“Freyaaaaaaa…”
Suara teriakan nyaring Delila menggema dari balik pintu kamar anak gadisnya.
“Sampai kapan kamu tidur, hah?! Udah jam segini masih meringkuk aja di kasur! Pantesan rezeki dipatok ayam!” omelnya.
“Biarin aja, Buk. Mungkin masih ngantuk,” sahut Dimas santai dari ruang tamu sambil nonton TV.
“Gara-gara Bapak tuh Freya jadi manja. Udah segede itu masih hobi rebahan doang. Mana ada perempuan seusia dia nganggur terus dan kerjaannya cuma peluk bantal!” balas Delila kesal.
Sementara itu di dalam kamar, Freya mulai menggeliat. Matanya perlahan terbuka, lalu dia meregangkan badan sambil menguap lebar. Seperti ritual pagi hari biasanya, sebelum cuci muka, dia menatap poster besar Shah Rukh Khan yang menempel di dinding.
“Salam Namaste, Om Tampan,” gumamnya sambil senyum-senyum sendiri.
Setelah cuci muka, Freya keluar dari kamar. Dan seperti biasa, pemandangan pagi hari di ruang tamu adalah ibunya dan bapaknya duduk manis nonton sinetron sambil ngomentarin aktor kesayangan mereka.
“Duh, Pak. Ini si Dewangga makin cakep aja ya?!” seru Delila sambil meletakkan tangan di d**a, seolah jantungnya meleleh.
“Iya, Buk! Bapak juga pengin punya menantu kayak dia. Mantep!” jawab Dimas semangat.
Mereka berdua kemudian menoleh ke arah pintu kamar. Di sana berdiri Freya, dengan rambut disanggul asal-asalan, pakai daster belel, dan—ya ampun—bagian ketiaknya udah bolong!
“Yah, gak akan mau tuh Dewangga lihat anak kita. Ilfeel duluan!” komentar Delila sambil geleng-geleng kepala.
“Bener kata Ibuk. Kasihan tuh Dewangganya kalau sampe jadian sama anak kita,” timpal Dimas.
Freya yang dari tadi nguping langsung nyamber, “Yaelah, Pak, Buk. Freya juga ogah sama Dewangga kalian itu. Laki apaan, bisa dance-dance gak jelas gitu! Dandannya lebay banget, dempulnya tebel kayak kue lapis!”
Dia mendongak ke arah poster Shah Rukh Khan dan berseru lebay, “Hanya abang Shah Rukh Khan yang pantas singgah di hatiku. Babang Rahul... anjelimu lagi dibully sama ortunya, culik aku dong!”
Dengan dramatis, Freya balik ke kamar sambil nyanyi lagu Kuch Kuch Hota Hai, lengkap dengan gaya-gaya ala Kajol.
Tak lama kemudian, Freya muncul lagi. Kali ini udah mandi dan dandan rapi. Kemeja putih dan celana bahan membuatnya kelihatan… lumayan serius lah.
“Mau ke mana kamu?” tanya Delila sambil memelototi anaknya dari atas sampai bawah.
“Panggilan kerja,” jawab Freya sambil ngemil keripik singkong.
“Kerja apaan?”
“Gak tahu juga sih. Yang daftarin Yulia. Freya cuma datang, interview, kalau lolos langsung kerja.”
“Ya udah, semoga aja kerja beneran. Bukan jadi tukang bagi brosur,” sindir Delila.
Freya nyengir. “Doain aja anak Ibu ini. Siapa tau CEO-nya jatuh cinta sama Freya. Biar kayak di novel gitu lho!” Dia kemudian mencium pipi ibunya lalu melenggang pergi.
-
-
Sesampainya di lobi kantor Golden Entertainment, Freya langsung disambut omelan Yulia.
“Lama banget sih lo! Tadi katanya udah OTW!”
“Yaaa... biasa lah. Bangunnya telat,” jawab Freya cuek sambil nyengir.
“Cepetan naik! Manajernya udah nunggu!”
Yulia menarik tangan Freya masuk ke lift, menuju lantai atas.
Mereka masuk ke sebuah ruangan berpendingin super dingin.
