Terbang indah diterangi lampu listrik. Bulu emas kemerahan menambah keindahan terbangnya. Cahaya lampu terpantul dengan epiknya. Kamera pengawas menyaksikan kemagahan si penerbang ulung. Dialah sang mentor garuda, Anwu Salika namanya. Bukanlah nama belakang asli tapi pembrian atas jasanya. Salika, nama salah satu bangsawan yang terkenal. Tibalah dia di sebuah tempat yang telah dia tentukan. Seorang shifter yang berelemen api dia kunjungi. belum sempat dia turun di lantai temannya sudah terlihat dari jauh. Terang secepat mungkn dia lakukan.
"Yakito, tunggu!" teriak Anwu.
Suara temannya dia dengar. Berhenti sejak sambil menoleh kebelakang, terlihat sesosok garuda terbang dan tiba dengan segera. "Ya, ada perlu apa," katanya.
"Aku ada sedikit masalah dengan naga elemental yang aku suntikkan cairan untuk mengendalikan Arsada. Anak yang aku suntik membeku dan terjebak di dalam es," kata Anwu.
"Kok bisa?" tanya Yakito.
"Aku tak tahu pasti apa penyebabnya. Intinya Arsada si naga elemental sekarang sedang membeku."
"Baiklah, kita lihat dulu apakah bisa atau tidak." Dengan berkonsentrasi penuh tubuh Yakito menyusut, Bentuknya kini seperti berlian berwarna ungu. Bagian kaki lancip dan seperti paku dan memiliki tiga tangan dengan tiga jari di masing-masing tangannya. Mata berwarna biru indah menyala terang. "Aku sudah siap, ayo berangkat," imbuhnya.
Terbang merendah Anwu mengambil Yakito. Tubuh kecil itu diangkat ke atas garuda. Dengan segera mereka melesat menuju ke penjara.
***
Sesosok makhluk hitam berlari dengan kencang di bawah sorotan lampu. Terkadang kamera pengawas tak mampu mendeteksinya dengan sempurna. Bukan hantu bukan makhluk malam. Apalagi maling yang ingin mencuri barang di sana. Dialah Disti Raven, seorang shape shifter tipe pelarian si harimau kumbang. Sebuah laboratorium dia sambangi. Untung saja masih saja ada seorang yang di sana.
"Pak, apakah efek obat yang tadi diberikan bisa membekukan seseorang?" tanya Disti Raven.
"Seharusnya tak ada reaksi sama sekali. Hanya saja jika ada gabungan sinar antara gamma hijau, ultraviolet, infra merah, dan high bluetooth maka akan mengalami kesakitan yang luar biasa. Bisa-bisa tubuhnya meledak jika dengan frekuensi penuh," kata Karunia.
"Tapi mengapa Arsada malah membeku?" tanyanya.
"Tunggu sebentar, aku akan ke sana." Segara Karunia mengambil beberapa peralatannya. Kotak besar dia bawa. Beberapa alat untuk penelitian dia taruh ke dalam tas tersebut. "Bu Mentor, bisa antar aku ke sana dengan cepat?" tanyanya.
"Naik saja ke punggungku," tawar Disti Raven.
Karunia pun naik ke atas tubuh Disti Raven. Bergerak secepat mungkin, Disti Raven membawa Karunia ke tempat Arsada membeku. Secara bersamaan dari atasnya muncul mentor garuda dengan membawa seorang shifter api, Yakito. Terlihat di depan mereka anak-anak yang sedang berkerumun. Berbagai macam benda mereka gunakan. Tapi tak sedikit pun membuahkan hasil.
***
"Anak-anak, apa yang kalian lakukan?" tanya Anwu.
"Pak, aku sedang berusaha mengeluarkan saudaraku," kata Angelia.
"Anak-anak mengingkirlah. Kami masih mau mencoba mencari permasalahannya," kata Karunia.
Dituruti kemauan Karunia, mereka semua mengingkir dari es besar itu. Alat detektor panas diambil, Karunia memperhatikan suhu naga elemental. "Suhu badannya agak tinggi, masih ada denyut kehidupan. Anak-anak, mungkin situasi akan sangat berbahaya. Kalian semuanya menyingkir saja," kata Karunia.
Semua anak keluar dari penjara. "Pak, bagaimana cara mengeluarkan naga elemental?" tanya Nina dengan penuh kekuatiran.
"Es ini setengah hidup. Jadi untuk mengeluarkannya mungkin dipicu dari luar," kata Karunia.
