02 : Hello b***h

1675 Kata
Suara musik yang berdentum di gedung mewah ini membuat Gwen merasa tak nyaman. Huh, kalau bukan demi tujuannya mencari investor buat usaha peternakannya yang sedang kembang kempis itu, Gwen malas datang kemari. Gwen memperhatikan dandanannya sendiri. Dih, bajunya terlalu seksi. Gaun mini tanpa lengan berwarna gold yang membuat tampilannya seperti w*************a. Gwen jadi tak pede memakainya. Ck, Marie sepupunya sih yang memaksanya memakai baju seksi ini. "Ya ampun, Gwen. Kamu harus bisa nyesuain keadaan, lah. Jangan saltum! Disitu ajang pesta bergengsi, lho." "Tapi Marie, pakaian ini bikin aku tak nyaman." "Percaya deh sama aku, it’s okey, Honey. Semua wanita disana juga memakai pakaian kayak gini. Demi calon investormu, fighting!" Gwen menghela napas panjang. Lagian kenapa sih, Nyonya Shasha mengajak ketemuan disini?! Seperti tak ada tempat lain yang nyaman untuk janjian saja! Sudahlah, dia harus bertahan, demi peternakannya dan keluarganya! Masalahnya, sepertinya hanya Nyonya Shasha yang berminat menjadi investornya. Btw, dimana sih Nyonya Shasha? Gwen mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan pesta, mencari sosok Nyonya sosialita itu. Buk! Mendadak ada yang mendorong Gwen hingga tubuhnya terhuyung ke samping. Sial, akibatnya roknya tersangkut ke paku yang mencuat di dinding. Rok Gwen sobek panjang di bagian bawahnya. Nah, kesialan keduanya adalah timing kedatangan Nyonya Shasa saat ini. "Oh, halo Gwen, my dear. Datang juga, kamu." "Iya, Nyonya Shasha. Ehmm, saya..." Gwen berusaha menutupi gaunnya yang sobek di bagian roknya itu. Pandangan Nyonya Shasha justru teralihkan kesana. "Astaga, Sayang. Ini tragedi! Gaunmu sobek." Gwen tersenyum kecut. "Saya bisa memperbaikinya, Nyonya. Saya membawa peralatan jahit. Hanya perlu tempat khusus untuk menjahitnya." Percayalah kau harus siap segalanya bila memiliki tiga anak yang tingkahnya seperti monster cilik. Termasuk peralatan menjahit serba gunanya. "Kamar lantai 2 sebelah kanan..kau bisa memakainya," bisik Nyonya Shasha. Gwen mengangguk. "Terima kasih, Nyonya. Saya akan kembali setelah membereskan pakaian saya." *** Sementara itu di suatu kamar, di gedung yang sama.. Lux sedang melayani pelanggannya dengan sebaik mungkin. Lux terkenal selain karena permainannya yang dashyat di ranjang juga, juga karena sensasi petualangan yang seru yang diciptakannya. Dia bisa lucu, bisa romantis, bisa sadis, bisa dingin. Tergantung apa yang diinginkan pelanggannya. Kali ini pelanggannya adalah seorang wanita alim nan cupu. Entahlah, mengapa wanita ini dengan model seperti ini nekat meminta pelayanan seorang gigolo. Mungkin dia sudah terlalu depresi sehingga otaknya menjadi korslet. Lux tak peduli. Yang penting wanita ini sudah membayarnya mahal untuk melayani hasratnya, jadi dia harus memuaskannya. Tapi dari tadi yang dilakukan wanita itu hanyalah berlutut dengan memeluk kedua belah kakinya. Kesabaran Lux telah menipis dibuatnya. Dia melirik jam tangannya. Setelah ini dia memiliki janji dengan orang lain. Biasanya Lux tidak melayani orang yang membokingnya secara mendadak seperti ini. Tapi berhubung tempat pelayanannya di gedung yang sama dengan tempat janjian Lux dengan pelanggan sebelumnya, dan upahnya besar sekali, akhirnya ia mengiyakannya. Apalagi orang itu tanpa buang waktu sudah langsung main transfer aja ke rekeningnya. Ya sudah jalani saja. Toh, nyonya ini seperti model orang rumahan, paling mainnya tak lama, pikir Lux licik. Jadi setelah ini, dia bisa menservis pelanggan barunya yang potensial itu. "Nyonya, apa Anda hanya akan melamun semalaman?" tanya Lux menyindir. "Maaf. Saya masih ragu apakah aman melakukan ini?" ucap wanita itu galau. "Tentu saja aman, saya tak berpenyakit dan Nyonya juga tidak, kan. Dan saya akan memakai pengaman kaliber tinggi. Tahan peluru!" sahut Lux ngawur. Lux mengangkat