Bab 2

1599 Kata
Keesokan paginya, Freya sudah duduk di lobi gedung Golden Entertainment. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai asisten Dewangga—si super idol yang menurut banyak orang nyaris sempurna, tapi di mata Freya... ya, nggak juga.Yulia duduk di sebelahnya, ikut menemaninya sambil menyeruput minuman dingin dari cup plastik. "Yul, lo doain gue betah kerja di sini ya..." lirih Freya sambil menatap ke arah lift yang belum juga terbuka. "Padahal jujur aja, gue pengin banget ngundurin diri sebelum mulai." Yulia menoleh cepat. "Ya ampun, lo tuh ada-ada aja! Udah dapet kerjaan bagus, jadi asistennya Dewangga pula—itu tuh posisi rebutan sejuta umat, Fre!" Freya mengangkat bahu, nyengir kecil. "Gue cuma ngerasa... kayaknya dia nggak bakal tahan punya asisten kayak gue. Beda dunia banget, men." Yulia mendengus sambil melipat tangan di d**a. "Dia yang harusnya takut nggak kuat punya lo sebagai asisten. Bukan lo!" Freya terkekeh pelan. “Iya juga sih. Siap-siap aja tuh cowok dengerin omelan gue tiap hari.” - - Di depan gedung Golden Entertainment, sudah berjejer para fans grup NEWS. Sebagian besar dari mereka memegang lightstick, poster, bahkan ada yang membawa spanduk segede gaban bertuliskan, “Dewangga, aku cinta kamu. Culik aku dong!” Keramaian makin heboh saat beberapa mobil hitam berhenti di depan gedung. Satu per satu anggota grup NEWS yang berjumlah empat orang turun dari mobil pertama, disambut teriakan histeris dari fans yang langsung merapat ke pagar pembatas. Lalu, dari mobil terakhir, barulah Dewangga muncul. Seperti biasa—wajahnya datar, ekspresi dingin, dan tanpa sedikit pun senyuman. Namun entah kenapa, justru aura misterius itu yang bikin fans makin tergila-gila padanya. Walaupun tidak banyak gaya seperti member lainnya, tetap saja Dewangga selalu jadi pusat perhatian. Jumlah fans yang meneriakkan namanya jauh lebih banyak daripada yang bersorak untuk member lain. “Tu bos lo datang! Buruan ikutin manajer Arbil!” bisik Yulia setengah panik sambil menunjuk ke arah Dewangga yang baru turun dari mobil. “Iy… iy, tenang aja, Bu Yulia!” sahut Freya cepat, lalu berlari kecil menuju lift lain yang digunakan tim manajemen. Sesampainya di lantai atas, Freya langsung dibawa masuk ke ruang kerja manajer Dewangga, Arbil. Ruangan itu luas, rapi, dan dipenuhi aroma kopi mahal. Di sana, Dewangga sudah duduk di sofa kulit dengan kaki bersilang, wajahnya datar seperti biasa—penuh aura bintang dan... angkuh. “Apanya yang cakep sih nih orang... dempulannya ketebelan. Aneh, kenapa Ibu gue bisa tergila-gila banget sama si Dewa Dingin ini,” gumam Freya dalam hati sambil memaksakan senyum ke arah Dewangga, yang membalasnya dengan tatapan... kosong. Arbil membuka map di tangannya dan mulai berbicara. “Freya, sekarang saya akan jelaskan tugas-tugas kamu sebagai asisten pribadi Dewangga.” Freya langsung duduk tegak, siap mendengarkan. “Pertama, kamu harus siaga dua puluh empat jam di samping Dewangga. Jadi, intinya kamu akan tinggal di apartemen dia.” “Hah?” Freya melotot. “Tunggu, serius? Maksudnya saya harus tinggal serumah? Maksud saya, setiap hari? Setiap menit? Setiap detik?” “Betul sekali,” angguk Arbil kalem. Freya nyaris tersedak udara. Sementara Dewangga masih saja duduk santai seperti patung lilin di museum Madame Tussauds. “Lanjut ya,” ucap Arbil sambil membalik halaman. “Tugas kamu yang kedua, kamu harus menyiapkan semua kebutuhan