Malam ini Freya sudah kembali ke rumah setelah mengantarkan Dewangga pulang ke apartemennya dengan selamat. Karena ini adalah hari pertama kerjanya sebagai asisten pribadi sang idol, dia belum mulai tinggal di tempat Dewangga seperti yang direncanakan. Dia masih harus kembali ke rumah orangtuanya untuk mengemas beberapa keperluan penting seperti baju, skincare, dan tentu saja… stok cemilan andalan.
Begitu masuk rumah, aroma sop buntut khas Ibuknya langsung menyambutnya di ruang makan.
“FREYAA!” suara Ibuk, Delila, melengking seperti alarm kebakaran. Tatapan tajamnya mengiris seperti sinar laser. Tak ketinggalan, Bapak Dimas juga menatapnya lekat-lekat dari seberang meja makan.
Freya yang baru saja meletakkan tas langsung melongo. “Lhooo... Buk, Pak, napa sih liatin Freya kayak liat hantu gagal operasi plastik?”
“Hahaha! Itu dia pertanyaannya! Kamu tahu nggak ibuk dan bapak lihat kamu..lihat... di berita gosip!!” ujar Delila dengan semangat 45.
“Yup, betul itu. Bapak juga lihat!” tambah Dimas sembari mengangguk-angguk seperti komentator debat politik.
“Berita gosip apaan sih?” Freya mencoba kalem walau keringat dingin mulai merembes.
“Ibuk lihat kamu ngelindungi Dewangga Alveric! Si idol tampan super glowing itu! Itu loh, yang kalau senyum bisa bikin listrik se-RT padam saking kesengsemnya!” ucap Delila lebaynya sudah level master.
“Ngapain kamu bisa-bisanya sama dia?!” tanya Bapak Dimas penuh kecurigaan, seperti lagi menginterogasi tersangka maling ayam.
Freya dengan santai duduk di kursinya, menyendok nasi, lalu menjawab, “Ya karena sekarang Freya kerja jadi asistennya, Pak, Buk. Dapet kerjaan dari Yulia.”
Mendengar itu, Delila dan Dimas langsung berdiri kompak. Seolah mereka baru saja mendengar kabar anaknya lulus jadi menteri luar negeri.
“KAMU ANAK YANG BISA DIANDALKAN!” seru Delila dramatis sambil memeluk Freya.
“Sekarang kamu bukan lagi pengangguran yang kerjaannya rebahan sambil ngelamun nikah sama Rahul di India sono. Sekarang kamu adalah... Asisten pribadi Dewangga!” tambah Dimas dengan wajah puitis setengah berkaca-kaca.
Freya nyengir, “Makanya, mulai besok Freya bakal tinggal di apartemennya Dewangga, biar lebih gampang bantuin kerjaan dia.”
“APA??” teriak Delila dan Dimas bersamaan sampai piring nyaris copot dari meja.
“Kenapa sih?” tanya Freya polos sambil menyesap kuah sop.
Delila langsung duduk kembali sambil menepuk d**a, “Freya... Kamu itu anak gadis. Masih fresh from the oven. Masa kamu mau tinggal sama laki-laki yang bukan muhrim? Itu bahaya, Nak!”
“Itu kan tuntutan kerjaan, Buk. Lagian aku bisa jaga diri,” ujar Freya santai.
“Bisa jaga diri atau jaga perasaan?” gumam Dimas penuh makna.
“Pak! Fokus, dong!”
“Pokoknya tetap harus hati-hati. Kamu nggak suka sama Dewangga sih iya. Tapi... siapa tahu dia yang suka sama kamu?” Delila menunjuk tajam sambil menaikkan satu alis.
Freya cengengesan. “Buk, Pak, tenang aja. Aku bukan tipe cewek murahan yang gampang klepek-klepek. Dewangga tuh bukan tipe aku. Hanya babang Rahul dari India yang bisa menaklukkan hati ini.”
“Tapi iya juga seh, kalau Dewangga liat kamu bangun tidur, bisa-bisa dia langsung ngungsi ke luar negeri,” celetuk Dimas sambil menyeruput kuah.
“Pak!” seru Freya sambil menahan malu.
“Apalagi kalau dia lihat gaya tidur kamu yang seperti korban kecelakaan pesawat. Mulut mangap, air liur menetes, rambut kayak sarang burung,” tambah Delila menahan tawa.
“Buk! Rahasia negara dong jangan diumbar ke publik!” rengek Freya sambil bangkit dari kursi.
“Kalo bisa malah kita viralin di t****k!” goda Dimas sambil high five sama istrinya.
Freya mendengus, lalu lari masuk ke kamar sambil membawa sepiring kerupuk, “Udah ah! Mau karantina aja sebelum dimaki lagi!”
Sementara itu, Delila dan Dimas tertawa puas di meja makan, bangga karena berhasil membuat anak mereka yang keras kepala itu lari terbirit-b***t. Rumah kembali hangat dengan suara tawa khas keluarga yang rame, nyebelin, tapi penuh cinta.
-
-
-
Pagi masih gelap. Ayam pun belum sempat berkokok. Tapi Freya, gadis dengan semangat 45 dan koper segede lemari dua pintu, sudah berdiri di depan apartemen Dewangga. Matanya masih sembab karena ngantuk, tapi semangatnya membara demi memulai babak baru yaitu jadi asisten idola sejuta umat.
Dengan enteng, Freya menekan kode digital di pintu apartemen—kode yang sebelumnya diberikan Arbil,managernya Dewangga.
Beep. Klik.
Pintu terbuka.
"Masuk deh, kayak rumah sendiri..." gumam Freya sok kalem, padahal hatinya deg-degan takut disangka maling.
Baru beberapa langkah masuk, Freya mendadak berhenti. Matanya membulat. Otaknya freeze seperti sinyal HP di gunung. Tiba-tiba… dari lorong kamar mandi, muncullah sesosok makhluk Tuhan paling ganteng… alias Dewangga Alveric… hanya dengan handuk putih yang melilit di pinggang. Kulitnya segar, masih ada uap tipis dari mandi air hangat. Rambutnya basah dan berantakan, tanpa make-up, tanpa filter. Dan parahnya lagi... dia tidak sadar ada manusia lain di apartemennya.
Freya spontan reflek—meraih bantal sofa dan melemparkannya lurus ke arah Dewangga.
“Astaga naga terbang... dasar c***l!” teriak Freya.
Plak!
Dewangga dengan gerakan lincah menangkap bantal itu seolah sedang latihan voli. Tatapan tajamnya langsung mengarah ke Freya.
“Siapa suruh masuk rumah orang nggak ngetuk pintu dulu, hah?”ucao Dewangga menatap Freya dengan tajam.
“Salahin dong manajer anda yang kasih pin apartemen anda seenaknya! Saya cuma asisten polos yang patuh perintah!” balas Freya sewot, sambil menyilangkan tangan di d**a.
“Kamu ya...!” tunjuk Dewangga dengan wajah kesal.
Tapi belum sempat lanjut debat, tiba-tiba...
KRIUKK!
Handuk yang melilit di pinggangnya sukses meluncur ke lantai. Freya segera menutup matanya sedangkan Dewangga bergerak tanpa ekspresi dan waktupun terasa berhenti berdetak.
Freya sontak membelalak. Tangannya menunjuk ke arah 'bawah', tapi mulutnya hanya bisa tergagap.
“Itu... itu... ITU... apaan??” jeritnya panik.
Dengan gerakan darurat, dia membalikkan badan dan menghadap dinding, seolah tembok itu bisa menghapus memori baru di otaknya.
Dewangga langsung membungkuk panik, meraih handuknya, dan menutup aurat secepat kilat. Tanpa banyak kata, dia kabur masuk kamar sambil ngedumel,
“Gila! Ini apartemen gue padahal!!”