"Biar aku saja." Yakito dengan tubuh kecilnya dengan mudah masuk ke dalam penjara. Tanpa basa-basi langsung saja menyemburkan api. Kobaran menyala
"Anak-anak, Ibu mohon kalian cepat kembali. Kelas akan segera dimulai," kata Disti Raven.
"Iya, Bu." Angelia dan teman-temannya berbalik arah. Mereka kembali ke asrama masing-masing. Langkah demi langkah mereka gapai. Hingga tiba di tempat masing-masing.
"Pak, bagaimana hasilnya?" tanya Anwu.
"Suhu es naik sedikit. Ada kemungknian es bisa cair sekitar 30 menit. Tapi selama itu bisa jadi Arsada kehabisan napas," kata Karunia. Sebuah keanehan terjadi. Suhu pada kepala naga tiba-tiba naik dratis. "Pak, menyingkirlah!" teraiknya.
"Ada apa?" tanya Yakito.
"Suhunya meningkat tajam," kata Karunia.
Segera Yakito melompat keluar. Api masih saja dia semburkan. Setumpuk makanan tersusun rapi di pinggir. Yakito menguyahnya sebelum akhirnya mengeluarkannya serupa ledakan api. Es mulai retak dan ada juga yang mencair. Api di kepala naga mulai keluar. Mengamuklah Arsada, benda yang ada dikelilingnya. Sedikit demi sedikit es mencair. Tubuh Arsada mulai bisa terbebaskan. Tangan Arsada sudah mulai bergerak, angin mulai terbentuk. Lama kelamaan terjadi badai dan api melengkapi badai tersebut. Kali ini durasinya sangat pendek. Angin api telah padam, es yang mengurung Arsada telah mencair total. Rasa lelah menghampiri tubuh Arsada hingga dia tak kuat lagi berdiri.
"Arsada!" kata Anwu. Tak peduli apa pun yang terjadi dia terbang ke dalam sana. Dipegangnya tubuh yang lemas di lantai tersebut. "Nak, kau tak apa-apa. Apa yang terjadi pada dirimu?" tanya Anwu.
"Lapar," ucap Arsada lirih.
Setumpuk makanan yang berada di luar dimasukkan ke dalam. Dengan tangan lembutnya Disti Raven menyuapi naga elemental. Sedikit demi sedikit asupan nutrisi masuk ke dalam mulut Arsada. Sedikit gerakan mulut naga menelan makanan yang ada. "Arsada, makanlah yang banyak biar kuat," katanya sambil meneteskan sedikit air mata.
"Bu, kenapa menangis?" tanya Anwu.
"Tak apa, aku hanya teringat tentang anakku yang mati dibunuh naga elemental. Dia lelaki seusia Arsada jika hidup hingga kini. Hanya saja nyawanya tak terselamatkan. Arsada mengingatkanku pada peristiwa tersebut," jawab Disti Raven.
"Yang sabar, Bu," kata Anwu.
Sekian lama sudah Arsada makan. Kini suapan dari Disti Raven ditolaknya. "Bu, aku makan sendiri," katanya.
Terhentilah suapan dari Disti Raven. Kini beberapa makanan didekatkan pada Arsada. Tubuh naganya berubah menjadi manusia biasa. Segala makanan dan minuman yang ada di depannya disantap dengan lahap. Air yang ada di depannya diminum sekali teguk. Rebahan di lantai yang basah masih saja dia lakukan. Sebuah jarum menerobos lapisan kulit Arsada untuk mencari sampel tubuhnya.
"Arsada, apa yang kau lakukan tadi?" tanya Anwu.
"Pak, apakah ini cairan saat aku masuk akademi dahulu?" tanya Arsada.
"Kenapa?" tanya balik Anwu.
"Rasanya jauh lebih parah. Sama seperti yang aku rasakan saat masih kecil. Aku ingat itu," jawab Arsada.
"Bukan, ini hal yang berbeda. Seharusnya bahan ini aman untukmu. Dalam kasus ini aku yang bersalah. Karena itu aku mau menembus kesalahanku padamu. Aku mohon untuk berubah dahulu guna penyelidikan," kata Karunia.
Arsada duduk di lantai. Kini dia berkonsentrasi penuh. Tubuhnya kembali menjadi naga elemental. Jarum suntik masuk ke dalam tubuh Arsada. Tersedotlah dara naga tersebut.