Dewangga. Mulai dari makanan, pakaian, peralatan mandi, dan lainnya.” Freya mengangguk pelan, mencoba menerima takdir. “Untuk makanan, Dewangga nggak pilih-pilih. Tapi kamu wajib mencicipi dulu semua makanan sebelum dia makan. Takutnya ada racun dari haters atau fans fanatik yang nyeleneh.” Freya langsung memiringkan kepala. “Kalau makanannya beneran beracun, berarti saya yang mati duluan, dong?” Arbil tersenyum ramah. “Betul sekali. Itu kenapa kamu digaji.” Freya menelan ludah. “Gaji UMR ya, Pak?” “Lebih sedikit,” jawab Arbil jujur. Freya ingin pingsan saat itu juga. “Dan untuk perlengkapan mandi,” lanjut Arbil, “Dewangga cuma mau mandi pakai air mineral. Jadi kalau ada jadwal ke luar kota atau luar negeri, kamu harus bawa stok air mineral cukup atau tidak harus kamu cari.” “Air mineral, Pak?” Freya nyaris berdiri. “Maksudnya... nggak bisa pakai air galon depot yang isi ulang itu? Yang lima ribuan?” “Gak bisa,” tegas Arbil. “Harus air mineral botolan. Yang asli.” Freya bergumam pelan, “Biar ada manis-manisnya gitu kali, ya... Mandinya juga harus fancy…” Tapi dia tetap mengangguk, pura-pura paham sepenuh hati. Arbil menutup mapnya lalu menatap Freya. “Kamu paham dengan semua penjelasan saya?” “Paham, Pak,” angguk Freya pasrah. Tatapannya kemudian melirik ke arah Dewangga, yang masih diam seribu bahasa. Bahkan berkedip saja pelit. Dalam hati Freya hanya bisa mengeluh. "Bismillah, kuatkan hambamu ini... Jadi asisten artis rasa diktator dingin. Baru juga mulai, udah pengin resign." *** “Hari ini, Dewangga nggak ada jadwal manggung, cuma ada syuting iklan. Jadi kamu ikut kami ke lokasi dan bawa semua perlengkapan dia,” jelas Arbil sambil mengecek jadwal di ponselnya. “Siap, Pak!” sahut Freya semangat, sambil memberi hormat ala tentara dengan tangan kanan ke pelipis. Tanpa menunggu aba-aba lagi, Freya langsung bergerak cepat. Ia mulai mengemasi berbagai perlengkapan Dewangga—pakaian ganti, sepatu, botol air mineral, kotak perlengkapan make-up pribadi, bahkan selimut kecil yang katanya “wajib dibawa ke mana pun karena bikin nyaman.” Dengan sedikit susah payah, Freya menyeret koper besar ke arah parkiran belakang, lalu memasukkannya ke bagasi mobil van hitam yang sudah terparkir. Di dalam, sopir pribadi Dewangga sedang duduk santai sambil mendengarkan musik klasik. “Wah, maaf, Pak. Saya ganggu zen time-nya, ya,” ucap Freya sambil nyengir, membuat sopir itu terkekeh. Tak lama kemudian, Dewangga keluar dari gedung Golden Entertainment. Gayanya seperti biasa: kalem, dingin, dan penuh aura selebriti. Meski wajahnya tanpa ekspresi, langkahnya selalu tegas dan percaya diri. Freya langsung membuka pintu mobil dengan sigap seperti asisten profesional. “Silakan, Pak Bos.” Dewangga hanya mengangguk kecil lalu masuk ke dalam mobil tanpa berkata sepatah kata pun. Freya ikut masuk dan duduk di kursi depan, tepat di sebelah sopir. “Pak Bos,” ucap Freya mencoba mencairkan suasana yang terasa dingin seperti freezer. “Mau sarapan dulu atau langsung ke lokasi syuting?” “Terserah kamu,” jawab Dewangga datar, tanpa menoleh. “Yang penting, jangan lupa belikan saya coffee latte—dua sendok teh gula. Jangan lebih, jangan kurang. Takaran harus pas.” Freya membuka memo kecil dan mencatat dengan serius. “Baik, Pak Bos. Dua sendok teh, no more no less. Dicatat!” Perjalanan ke lokasi berlangsung dalam keheningan. Freya beberapa kali melirik ke belakang melalui kaca