“Ini ruang interview-nya?” bisik Freya.
“Gak ada interview segala. Lo cuma ditanya-tanya dikit, terus langsung kerja,” jawab Yulia.
“Kerjaan apaan sih? Jangan-jangan... lo jual gue buat jadi LC buat CEO botak perut buncit ya?”
Yulia melotot. “Gile lo! Gue gak sejahat itu. Lagian, siapa juga yang mau ama lo. Omongan lo aja kayak mic rusak!”
Freya tertawa kecil. “Iya, iya... gue bercanda.”
Tak lama, mereka dipersilakan masuk. Di dalam ruangan sudah duduk seorang pria berusia sekitar 35 tahun dengan kacamata dan penampilan rapi.
“Pak Arbil, ini teman saya yang kemarin saya ceritain,” ucap Yulia.
“Arbil,” pria itu menyodorkan tangan.
“Freya,” balas Freya sambil menjabat.
“Mari duduk. Saya udah baca data kamu. Cocok banget. Tapi tetap harus tunggu keputusan orang satu lagi. Kalau dia setuju, kamu langsung kerja.”
“Orang satu lagi?” Freya mengerutkan dahi bingung.
Tiba-tiba pintu terbuka. Masuklah seorang pria dengan kacamata hitam, penampilan cool, dan aura cuek yang kental. Dia tampan luar biasa, bawaannya kayak artis drama Korea.
“Dewanggi?” gumam Freya tanpa sadar.
“Dewangga, bukan Dewanggi,” bisik Yulia nyengir sambil nahan ketawa.
“Eh iya, maksud gue itu,” Freya cepat-cepat meralat saat Arbil dan pria itu menatapnya.
“Freya, kamu pasti udah tahu dia. Ini Dewangga,” ucap Arbil.
Freya mengangguk kikuk. “Kenal nggak kenal sih. Tapi Bapak dan Ibu saya ngefans banget. Soalnya dia sering wara-wiri di TV.”
Arbil tersenyum. “Nah, pekerjaan kamu adalah… jadi asisten pribadi Dewangga.”
Freya langsung melotot. “HAH?!”
***
Setelah wawancara mendadak yang langsung berakhir dengan kata "diterima", Freya menghela napas panjang lalu menjatuhkan dirinya ke sofa lobi Golden Entertainment. Jantungnya masih deg-degan seperti habis lomba lari keliling komplek.
Tak lama kemudian, Yulia muncul membawa segelas kopi latte di tangannya.
"Minum dulu, biar tenang," tawarnya sambil menyodorkan gelas.
"Thanks," ujar Freya singkat, menerima kopi itu.
"Gimana? Kerjaan yang gue cariin buat lo luar biasa banget kan?" Yulia tersenyum bangga.
"Ya. Luar biasa... ngeselinnya," jawab Freya lesu sambil menatap langit-langit.
Yulia mengangkat alis. "Lho, kok lesu?"
"Gimana nggak lesu coba? Gue bakal jadi asisten artis. Gue nggak punya pengalaman apa pun soal itu. Apalagi artisnya si cowok dempul itu... Dewangga!" Freya mengeluh sambil memutar bola matanya.
Yulia langsung tergelak. "Coba dulu aja, siapa tahu lo betah."
"Daripada lo nganggur di rumah dan tiap hari diomelin nyokap lo terus kan?" tambah Yulia sambil menyeruput kopinya.
Freya berpikir sejenak, lalu mengangguk pelan. "Betul juga sih..."
"Tapi ada satu masalah," ucap Freya tiba-tiba, ragu-ragu.
"Apa?" tanya Yulia, mulai penasaran.
Freya mendekatkan wajahnya, lalu membisik, "Gue sering banget bikin hate comment di akun sosmed-nya dia..."
Yulia langsung melotot. Matanya membesar, nyaris tak berkedip.
"Lo… APA?!"
***
Sesampainya di rumah, Freya menyeret langkah menuju pintu depan. Badannya lelah, pikirannya campur aduk, dan kakinya entah kenapa terasa lebih berat dari biasanya. Tapi begitu membuka pintu, semua rasa lelah itu mendadak lenyap... tergantikan rasa syok.
Di dapur, ibunya—Delila—tengah asyik berjoget dengan ekspresi penuh penghayatan. Musik kencang dari speaker mini terdengar memenuhi ruangan, memutar lagu boyband News. Gerakan Delila begitu totalitas, tangan kanan motong kangkung, tangan kiri nge-dance ala koreografi konser, lengkap dengan kibasan rambut buatan.
Dan yang paling bikin Freya ingin guling-guling adalah wajah Dewangga—idola yang sama sekali tidak ia sukai—nongol di layar TV yang sedang menayangkan cuplikan konser.
"Buk!" serunya nyaris histeris.
"Hmm?" Delila menjawab tanpa menoleh, tetap asyik menggoyangkan pinggulnya.
"Inget umur dong, Buk! Itu kangkung, bukan pom-pom cheerleader!" protes Freya sambil maju ke dapur.
Delila langsung mematikan musiknya, tapi bukan karena malu—melainkan karena terganggu.
"Kamu tuh sirik aja jadi orang. Liat ibukmu masih lincah gini, harusnya bangga! Lagian Dewangga tuh emang bikin semangat hidup! Ya ampun, tuh anak senyum aja bisa nyembuhin masuk angin, tahu!" Delila menatap layar TV dengan mata berbinar.
Freya menahan napas. Baru juga nyebut nama Dewangga, jantungnya udah ngedrum.
“Eh, gimana interview kamu tadi? Diterima kagak?” tanya Delila tiba-tiba sambil lanjut motong kangkung, kali ini tanpa goyangan.
"Diterima..." jawab Freya pelan.
"Alhamdulillah! Anak ibuk emang top! Kerjaan apa tuh?"
Freya terdiam. Matanya melirik ke arah TV yang sedang menampilkan close-up Dewangga lagi nyanyi dengan gaya belagu.
“Itu... Freya jadi bagian...” gumamnya, setengah menahan napas.
“Bagian apaan?”
Freya buru-buru mengangkat tangan dan melambai santai, mencoba mengalihkan. “Ya pokoknya... bagian yang sama kayak Yulia deh. Satu tim. Udah, nanti juga tau.”
Delila sempat mengerutkan dahi, tapi belum sempat bertanya lebih lanjut, Freya udah kabur menuju kamarnya.
“Eh, kamu belum makan sore! Woy, Freya! Jangan ngelamun doang di kamar!” seru Delila dari dapur.
Freya mengabaikan. Begitu sampai di kamar, dia mengunci pintu, melempar tas ke atas kasur, lalu mendekat ke dinding tempat poster Shah Rukh Khan menempel rapi.
"Rahul... Anjelimu pulang." Freya menatap poster itu dengan ekspresi mendramatisir.
"Hari ini, anjelimu resmi kerja. Tapi bukan di kantor Aman, bukan juga jadi produser film Bollywood..." Ia menghela napas panjang.
"Aku malah jadi... asisten seorang idol—dan sayangnya bukan kamu, Rahul... tapi si menyebalkan Dewangga!"
Freya pura-pura menangis sambil bersandar ke dinding.
"Maafin aku, Rahul... aku terjebak. Tapi aku janji, aku gak bakal jatuh cinta sama dia! Gak bakal! Aku benci banget sama cowok itu!”
Tiba-tiba perutnya bunyi. Krucuk.
“Ya ampun, Rahul... aku lapar,” ucap Freya, langsung merosot ke lantai.
Dari luar kamar, suara ibunya kembali terdengar.
“Freya! Ini ibuk masak tumis kangkung sama ayam kecap loh! Mau nunggu makanan joget juga baru dimakan?!”
Freya tersenyum kecil. “Oke, Rahul. Makan dulu ya. Tapi abis makan, aku bakal mikir keras gimana caranya kabur dari dunia per-idol-an menyebalkan itu.”
Ia pun berdiri, membuka pintu kamar, dan melangkah menuju dapur. Tapi sebelum sampai, ia berhenti sejenak, menatap TV yang masih menyala dan menampilkan wajah Dewangga dalam pose slow motion, tersenyum cool sambil melambaikan tangan.
Freya mendecak kesal.
"Dasar idol kampret."