Syuting pun berjalan lancar. Usai pengambilan gambar terakhir, Dewangga langsung menuju ruang ganti untuk beristirahat sejenak. Keringat masih menempel di pelipisnya, dan jaket tipis yang dikenakannya tampak mulai lembap. Dalam beberapa menit ke depan, ia harus tampil sebagai bintang tamu di salah satu acara televisi.
Di sisi lain, Freya sibuk merapikan barang-barang syuting, dari jas blazer, sepatu ganti, sampai botol minum khusus yang katanya hanya boleh diisi air dari mata air pegunungan. (Bule banget, pikir Freya dalam hati.)
"Pak Bos, kita berangkat sekarang?" tanya Freya sambil melongokkan kepalanya ke dalam ruangan.
"Hmmm," gumam Dewangga sambil berdiri dan melangkah duluan. Freya langsung menyusul di belakangnya dengan tas peralatan di satu tangan dan map jadwal syuting di tangan satunya lagi.
Baru saja mereka keluar dari ruang ganti, kerumunan fans sudah menunggu di lorong mall tempat mereka syuting. Jeritan mulai terdengar.
"DEWANGGA! TANDA TANGANNN!"
"DEWANGGA! I LOVE YOUUUU!"
Seketika suasana berubah jadi konser dadakan. Fans berdesak-desakan, beberapa nekat menyodorkan kertas dan ponsel untuk minta tanda tangan dan selfie. Bahkan ada yang iseng nyolek-nyolek lengan Dewangga sambil cekikikan.
Dewangga tetap tersenyum manis—senyum khas idol—meskipun jelas wajahnya sudah memerah, bukan karena malu, tapi karena gerah luar biasa. Freya pun langsung pasang badan.
"Permisi! Permisi! Kami ada jadwal syuting lagi! TOLONG BERI JALAN, WOY!" Ucap Freya.
Tapi kata-kata Freya tenggelam di tengah lautan histeria fans. Ia melirik Dewangga yang mulai kelihatan kepayahan. Lalu, seperti kesurupan semangat Avengers, Freya nekat melakukan hal tak terduga.
Dalam satu gerakan cepat, dia membungkuk sedikit dan—BRUK!—mengangkat tubuh Dewangga ke pundaknya.
"Awas! Ada air panas!" teriak Freya sekencang mungkin sambil lari seperti atlet olimpiade.
Seketika fans terpencar panik. "Hah? Air panas?!"
"Aku belum siap mati gosong!"
"Ampuuun! Kulit aku sensitif, Kak!"
Jalan pun terbuka selebar-lebarnya. Dengan napas ngos-ngosan dan langkah super cepat, Freya berlari menembus kerumunan seperti ninja bawa ember mendidih.
Sesampainya di parkiran, ia menurunkan Dewangga dengan suara napas yang tersengal-sengal. Dewangga berdiri terpaku. Otaknya seperti butuh reboot. Ia baru saja digendong oleh asistennya sendiri… di depan umum.
Freya menyeka keringat di dahinya dan membuka pintu mobil dengan gaya ala bodyguard profesional.
"Ayo, Pak Bos! Kita berangkat sebelum fans anda sadar kalo tadi itu cuma hoaks air panas!" katanya sambil setengah tertawa.
"Oh…" Dewangga mengangguk pelan, masih setengah sadar, lalu masuk ke dalam mobil.
Beberapa detik hening, lalu suara Dewangga terdengar lagi, pelan dan bingung, "Kamu... kamu gak keberatan tadi gendong aku sambil lari?"
Freya mengangkat bahu santai. "Berat banget, sumpah. Rasanya kayak gendong kulkas dua pintu. Tapi kan kalo gak digendong, anda bisa terlambat, trus nantia anda marah-marah lagi. Mending saya pegal daripada kuping saya bengkak mendengar ucapan anda."
Dewangga memutar bola matanya dan bergumam, "Dasar perempuan aneh..."
Freya menyipitkan mata, lalu melirik ke arah Dewangga yang duduk manis di sebelahnya. "Dasar idol gak tahu terima kasih. Udah gue selamatin dari amukan fans barbar, masih aja bilang gue aneh. Besok-besok mau gue biarin aja deh, biar digeret fans sampe ke rumah."