spion, penasaran dengan ekspresi Dewangga yang tetap... sama. Datar. Nyaris nggak bergerak. Kalau bukan karena napasnya kelihatan, Freya sempat mau mengetes apakah dia patung atau bukan. - - Sesampainya di lokasi syuting yang bertempat di salah satu mal besar di pusat kota, tim produksi sudah siap. Dewangga langsung dibawa masuk ke ruang make-up dan wardrobe untuk persiapan. Sementara itu, Freya menjalankan misi pentingnya yaitu membelikan coffee latte. Ia menyusuri lantai bawah mal dan menemukan sebuah coffee shop yang tampaknya sering jadi langganan para artis. Ia masuk dan langsung memesan. “Satu coffee latte, dua sendok teh gula. Harus pas, ya. Ini penting banget buat... kesehatan mental negara,” ujar Freya serius, membuat barista yang melayaninya tertawa kecil. Tak lama, kopi sudah jadi. Freya langsung kembali ke ruang tunggu artis, lalu menyerahkan kopi itu ke asisten wardrobe. “Nih, kopi kesayangan Pak Bos. Dua sendok teh gula. Udah aku ukur pake feeling seorang mantan anak kost,” kata Freya sambil menyerahkannya. Beberapa menit kemudian, Dewangga keluar dari ruang make-up dengan penampilan sempurna. Rambutnya ditata rapi, wajahnya flawless dengan sentuhan make-up profesional, dan ia mengenakan jas kasual dengan warna netral yang membuat auranya makin memancar. Freya menatapnya sejenak lalu berbisik dalam hati. "Oke... gue benci ngakuin ini, tapi nih orang emang cakep kalau lagi diem dan nggak ngomong." Namun begitu Dewangga mengambil kopi dari meja dan menyeruputnya pelan, ia langsung berhenti. Wajahnya menegang. Matanya menatap lurus ke arah Freya. “Ini… manisnya berlebih setengah sendok,” ucapnya datar. Freya melongo. “Serius, Bos? Baru nyicip dikit udah tahu? Hebat juga lidah Pak Bos... kayak sensor gula digital.” Dewangga tak menjawab. Ia hanya menyerahkan kembali kopi itu. “Ulang.” Freya terdiam. Matanya membelalak, lalu melirik jam tangan. “Tapi, syuting sebentar lagi mulai, lho.” “Kalau saya gak ngopi dengan takaran yang pas, mood saya rusak, dan syuting bisa mundur. Kamu pilih yang mana?” Freya menghela napas panjang. “Baiklah, Pak Bos. Demi negeri dan kestabilan mood Bos, saya akan beli ulang.” Ia langsung melesat kembali ke lantai bawah, sambil dalam hati mengutuk dua sendok teh yang katanya “gak boleh lebih gak boleh kurang” tapi ternyata perhitungannya setajam silet. ** Tak sampai lima belas menit, Freya kembali dengan kopi baru. Kali ini dia minta barista menakar sendiri dan memastikan “takaran bintang tiga Michelin”. Dewangga menyeruput pelan. Diam. Lalu mengangguk kecil. “Pas.” Freya hampir bersorak kegirangan. “Terima kasih, Tuhan!” bisiknya pelan sambil mengepalkan tangan ke udara. - - Syuting pun dimulai. Dewangga dengan profesional menunjukkan kemampuan aktingnya. Senyum manis, tatapan dalam, dan ekspresi flawless membuat semua kru terpukau. Bahkan pengunjung mal yang kebetulan lewat, berhenti dan ikut menonton. Freya berdiri di belakang layar, memperhatikan dengan takjub. Meskipun ia masih belum klik dengan kepribadian bosnya yang sedingin kulkas dua pintu, tapi dia harus akui satu hal, Dewangga memang profesional dan... beneran punya pesona panggung yang bikin orang lupa diri. Tapi tetap saja, dalam hati Freya cuma bisa bergumam, "Yasudah lah, semoga nggak cepat ubanan kerja bareng dia.Karena kalau sudah ubanan kapan waktunya gue bisa ketemu sama babang Rahul."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN