01 : LUX GIGOLO

1980 Kata
Wanita itu mendesah saat pria tampan nan sensual yang menindihnya, menjilat sesuatu yang ada dibawahnya. Sial, dia sudah tak tahan lagi! Benar kata teman-temannya, Lux Gigolo ini amatlah istimewa. Dia sangat paham bagaimana caranya memuaskan kliennya. Dan bukan cuma permainan ranjangnya yang hebat, tapi dia juga bisa mempermainkan fantasi liar para pelanggannya! Dia tengil, kasar, arogan dan bertingkah seolah dia itu adalah si Master. Dan pelanggannya adalah para budaknya. Tapi tak ada yang pernah memprotes hal itu, mereka justru tergila-gila padanya. Mungkin wanita suka sedikit dikasarin, toh setelah itu si Lux bisa membuat mereka merasa didambakan. Itulah pesona Lux Gigolo. Tentu saja selain wajah eksotiknya yang sangat tampan, tubuhnya yang terpahat sempurna, maupun permainan ranjangnya yang amat lihai, juga staminanya di ranjang yang tiada duanya! "Lux," protes si wanita saat Lux menghentikan kegiatan menjilatnya dibawah sana. Dia hampir sampai pada puncaknya. Uh, rasanya gemas sekali! “Belum saatnya, Babe," ucap Lux dengan suara sensualnya. Cup. Dia mengecup bibir wanita itu lembut, lalu berbisik di telinga wanita itu, "aku ingin merasakan nikmatnya mulut indah ini melumat milikku." Biasanya, mana pernah wanita ini bersedia melakukan hal seintim itu, bahkan pada suaminya sendiri! Tapi entah pesona apa yang menempel pada gigolo termahal ini, dia mau saja melakukannya saat disodori benda yang menjadi kebanggaan Lux. "Say, yes Master," perintah Lux sambil menjambak rambut wanita itu. "Yes, Master." Dengan patuh wanita itu mengiyakannya. "Oh, Yess!! You wonderful, Sweetie. Faster!" Lux mendesah dengan suara sensualnya hingga membuat wanita itu makin bersemangat melakukan tugasnya. "Enough!" Mendadak ia meminta berhenti. "Saatnya Master yang bekerja, Babe. Dia sudah cukup dimanjakan. Ready?" Biasanya Lux selalu memakai pengaman, tapi kali ini wanita kliennya meminta mereka melakukannya tanpa alat pengaman itu. Agen Lux sudah meyakinkannya dengan menegaskan kondisi si wanita yang mandul. "Yes, Master," sahut si wanita dengan napas tercekat. Ini petualangan baru baginya, sebelum ini dia tak pernah menyewa gigolo. Dia wanita rumahan yang lurus-lurus saja dan selalu menjaga martabatnya. Tapi malam ini, Lux membuatnya seperti wanita nakal. Dan dia sangat suka sensasi liar ini. Lux menyatukan dirinya. Dia begitu lihai mempermainkan gerakannya hingga si wanita itu kewalahan dibuatnya. Inikah rasanya surga dunia? Nikmat sekali! Tak lama kemudian wanita itu pun mencapai puncaknya. Lux masih bertahan. Namun, dia bisa mengatur ritme percintaannya. Dia melihat kliennya telah didera kelelahan. Lux memacu dirinya dengan cepat, dalam waktu singkat ia mencapai puncaknya. Benihnya menyembur, menyirami ladang calon kehidupan si wanita dan berbagi kehangatan didalam sana. Seperti biasa, Lux berhasil memuaskan kliennya. *** Dari awal Gwen sudah merasa tak nyaman. Sungguh, ini bukan dirinya sama sekali! Di club bersama Nyonya-nyonya sosialita kelas atas yang penggila seks itu. Dari tadi yang dibicarain mereka cuma...apa itu? Lux Gigolo? Ck, namanya murahan banget! Tapi, katanya tarifnya selangit! Entahlah, Gwen tak tertarik padanya. Tapi dia pura-pura antusias saat Nyonya Shasa menunjukkan foto setengah bugil gigolo mahal itu. "Dia hot banget, kan?" tanya Nyonya Shasa sambil menelan ludah. Gwen tersenyum sopan. "Yes, Mem. Dia tampan," jawabnya basa-basi. "Eh bukan cuma