Dewangga diam. Tapi dari sudut bibirnya, terlihat senyum kecil yang tertahan.
Freya yang menangkap itu langsung nyeletuk, "Eh, jangan senyum gitu dong, nih pak Budi bisa jadi baper loh!"
Dewangga langsung merapat ke kaca jendela, pura-pura lihat awan. "Jangan GR,katakM itu sama pak Budi. Itu senyum... karena geli aja inget kamu gendong aku tadi."
Freya mencibir, "Geli katanya. Padahal saya tau, anda sebenernya kagum sama kekuatan super saya, kan?"
"Ngimpi, kamu."
Freya tertawa puas, merasa menang debat meskipun nafasnya masih belum stabil. Dalam hati, dia ngaku juga sih… ini pertama kalinya dalam hidup dia gendong artis di depan fans sambil ngibul ada air panas.
_
_
_
Akhirnya mereka tiba di stasiun televisi tempat Dewangga dijadwalkan tampil sebagai bintang tamu dalam sebuah talk show. Mobil baru saja berhenti di area parkir VIP saat Freya langsung turun duluan, memeriksa jadwal, dan memastikan semuanya siap.
Dewangga sudah berganti pakaian—kali ini mengenakan setelan kasual smart look dengan blazer navy dan kaos putih. Make-up artist sempat merapikan rambut dan touch up wajahnya agar tetap segar di layar kaca.
Sementara Dewangga duduk di ruang tunggu, Freya datang menghampiri sambil membawa air mineral.
"Pak Bos, ini minumnya," ujar Freya sambil membukakan tutup botol.
"Hmm," gumam Dewangga pendek sambil menerima dan meneguk air itu dalam sekali teguk. Ia mengangguk kecil, tapi matanya tampak lebih fokus ke pintu ruangan, seolah pikirannya sudah berada di depan kamera.
Beberapa menit kemudian, Dewangga dipanggil masuk ke studio. Ia berjalan santai namun pasti, lalu duduk di sofa talk show yang telah disiapkan. Di sebelahnya, host wanita sudah siap dengan senyum lebarnya dan deretan pertanyaan di cue card-nya.
"Selamat datang, Dewangga Alveric!" sapa sang host dengan gaya antusias khas acara infotainment.
"Iya... makasih," jawab Dewangga singkat, sambil tersenyum sopan.
Wawancara pun dimulai. Pertanyaan pertama masih ringan tentang soal hobi, makanan favorit, cita-cita masa kecil. Dewangga menjawab dengan tenang dan santai.
Tapi suasana mulai berubah saat host mulai masuk ke topik yang lebih pribadi.
"Belakangan ini banyak yang penasaran, kamu dekat dengan beberapa idol wanita. Ada yang bilang kamu lagi jadian sama salah satu penyanyi pendatang baru. Bisa diklarifikasi, gak?"
Dewangga hanya tersenyum dan menjawab diplomatis, "Kita berteman baik aja,apalagi kita kerja di bidang yang sama."
Tawa ringan terdengar dari penonton di studio. Namun, host sepertinya tak puas. Ia melanjutkan dengan pertanyaan yang lebih tajam.
"Ada juga kabar yang sempat viral, katanya ibu kandung kamu sekarang dirawat di rumah sakit jiwa. Benarkah kamu tak pernah menjenguk beliau? Bahkan ada isu miring soal kamu adalah anak dari istri siri seorang pengusaha terkenal. Kamu mau mengklarifikasi ini?"
Pertanyaan itu membuat suasana studio mendadak menegang. Senyum Dewangga menegang, nyaris beku. Matanya sedikit berkedip, seolah menelan sesuatu yang pahit. Ia mengatur napas, berusaha tetap tenang.
"Saya rasa... hal-hal pribadi seperti itu tidak pantas dijadikan konsumsi publik. Saya menghargai privasi keluarga saya," jawabnya pelan namun tegas, dengan senyum yang dipaksakan.
Di balik kamera, Freya yang menonton sejak awal mulai merasa tak nyaman. Sorot mata Dewangga berbeda. Ia mengenal betul ekspresi itu—senyum yang terlihat sopan, tapi menyimpan amarah dan kepedihan di baliknya. Wajah Dewangga mulai kehilangan rona santai, dan satu tangannya mengepal di atas pahanya.
