedung. Arsada memandangi langit yang cerah. Cahaya mentari semakin menurunkan suhunya. Di belakangnya datang seorang perempuan. Dengan diam-diam dia mendekati Arsada.
"Arsada, sedang apa kau di sini?" kejut perempuan itu.