Freya masih berdiri di tempat, wajahnya memerah, tangannya menutupi mata yang sudah terlalu ‘berpengalaman’ untuk pagi hari. Sambil pelan-pelan duduk di sofa, dia menepuk pelan-pelan kepalanya sendiri.
“Freya... Freya... pagi-pagi udah disuguhin tontonan yang bukan buat rating semua umur. Lah ini sarapan visual buat emak-emak arisan sama janda-janda komplek!” ocehnya frustasi.
Tak lama kemudian, Dewangga keluar dari kamar sudah berpakaian rapi. Kaos polos dan celana training. Wajahnya masih kesal, tapi juga sedikit malu.
Freya melirik cepat, memastikan semua properti tubuh sudah aman tertutup. Lalu mendesis, “Mulai besok, ganti password pintu itu. Dan plis... tulis ‘PERINGATAN: PEMILIK APARTEMEN SERING KELUAR MANDI TANPA PERSIAPAN’ di depan pintu, biar nggak ada korban berikutnya.”
Dewangga menarik napas dalam. “Kamu harusnya bersyukur. Itu limited edition. Nggak semua orang bisa lihat.”
Freya menatapnya tajam. “Saya bisa report anda ke KPI bagian menontokan aurat sembarang kepada seorang gadis lugu!”
"Lugu?" Tanya Dewangga tersenyum sinis.
"Dari mata kamu tadi,kamu menikmatinya dan gak ada ekspresi seorang yang lugu!"tuduh Dewangga .
"Enak aja!"
"Makanya besok-besok masuk rumah orang,ketuk pintu dulu!" Kata Dewangga dengan tegas.
“ Salahin managernya sono! Kode pin dari manajer anda bukan berarti saya masuk tanpa izin!”
Dewangga duduk santai di sofa, tangannya meremas remote TV tanpa fokus. "Yasudah, lupakan soal yang tadi. Eh, kamu ini ngapain pagi-pagi buta ke sini?" tanyanya sambil menatap Freya.
Freya menghela napas panjang, wajahnya setengah mengantuk tapi mata masih menahan sedikit kesal. "Tahu gak, tengah malam tadi managernya pak bos tiba-tiba nelpon. Padahal saya lagi mimpiin Abang Rahul, tiba-tiba kebangun karena dering ponsel saya yang berulang terus. Katanya jam tujuh pagi anda harus ada acara bareng anggota grup NEWS yang lain. Makanya saya buru-buru datang ke sini," katanya cepat, mencoba meyakinkan.
Dewangga hanya mengangguk pelan, ekspresinya tetap santai. "Owh..."
Freya melempar pandangannya ke sudut-sudut apartemen, sambil mengusap rambut yang masih berantakan.
"Eh, anda sendiri, kok pagi-pagi buta sudah mandi keramas? Jangan-jangan semalam..." ucapnya sambil menyelidiki dengan tatapan nakal, seolah menebak sesuatu yang seru terjadi.
Freya menghela napas pelan sebelum berdiri dan melangkah pelan ke arah kamar Dewangga. Ada rasa curiga yang menggelayut di hatinya, seolah-olah sesuatu sedang terjadi—seperti yang sering didengar dari cerita ibu-ibu tetangga tentang pasangan yang ‘siap ninaninu’. “Katanya, mereka suka bangun pagi-pagi untuk keramas bareng,” pikir Freya sambil mengerutkan dahi.
Baru saja ia membuka pintu kamar, Dewangga dengan cepat mengejar langkahnya. Tanpa sengaja, tubuh mereka saling bertubrukan hingga terhuyung dan jatuh ke atas kasur. Freya terdiam sejenak, napasnya tercekat saat merasakan berat Dewangga menindihnya. Tatapan mata mereka bertemu, dan yang membuat Freya semakin bingung adalah pipi Dewangga tiba-tiba memerah, seperti ada sesuatu yang ingin dia sembunyikan.