"Wah, ini udah kelewat batas sih... " batin Freya. Ia melirik ke kru produksi yang tampak gelisah juga, namun tidak ada yang menghentikan host.
Freya langsung berdiri. Naluri protektifnya sebagai asisten muncul. Ia setengah ingin maju ke panggung dan menarik si host turun dari sofa.
"Kalau dia sampe tanya soal hewan peliharaan masa kecil Dewangga juga dipelintir jadi isu trauma, sumpah gue lempar mic," gumam Freya sambil menahan diri agar tidak benar-benar meledak.
Namun, Dewangga masih berusaha tenang.
"Saya di sini untuk berbagi soal karya saya, bukan untuk membahas gosip yang menyudutkan keluarga saya," ujarnya lagi, kali ini dengan nada yang sedikit lebih dingin.
Tepuk tangan kecil terdengar dari beberapa penonton. Host tampak sedikit canggung, tapi tetap mencoba mengalihkan topik.
Freya akhirnya duduk kembali, tapi matanya masih awas menatap layar monitor. Dalam hati ia bersumpah, jika ada host yang lain-lain lagi tanya hal gak penting, dia bakal pura-pura jadi kameramen dan... "ups, kamera kebanting! Maaf ya Kak Host... nggak sengaja..."
_
_
_
Begitu keluar dari gedung stasiun televisi, Dewangga langsung disambut kerumunan wartawan yang sudah menunggu sejak acara talk show berlangsung. Mikrofon dan kamera sontak diarahkan ke wajahnya, sementara kilatan flash menyambar tanpa ampun.
“Dewangga! Tanggapan Anda soal gosip dengan ibu kandung, benar tidak beliau dirawat di rumah sakit jiwa?!”
“Bagaimana soal kabar Anda anak dari istri siri pengusaha ternama?!”
“Kenapa Anda memilih diam selama acara tadi? Ada yang ingin diklarifikasi?!”
Dewangga tak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya menundukkan wajahnya sedikit, berjalan cepat menuju mobil sambil menahan emosi yang jelas mulai menumpuk di dadanya. Freya yang berjalan di sampingnya langsung pasang badan seperti satpam dadakan.
“Maaf ya, kami nggak bisa kasih komentar. Tolong jangan ambil gambar lagi!” serunya sambil melindungi Dewangga dari kamera dan mikrofon yang makin nekat.
Dengan sigap, Freya membuka pintu mobil dan memberi isyarat agar Dewangga segera masuk.
Begitu mobil tertutup dan jendela terangkat, suasana menjadi sunyi. Freya menoleh ke bangku belakang, menatap Dewangga yang duduk diam sambil menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata sebentar. Helaan napas panjang terdengar jelas, seolah ada beban berat yang sejak tadi ia pendam. Freya mengerutkan kening, lalu dengan refleks menyodorkan sesuatu dari saku tasnya.
"Pak Bos... mau permen?" tawarnya sambil mengangkat sebutir permen rasa kopi.
Dewangga membuka mata, menatapnya sekilas. “Saya gak suka yang manis-manis.”
Freya mengangguk pelan, lalu tiba-tiba tersenyum nakal. “Pantesan Pak Bos gak suka liat saya. Ternyata karena saya manis ya?”
Dewangga mengangkat alis. “What?
“Kamu gak ngaca apa di rumah?”ucap Dewangga dengan nada dingin.
“Enggak,” jawab Freya singkat. Namun Dewangga belum menangkap arah candaan Freya.
Freya langsung berkata cepat, “Tapi saya udah ngaca di mata Pak Bos… dan saya bisa lihat, saya emang manis di mata Pak Bos!”
Dewangga sempat terdiam dua detik… lalu tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
“Kamu ini, ya…” gumamnya, nyaris tertawa.
Suasana dalam mobil pun mulai mencair. Ketegangan yang tadi menekan pelan-pelan mengendur, digantikan keheningan yang lebih nyaman—dengan sisa senyum di sudut bibir Dewangga dan tatapan puas dari Freya yang berhasil menjalankan misinya sebagai mood booster dadakan.