tubuh wanita itu dan membaringkannya di ranjang. "Tapi, aku. .." "Pssstttt! Saya adalah Tuanmu malam ini. Saya sudah mengijinkanmu menyentuhku, itu berkah luar biasa!" Makin ngawur saja gombalan Lux, tapi dia tak peduli. Yang penting tugasnya cepat selesai! Dengan cekatan Lux melepas baju wanita itu, hingga dalam waktu singkat wanita itu sudah telanjang bulat. "Ta-tapi, ini dosa. Ini maksiat!" Wanita itu menutup dadanya dengan tangannya. "Nyonya, mengapa Anda baru menyadarinya sekarang? Bukannya manusia adalah makhluk fana?" Tak sadar wanita itu mengangguk mengiyakannya, mata abu-abu Lux bagai menyihirnya sehingga akal sehatnya menghilang seketika. "Ya. Silahkan memulainya," cetus wanita culun itu dengan pipi merah padam. Lux pun mulai mencumbu wanita itu dan menjelajah menikmati tubuhnya. Wanita itu mendesah dan melenguh seperti cacing kepanasan. Ternyata mudah sekali membangkitkan birahi wanita cupu ini. Lux tersenyum licik. "Apa ini? A-apakah u-ular? Astaga!" Wanita itu menjerit saat tak sadar menyentuh milih Lux. "Ini bukan ular, ini kenikmatan ... Beb!" Wanita itu menggeleng ragu. "Tapi saya harus memastikannya dulu. Tolong bawakan senter. Saya ingin memeriksanya." Konyol sekali ulah wanita ini. Kesabaran Lux telah habis. Kelamaan, langsung serbu aja deh! Wanita itu menggerang saat Lux menyatukan dirinya. Dan ia berceracau tak jelas dengan mata kehilangan fokus. "Oh, ini nikmat .." "U-ular ... harus .. periksa ..." "Ular nikmat ...." "Ular nakal ...." Lux terus bergerak, dia berharap wanita aneh ini cepat mencapai puncaknya. Namun bertepatan disaat wanita itu menjerit karena tiba di ujung kenikmatan, pintu kamar terbuka lebar. Blak!! Gwen yang membuka pintu kamar sontak terbelalak melihat pemandangan m***m di depannya. Astaga, itu kan si gigolo m***m yang kurang ajar! "Ini kamar paling kanan, kan?" tanya Gwen salting. Lux tak menjawab, dia cuma menunjuk ke kamar lain yang letaknya paling ujung. Ya ampun, dia salah masuk kamar! Dengan muka merah padam, Gwen menutup pintu kamar yang tak jadi dimasukinya. Blammmm!! Sepuluh menit kemudian Lux sudah memakai bajunya. "Tuan, Anda mau kemana?" wanita itu bertanya dengan raut wajah lelah. Lux tersenyum miring. "Tugas Tuanmu sudah selesai. Kau bereskan kekacauan disini, okey?!" "Baik, Tuan. Lain kali bawalah ular Anda kemari," pinta wanita itu malu-malu. "Kita lihat saja. Tuanmu ini sangat sibuk, banyak wanita yang menanti untuk mendapatkan berkah pelayananku," sahut Lux sombong. Lux meninggalkan kamar itu sambil tersenyum geli. Kini saatnya ia menemui orang yang mendadak membokingnya itu. Untung cuma berjarak beberapa kamar saja. Lux masuk kedalam kamar itu dan terpaku. Hanya ada seorang pria berumur awal 40- an disitu. "Maaf, sepertinya saya salah kamar," ucap Lux sembari hendak beranjak pergi. "Lux, kan? Kamu tak salah kamar. Hello, b***h!" kata pria itu sambil tersenyum ramah. Lux menoleh ke pria itu dan memastikannya sekali lagi, "Anda yang memboking saya?" "Ya, begitulah." "Maaf, tapi saya tak pernah melayani lelaki. Dan saya tak berminat mengawalinya. Jadi transaksi ini saya batalkan. Uang Anda akan saya kembalikan..." Greppp! Dengan gerakan cepat, lelaki itu memiting Lux dan mengancamnya dengan pisau di tangannya. "Aku juga tak meminta pelayananmu di ranjang. Aku lebih suka melihatmu berbaring di ranjang kematianmu!" desis pria itu keji. Sadarlah Lux, pria itu mengincar nyawanya! "Siapa kau? Apa ada dendam diantara kita?! Mengapa kau ingin membunuhku?" tanya Lux mulai panik dan merasa penasaran. Pria itu tersenyum sinis. "Kita tak saling kenal dan tak ada dendam, tapi ada seseorang yang memintaku membunuhmu!" "Siapa?!" "Dia seseorang yang berkuasa. Kau tak akan mampu melawannya, Lux!" "Bastard!" teriak Lux. Dia menggigit tangan penyerangnya dan memukul pinggang orang itu dengan sikutnya. Spontan orang itu melepasnya karena