tampan. Dia itu luar biasa! Permainannya di ranjang bikin nagih. Belum lagi caranya memperlakukan kita. Ih, bisa bikin kita terbang melayang! Makanya tak heran boking dia itu mahal banget, Sis. Harus inden setengah tahun, lho!" promosi Nyonya Shasa. Gwen mengangguk. Dia udah jenuh dengan topik ini. Tapi bagaimana caranya mengakhiri perbincangan unfaedah ini? Dia juga bingung bagaimana caranya menggiring teman bicaranya ini supaya mau investasi ke bisnis peternakannya. Gwen kekurangan modal. Itu yang membuatnya nekat datang ke club dan ikut arisan gaje ini. Bahkan dia sendiri gak tahu apa yang diperebutkan dalam arisan, tapi yang jelas dia harus bertemu dengan nyonya-nyonya konglomerat ini. Siapa tau diantara mereka ada yang tertarik berinvestasi ke bisnis peternakannya. Yang mengajak Gwen datang kemari adalah Marie, saudara sepupunya. "Nyonya Shasa dari tadi membicarakan gigo....eh, pria ini. Apa dia ada hubungannya dengan arisan kita malam ini?" tanya Gwen iseng. Maksudnya sih setengah menyindir, tapi Gwen justru jadi sorotan perhatian peserta yang lain dan dipandang seperti makhluk dari planet lain. "Lho, Jeng enggak tau, ya? Ini kan arisan Gigolo!" sarkas Nyonya Ana. Arisan Gigolo? Apa maksudnya yang menang mendapat layanan gigolo? Astagah! Gwen shock. Bagaimana sekarang? Dia gak mungkin mundur, kan?! Tadi dia sudah terlanjur daftar dan bayar mahal! Gwen menatap tajam saudara sepupunya, tapi Marie cuma nyengir tanpa dosa. "Belum tentu juga lo yang dapat, Say. Tenang aja. Yang penting kan lo bisa bertemu dengan mereka semua untuk ngebicarain bisnis lo," bisik Marie. Benar juga kata Marie. Gwen mulai bisa relaks. Dia kembali tersenyum tenang. "Maaf Nyonya-nyonya, ada Aqua? Kurang konsen tadi." Mereka semua tersenyum sambil geleng-geleng kepala. "Malam ini memang istimewa banget. Setelah sekian lama kita pesan, barulah Lux bisa melayani kita. Entah siapa yang beruntung mendapatkannya," ucap Nyonya Cindy penuh harap. "Wah, yang mengusulkan si Lux ini pasti hebat sekali," sindir Gwen. Nyonya Ana terkikik geli. "Berterima kasihlah pada sepupumu, Marie. Dia yang mengusulkan Lux. Katanya dia udah cicipin pelayanan Lux, bikin nagih banget!" Apa?! Marie yang jadi makelar gigolo narsis itu?! Gwen menoleh ke sepupunya dan memandangnya tajam. Marie tersenyum kikuk. "Emang yahud, Say," bisik Marie. Gwen mengelus dadanya, dia tak menyangka sepupunya yang dulu alim punya sekarang jadi b***t abis! Apa itu gegara terkena virus Lux Gigolo sialan itu?! "Bagaimana, bisa kita undi sekarang?" tanya Nyonya Shasa gak sabar. "Tunggulah Lux datang, dia udah dekat kok," jawab Nyonya Cyndi. Bagaikan sudah diatur saja, bertepatan dengan itu si Gigolo datang dengan tampilan yang memukau. Setelan jasnya menempel erat pada tubuhnya yang indah bagai perhiasan yang menambah kilau pada dirinya. Ia membuka kacamata hitamnya dengan gerakan mempesona dan amat luwes hingga membuat Nyonya-nyonya sosialita itu melongo sambil ngeces. Semua kecuali Gwen. Perhatian Lux langsung tertuju pada wanita itu. Cantik. Sederhana. Anggun. Dingin, tapi seperti menyimpan magma didalamnya. Lux berani bertaruh akan hal itu! "Ladies, malam semuanya," sapa Lux dengan suara sensualnya. Mata abu-abunya berkilau mempesona menatap wajah-wajah wanita yang mengaguminya. "Malam, Lux," sahut mereka serempak. Lux memamerkan senyum magisnya hingga membikin hati para wanita itu klepek-klepek bagaikan ikan kekurangan oksigen. "Undi!Undi! Undi sekarang!" seru mereka antusias. Tak sadar, Gwen tersenyum sinis melihatnya. Idih, mereka itu dari kalangan atas tapi kok kelakuannya murahan sekali. Mendadak Gwen merasa ada yang memperhatikannya. Tatapannya bertemu dengan pandangan intens si gigolo yang sedang diundi itu. Huh, Gwen segera buang muka dengan ekspresi jijik. Apanya sih yang bikin mereka tergila-gila pada pria ini? Gwen cuma melihat sosok narsis yang arogan dan over pede. "Gwen Stephanie!" seru mereka kecewa. "Iya?" sahut Gwen bingung. "Lo dapat arisan, Say," tukas Marie iri. Jiahhh, Gwen shock! Demi Dewa! Sial betul, kenapa bisa namanya yang muncul di undian?! Semua kini memandangnya iri. Gwen jadi salting. Apalagi si gigolo narsis itu sekarang sedang tersenyum penuh kemenangan sambil menatap tubuhnya dengan tatapan menilai. Mesum! Gwen melotot pada pria itu. "Yah, aku lagi halangan. Sayang kan, kalau mubazir. Jadi, kalian boleh mengundinya lagi." Gwen memberi usul yang membuat wajah para wanita sosialita itu berubah cerah ceria. Mendadak Lux mendekati Gwen, lalu meraba p****t Gwen tanpa permisi. "Kau tak lagi berhalangan," tegas Lux kemudian. Muka Gwen merah padam. Gigolo m***m k*****t! Gwen ingin sekali menamparnya bila tidak ingat dia harus bersikap jaim didepan calon investornya. "Aku gak pakai pembalut tapi..." "Mau kumasukkan jariku untuk mengeceknya?" ancam Lux sambil tersenyum tengil. Asyemmm! Gwen memaki dalam hatinya. "Maaf Jeng, sebenarnya saya sedang gak mood malam ini. Mungkin next. Malam ini kalian boleh..." "Tidak! Aku tak suka dilempar kesana-kemari bagai daging tak laku. Iya atau tidak. Kalau wanita ini menolakku, tak apa. Lain kali, tawaran kalian akan kuabaikan. Kuanggap kalian telah mempermainkanku!" ancam Lux licik. Kini para wanita itu berbalik menatap Gwen dengan kesal. Gwen menelan ludahnya galau. Tak sadar ia meraih segelas vodka dari meja dan menegaknya langsung hingga tandas. Ia mulai panik, urusan bisnisnya terancam gagal gegara gigolo kurang ajar ini! "Gwen, terima sajalah. Jangan menghancurkan kesenangan kami!" protes Marie. "Gwen, aku tahu tentang bisnis peternakanmu. Bagaimana kalau kita bicara besok pagi sambil kau menceritakan pengalaman panasmu bersama Lux, okey?" rayu Nyonya Shasa. Shit! Gwen mati kutu. Ia kembali menenggak segelas vodka sebelum terpaksa mengiyakan permintaan mereka semua . *** Di suatu hotel mewah, tepatnya di ruang honeymoon suite, Gwen berdiri dengan canggung. Dihadapannya duduk di tepian ranjang sambil setengah berbaring, si gigolo m***m menatapnya seakan sedang menelanjanginya. Jas pria itu sudah dilepas dan dibuang ke lantai. Kemejanya terbuka lebar dengan sebagian besar kancing terlepas hingga menampilkan dadanya yang bidang . Pipi Gwen merona merah melihat pemandangan sensual didepannya. "Lagakmu kayak anak perawan saja," goda Lux pada klien sok sucinya ini. Gwen kesal bukan main. Memang dia sudah tak perawan, tapi yang memperawaninya sadel sepeda! Saat kecil Gwen tomboy sekali, kegemaran utamanya naik sepeda. Suatu saat dia mengalami kecelakaan sepeda dan selaput daranya robek gegara peristiwa itu. Jadi dia tak pernah berhubungan intim dengan pria. Mana sudi dia menghabiskan malam pertamanya bersama Gigolo m***m ini?! "Dengar Lux, aku tak berminat melakukan seks denganmu. Tapi aku butuh foto telanjangmu supaya bisa kujadikan bukti untuk Nyonya Shasa. Jadi, please. Buka semua bajumu," pinta Gwen tegas. Lux tersenyum tengil, dengan licik ia berkata, "mengapa bukan kau yang melepas bajuku?" Mata abunya menatap Gwen tajam, seakan menantang apakah gadis itu berani memenuhi tantangannya. Gwen membulatkan tekadnya, ia harus bisa melakukannya! Demi bisnis peternakannya yang terancam bangkrut. Gwen melangkah mendekati Lux. Sayang kakinya terpeleset. Astaga, kini dia telah menindih tubuh gigolo m***m itu. "Wow. Katanya kau tak mau ML. Tapi apa yang kau lakukan sekarang?" sindir Lux. Sudah kepalang tanggung! Gwen mulai menelanjangi pakaian Lux. "Sabarrrrr, Girl. Wow, magmanya udah mulai mendidih," goda Lux. "Magma?" ulang Gwen bingung. Mendadak Lux membalik posisi tubuh mereka hingga kini ia berada diatas Gwen. "Aku tahu dibalik sosok dinginmu, kau menyimpan gairah panas." "Kau gila!" bentak Gwen marah. "Mau bukti?" "Apa?!" Gwen terkejut saat bibir Lux menyambar bibirnya dan melumatnya dengan panas. Bagaikan ada aliran listrik yang menjalari bibirnya. Bibir Gwen yang awalnya kaku mulai lemas, diluar kesadarannya Gwen membalas ciuman Lux. Gwen mulai kehilangan akal sehatnya, entah karena pengaruh alkohol yang diminumnya atau gegara kelihaian Lux memancing gairah liar Gwen yang terpendam. Permainan mereka semakin panas. Bahkan kini mereka berdua telah telanjang bulat. Gwen terlena, dan membiarkan Lux mempermainkan tubuhnya. Bahkan tak sadar dia melakukan hal yang sama. "Astagah, mengerikan!" serunya kaget saat tak sengaja menyentuh sesuatu di bawah sana. Lux bingung apakah ia boleh tertawa geli atau seharusnya tersingung berat? Selama ini, tak pernah ada yang mendeskripsikan miliknya seperti itu. Wanita ini perlu dihajar rupanya. Dihajar kenikmatan tiada tara! Lux mulai menyatukan diri dan ia merasa heran. Bukannya wanita sudah tak virgin lagi? Tapi kenapa ia merasa seperti melakukannya pada seseorang yang masih suci? Gwen menjerit kesakitan hingga spontan ia menggigit lengan Lux. s**t! Lux jadi gemas melihat bekas gigitan di lengannya. Dasar kucing betina liar! Lux bertahan dan terus mencurahkan segala kemampuannya untuk membuat wanita melayang dalam kenikmatan. Gwen yang awalnya merasa kesakitan perlahan mulai bisa menikmatinya. “Nikmat, bukan?” goda Lux dengan suara paraunya yang sensual. Gwen hanya bisa mendesis, menahan hasratnya yang makin menggelora. Tangannya meremas-remas rambut Lux yang sibuk mencumbunya. Lux tersenyum sumringah, akhirnya ia berhasil menaklukkan wanita angkuh yang tadi dengan sikap sok menolak pelayanannya di ranjang. “Siap, Sayang?” “Siap apa?” tanya Gwen binggung dengan mata masih setengah terpejam. Ia terlihat polos sekaligus menggairahkan.. Lux tersenyum sensual, “Kita ganti posisi!” Gwen menjerit lirih ketika mendadak Lux mengangkat tubuhnya dan menggendongnya bagai induk koala tanpa melepaskan tautan di bagian bawah tubuh mereka. Malam itu mereka berlomba menyiksa satu sama lain dengan kenikmatan tabu yang sangat menggairahkan. *** Pria itu baru menerima order. Dari penguasa di negara lain, dengan upah bombastis pastinya! Dia menatap foto ditangannya. Dalam foto itu terpampang sosok pria latin berwajah eksotis yang sangat tampan. Pantas dia jadi gigolo yang paling digandrungi saat ini. Lux Gigolo. Nama aslinya..Rodrigo Sean. "Kau harus mati!" Si Pria menjentik foto itu sambil berpikir. Mau diapain target barunya ini? Ditembak? Cekik pakai kawat? Diracun? Penyewa jasanya menyerahkan padanya, asalkan si gigolo ini segera mati. As soon as possible! BERSAMBUNG..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN