Pertandingan demi pertandingan pun telah usai dilakukan. Dari setiap pertandingan yang berlangsung, tak satu pun dari angota tim FDF yang mendapatkan poin. Tak hanya Angelia saja yang dicurangi, tapi juga Janisha. Kini hanya tersisa Antika seorang yang belum bertarung. Gadis tersebut melepaskan segala macam asesoris yang melekat pada dirinya. Perhiasan tersebut ditaruh pada sebuah tas. Yang tersisa hanya kaos dan celana penutup kulit.
“Antika, kenapa kau melepaskan semua benda yang kau kenakan?” tanya Angelia.
“Aku perlu sebuah kelincahan untuk bisa menyerang.” Konsentrasi penuh dilakukan Antika. Gadis tersebut berubah menjadi sesosok kucing berwarna hitam kelam dari ujung ekor sampai ujung telinga. Berat badan menyusut hingga setengah, panjang tubuh tak sampai satu meter. Sebuah persiapan dilakukan.
“Kau kira bisa menang dengan tenaga sekecil ini? Lihat ini.” Seorang perempuan telah siap berhadapan dengan Antika. Dengan konsentrasi penuh, dia berubah manjadi sesosok manusia badak dengan tanduk seperti banteng dan cula bagaikan pisau.
Pertandingan dimulai, Antika memilih untuk melompat mundur terlebih dahulu. Dia mengeluarkan cakar tajam yang ada di tangan kiri. Serangan pun segera dilakukan walau tak mempan sama sekali terhadap tubuh badak. Bulu ditegakkan sehingga bisa menahan tinjuan dari badak. Jegalan yang tak terlihat membuat si lawan terjatuh. Antika pun bergelinding untuk menghindari injakan kaki badak. Sebuah lompatan dilakukan dengan tinggi. Gadis itu kembali menjadi manusia dan langsung melayangkan tinjuan pada badak. Si rival mundur beberapa langkah, Antika kembali menjadi kucing dan melancarkan serangan berikutnya.
“An, apakah teman kita akan menang?” Jika kita kalah maka tim ini akan dibubarkan,” kata Nina penuh kecemasan.
“Tenang Nin, Antika tak akan kalah semudah itu. Kecuali jika dicurangi sepertiku,” kata Angelia.
“Kalau merasa dicurangi kenapa tidak laporkan kepada mentor saja, dengan begini kita tak perlu khawatir untuk dibubarkan,” kata Nina.
“Kenapa harus khawatir? Ini masih awal dan ada dua pertandingan lagi. Yang terakhir nanti kita akan menangkan pertandingan,” kata Angelia.
“Ih, ketua tak bisa mencari jalan aman,” kesal Nina.
Sekian lama bertarung, Antika bisa menjatuhkan si dalam dengan menendng perut saat kembali menjadi manusia biasa. Perubahan wujud dilakukan kembali. Dengan wujud dan kemampuan kucing tersebut, gadis tersebut melompat tinggi dan melayangkan cakaran silang ganda. Hanya saja dia tersengat saat melawan si badak tersebut. Sekali tertendang gadis itu mundur beberapa meter. Untung saja bulu menjadi tegak karena teraliri listrik sehinggan melindunginya dari sebuah benturan. Ekor masih bisa digunakan sebagai peredam laju tubuh sehingga dia tak keluar dari arena. “Oh, rupanya dia curang. Akan aku gunakan cara yang digunakan Angelia,” batinnya.
Si badak mulai bangkit dan beranjak berjalan menuju ke Antika, begitu pula sebaliknya. Gadis dengan wujud kucing bersebut berlari dan menerobos di bawah kedua kaki di badak. Tak ketinggalan cakar ganda dilakukan. Ekor dipergunakan untuk berhenti mendadak. Gadia itu berbalik arah dan berubah menjadi manusia biasa. Sebuah tinju dilayangkan langsung menghantam si badak yang membuat makhluk dengan kulit sangat tebal tersebut langsung terjatuh.
“Bu, dia bermain curang. Beraninya menyerang dari belakang,” kata si badak sambil mengangkat tangan.
“Tidak, ada yang curang di sini. Tak ada larangan menyerang dari belakang,” kata seorang mentor.
Antika tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Sebuah instruksi dia manfatkan sebagai serangan bertubi-tubi. Cakaran demi cakaran dilakukan sebelum dia terkena serangan dan dilemparkan begitu jauh.
Antika secepat mungkin berdiri. Namun kali ini dia sudah telat. Si badak telah sampai dan langsung menyerang secara cepat dan berkesianambungan. Yang bisa dilakukan gadis itu bertahan dan menghindar dengan melompat. Tinjuan tangan tangan si badak berhasil ditahan dengan peredam getaran yang ada di telapak tangan. Begitu juga dengan tendangan yang dilakukan si badak. Meskipun dia terpental, tiada sedikit pun luka yang dialami. Bahkan listrik yang digunkan si rival tak bisa mengalir pada dirinya.
Situasi di sekitar terus dipantau. Antika berkonsentrasi untuk membuat sebuah strategi. Hanya saja dia terlambat karena terlebih dahulu si badak maju dan menyerang. Pertahanan kembali dilakukan sebelum akhirnya melompak dan memegang kedua tanduk yang dimiliki gadis badak.
“Kau tak akan bisa mengalahkanku jika kau hanya mengandalkan kekuatan fisik. Listrik tak akan mempan kepadaku,” kata Antika.
“Jangan sombong kamu,” kata si badak sambil menggerakkan tubuh sekencang mungkin menuju ke Antika.
Antika kembali menjadi manusia biasa. Namun cengkraman yang dilakukan masih saja kuat. Tangan kiri memegang tanduk, sedangkan tangan kanan digunakan untuk memukul wajah si badak. Area dekat cula pisau menjadi sasaran utama. Si badak agak kelimpungan, sebuah tendangakan dilakukan Antika sambil lepaskan tangan kiri. Saat berada di udara, dia berubah menjadi kucing sehingga bisa mendarat dengan sempurna. Gadis itu kembali menjadi manusia dan melakukan tendangan di punggung si badak yang mengakibatkan shifter tersebut terjatuh. Antika kembali menjadi kucing untuk melompat tinggi. Tubuh telah kembali menjadi manusia dan melancarkan sebuah tendangan yang mengakibatkan rasa penderitaan si badak semakin sakit. Dia pun berdiri mengambil jarak beberapa langkah, sesuai dengan aturan yang ada.
Si badak sempat mendengarkan suara orang penghitung. Dia segera bangkit dengan wajah penuh amarah. “Meong! Ke sini kau!” teriaknya.
“Nyam nyam nyam,” kata Antika sangat manja sambil meniru gaya dari kucing.
Antika kembali menjadi kucing dan langsung melompat. Serangan cakar ganda dilancarkan dan tertahan oleh tangan yang memiliki aliran listrik. Namun dia tak merasakan apapun karena listrik terhambat oelh lapissn lilin sebagai bantal peredam yang ada di telapak tangan di meong. Tendangan pun dia lakukan tertubi-tubi. Tangan sudah terlepas, Antika melompat tinggi. Cakar tangan kanan mmpu merobek wajah sebelah kiri si badak. Dia pun mendarat dengan sempurna dan kembali menjadi manusia. Serangan tendang dikombinasikan membuat si badak mundur dan terjatuh. Antika menjadi kucing dan segera melompat. Sebuah cakaran kembali dilakukan. Tubuh di badak kembali tergores.
Sebuah tendangan langsung mengarah pada si badak. Memang tak mampu melukai kulit tersebut tapi tujuan sebenarnya untuk menintu wajah dengankembali menjadi manusia. Namun dia memiliki cara yang lain. Gadis tersebut turun ke lantai. Sebuah serangan terbuka langsung tertuju pada lengan kanan. Adu tinju terjadi dan dia pun tersengat dengan peralatan yang ada di gengaman si badak. Tubuh menjadi kaku, dia terkena tendangan berkali hindr mundur ke belakang. Tubuh sudah bisa digerakkan lagi, dia pun kembali menyerang dengan menjadi kucing. Lompatan tinggi sengaja diarahkan ke tempat yangmungkin terjangkau. Tendangan tenaga badak pun harus diterima dengan sangat sengaja.
Antika kembali mundur beberapa langkah karena aturan yang berlaku. Dia kembali maju ketika si badak telah berdiri sempurna. Serangan pun bisa dilakukan. Namun dia melihat ada sebuah kesempatan agar bisa kalah dengan sangat elegan. Dalam wujud manusia, dia meninju si badak. Tinjuan tersebut tertahan oleh tangan bermuatan listrik. Alhasil, dia tersetrum dan kaku. Si badak langsung memegang gadis itu sebelum diputar di udara dan dilemparkan sangat jauh. Saat di udara gadis itu berubah menjadi kucing sehingga bisa melayang lebih jauh.
Sebenarnya Antika masih belum keluar karena saat dilemparkan masih berada di dalam arena, bahkan sudah sengaja ditambah mundur sedkit. Tak mungkin lagi dia untuk mundur dan menyerah. Cara lain dipilih. Si meong sengaja merebahkan ekor sehingga menyentuh area luar. Gadis itu dinyatakan kalah. Dia pun berpura-pra menyesal sambil menangisi kekalahan. Sedangkan si badak kegirangan atas kemenangan yang diraih. Antika merundukkan kepala sambil tertawa kecil. “Hihihi, rasakan jebakan yang aku buat,” katanya sangat pelan.
“Antika, kau tidak apa-apa?” tanya Nina yang sudah mendekat. Wajah terlinang air mata kekalahan.
“Sudahlah Nin, aku masih punya rencana. Ini baru awal saja,” kata Antika saat kembali menjadi manusia biasa.
“Antika, kau punya rencana apa?” tanya Angelia.
“Rencana yang kau jalankan.” Antika berdiri sambil memegang tubuh yang terkena tendangan. Dia mulai mengambil handuk dan segelas minuman.
“Tunggu dulu, maksudnya apa?” tanya Nina kebingungan. Tiada respon yang diterima karena karena semua temannya sudah pergi begitu saja. “Tunggu aku!”
Seperti yang sudah dijanjikan Valara, Angelia datang ke tempat pertandingan para pria. Dia dan semua anggota FDF ke ruangannya yang telah diberitahu Valara sebelumnya.
Tak hanya mereka saja perempuan yang ada di sana. Meski Vlara terkenal nakal dan kejam, kenyataannya dia memiliki penggemar yang cukup banyak. Beberapa perempuan malah bersorak sorai menyambut penampilan dari shifter dinosaurus tersebut. Nyanyian dukungan kegembiraan menghiasai suasana di sana. Tulisan serta atribut lain tak ketinggalan.
“An, kau ini penggemar musuhnya adik manismu,” sindir Antika.
“Bukan, aku lakukan ini dengan sebuah tujuan. Kau tahu kan anak panti mana punya uang. Karena itu aku ke sini. Selain itu aku mau mencoba seberapa pantas dia untuk melawan adik manisku,” kata Angelia.
“Dasar kakak yang aneh. Seharusnya kau itu menjadi adik,” sindir Nina.
“Ibu yang menyuruhku menjadi kakak, hehehe,” tawa kelicikan Angelia.
***
Di sebuah rumah mewah berkumpul beberapa orang kaya. Perhiasan mewah mereka kenakan. Tak ketinggalan beberapa shape shifter serta orang dengan wajah sangar datang memenuhi tempat tersebut.
“Aku ada sedikit masalah dengan naga elemental. Dia dengah sangat berani menghajar anakku hingga sebulan masuk ke dalam rumah sakit. Aku ingin kalian cari cara untuk masuk ke dalam akademi tersebut dan bunuh naga itu,” kata seorang lelaki yang memakai kalung platinum.
“Bukannya naga elemental sudah musnah dan tak memiliki anak? Bagaimana naga itu bisa tetap hidup? Jika ada lagi maka kemungkinan besar bukannya tak akan ada di sini dan masih terlalu cepat empat generasi?” tanya seorang berwajah penuh dengan luka.
“Tak, yang aku dengar naga tersebut bukan meninggal tapi menjelma menjadi seorang anak dan dia adalah Arsada. Aku tak punya foto atau apapun. Yang pasti masuklah ke dalam tempat itu dan musnahkan naga elelmental sebelum dia dewasa dan kembali sempurna.” Orang tersebut meletakkan setumpuk uang berwana merah.
“Siap, Bos. Perintahmu kesenangan tersendiri bagiku.”