kesakitan, Lux segera berlari sekencang mungkin meninggalkan kamar itu. Dia terus berlari hingga sampai ke kamar paling ujung, pintu kamar itu terbuka sedikit. Lux langsung membukanya. Didalam ada Gwen yang asik menjahit gaunnya sambil duduk di ranjang, tubuh gadis itu dilapisi selimut untuk menutup tubuhnya yang hanya memakai dalaman saja. "Kau!" pekik Gwen terkejut. "Pssstttttt! Diam." Lux berbisik sambil menutup pintu. Gwen melotot geram. Tak lama kemudian pintu kamar kembali dibuka dari luar. Blakkk! Pintu itu terhempas hingga ke dinding. "Apakah ada pria berbaju hitam yang masuk kemari?' tanya pria yang baru datang itu. "Bila aku mengatakan tidak, apa kau akan percaya padaku?" Gwen balik bertanya. "Periksa sendiri saja," tantang Gwen. Pria itu bergerak masuk, dia memeriksa lemari dan bawah tempat tidur. Tak ada apapun disana. Gwen memandangnya angkuh seakan meledeknya. Pria itu mendengus kasar lalu keluar kamar sambil membanting pintu kamar. Blammmm! Dari balik pintu terlihat sosok Lux yang sedari tadi sembunyi disana. Ia mendekati Gwen yang duduk di tepi ranjang. "Thanks Sweety, kau sudah menyelamatkan aku," ucapnya manis. Gwen meliriknya sinis. "Aku tak merasa menyelamatkanmu, bahkan tadi ia kusuruh memeriksa sendiri." Lux tersenyum simpatik. "Tapi paling tidak, kau tak langsung menunjukkan keberadaanku. Thanks a lot." Gwen hanya berdeham dingin. Cup. Gwen terkejut. Tiba-tiba Lux mencium bibirnya dan melumatnya lembut. Gwen hanya membolakan matanya tapi tak memberontak. Entah mengapa ciuman Lux membuat tubuhnya lunglai seperti jelly. Bahkan saat Lux telah pergi, Gwen masih saja bengong setengah tak sadar. *** Lux menelpon agennya saat berjalan menuju mobilnya. "Joss, lo tau apa yang terjadi? Gue nyaris dibunuh orang! Dia menyamar jadi orang yang ngeboking gue dan berniat membunuh gue. Untung gue masih bisa melarikan diri!" cerocos Lux Gigolo alias Igo, nama aslinya. "Igo, lo mesti hati-hati. Lo diburu orang! Apartemen lo udah diubek-ubek orang. Mereka berniat menghabisi lo!" Igo terhenyak. Jadi dia sedang diburu. Sial banget! Dan dia masih bingung memikirkan apa salahnya? Lalu siapa yang berniat menghabisinya?! Dia buta sama sekali! "Joss, lo tahu siapa yang memburu gue?!" tanya Igo gusar. "Gue gak tau jelas, Igo. Hanya...seperti yang dibilang orang yang memburu lo itu, dia adalah suami wanita yang pernah tidur ama elo! Wanita itu kini hamil, jadi suaminya marah besar!" "s**t! Mana ada yang hamil karena benih gue?! Selama ini gue main aman terus, Joss!" Kecuali sebulan lalu, saat ada wanita dengan penampilan sederhana yang ingin bercinta dengan Igo tanpa pengaman. Dan dia bilang dia mandul. Igo percaya begitu saja padanya, wanita itu terlihat jujur dan baik. "Joss, kurasa aku tahu istrinya. Tapi siapa suaminya..." Saat itulah Igo melewati kios penjual koran. Matanya tak sengaja tertuju ke foto yang ada di kolom koran itu. Itu foto wanita yang pernah membokingnya dan memintanya bermain tanpa kondom! Igo segera menyambar koran itu dan membaca beritanya dengan seksama. . RIP....ibu negara Checozlowsky... Negara Checozlowsky sedang berduka, ibu negara mereka meninggal dunia akibat kecelakaan mobil yang dialaminya. Apakah kecelakaan ini disabotase? . "s**t Joss! Dia istri Presiden negara Checozlowsky. Wanita yang kumaksud tadi!" Kini Igo menyadari hidupnya dalam bahaya, musuhnya bukan orang biasa saja! "Igo, larilah sejauh mungkin! Hidupmu dalam bahaya! Jangan tunda lagi, pergi sekarang juga! Jangan pernah kembali ke rumah atau ketempatmu yang lama! Ini tidak main-main!" Ceklek! Joss segera menutup pembicaraannya. Igo meremas koran yang diambilnya tadi. Ia yakin wanita itu dibunuh oleh suaminya! Dan kini nasibnya juga tak menentu, nyawanya terancam! Kehidupannya mendadak kacau berat. Igo pun menggerang frustasi. Bersambung//
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN