Bab 5

1235 Kata
Freya spontan mendorong tubuh Dewangga hingga pria itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke lantai. Sementara itu, Freya buru-buru duduk di atas kasur, lalu bangkit dan merapikan pakaiannya secepat kilat. Matanya menyapu seisi kamar, dan ia langsung melongo melihat dinding-dinding kamar yang penuh dengan lukisan sketsa wajah manusia. “Ngapain kamu masuk ke kamar saya sembarangan?!” bentak Dewangga sambil berdiri dan mengusap pantatnya yang masih terasa nyeri karena jatuh. Freya menyeringai cengengesan. “Nggak ngapa-ngapain kok. Cuma… ya, ngelihat-lihat aja.” “Ngelihat-lihat apanya? Jangan-jangan kamu stalker?!” tuduh Dewangga dengan tatapan menyipit. Freya melipat tangan di d**a, menatapnya santai. “Lagian kenapa sih sampai segitunya? Emangnya kamar pak bos ada apaan sampe takut banget saya masuk?” “Suka-suka saya lah! Gak semua orang nyaman kamarnya dimasukin orang asing!”ujar Dewangga. Freya mencibir. “Alasan! Pasti pak bos nyembunyiin cewek di kamar makanya panik! Mana subuh-subuh udah keramas pula.” “Ngaco kamu!” sergah Dewangga, setengah kesal, setengah bingung. “Ngaco dari mana? Saya ini udah kenyang lihat skandal idol cowok yang manfaatin fans-nya buat... tahu sendiri lah.” Freya menunjuk Dewangga dengan ekspresi serius. “Aduh! Saya bukan kayak gitu!” bantah Dewangga setengah putus asa. “Saya mandi pagi karena emang kebiasaan. Dan gak ada tuh perempuan di apartemen ini!” “Nggak izinin orang masuk kamar sih sah-sah aja. Tapi yang nggak sah itu anda ngerasa kayak tokoh utama drama Korea misterius! Padahal mah cuma takut ketahuan nyembunyiin skandal,” goda Freya. Dewangga menahan napas panjang. “Kamar itu ruang pribadi! Dan kamu, sebagai asisten, tolong bedain kenyataan sama drama-drama Korea yang kamu tonton!” Freya mengangkat tangan seperti menyerah. “Oke, oke, bos. Maaf deh!” ujarnya santai sambil berjalan keluar kamar tanpa terlihat sedikit pun rasa bersalah setelah membuat kekacauan barusan. *** Freya kemudian masuk ke kamar satunya lagi—kamar khusus untuknya selama menjadi asisten Dewangga. Ia mengganti pakaian dengan cepat. Tak sempat membereskan koper atau menyusun barang, karena hari ini Dewangga dijadwalkan tampil di acara musik pagi bersama grup NEWS. “Pak Bos, kita berangkat sekarang!” serunya begitu keluar kamar. “Hm... Eh, teh jahenya udah kamu siapin belum?” tanya Dewangga sambil memeriksa penampilannya di cermin. “Udah dong!” jawab Freya sambil menyodorkan sebotol teh jahe hangat buatan tangannya. Dewangga menerimanya tanpa banyak komentar dan langsung menuju mobil yang sudah menunggu. Perjalanan menuju lokasi acara musik berlangsung tanpa banyak percakapan. Sesampainya di sana, Dewangga segera masuk ke ruang makeup tempat para anggota grup NEWS sudah berkumpul. “Dewa, lo udah punya asisten baru ya?” tanya Nathan, salah satu personel grup, sambil melirik ke arah Freya yang tengah sibuk membenarkan dasi di leher Dewangga. “Hm,” sahut Dewangga singkat dan dingin, seperti biasa. “Eh, kita boleh main nggak ke apartemen lo? Udah lama gak nongkrong bareng. Makan, ngopi, karaokean gitu,” ajak Devon penuh semangat. “Kayaknya minggu ini gue gak bisa,” jawab Dewangga seadanya. Chiko langsung menimpali dengan nada menyindir, “Yah, wajar sih. Dewangga kan sekarang sibuk banget. Udah beda kelas sama kita—mana sempat dia ngumpul?” Freya yang masih berdiri di dekat mereka, hanya mencuri dengar sambil menahan tawa. Dalam hati ia bergumam, "Duh, baru sebentar kerja aja drama-nya udah kayak sinetron prime time." *** Baru saja grup idol NEWS menaiki panggung, gemuruh sorakan penonton langsung meledak. Ribuan penggemar berteriak-teriak memanggil nama idol kesayangan mereka, lengkap dengan spanduk dan lightstick warna-warni yang memenuhi udara. Di atas panggung, para member NEWS tampil all-out. Mereka membawakan lima lagu terbaru mereka dengan koreografi enerjik, gerakan yang sinkron, dan ekspresi yang memikat—tak kalah dari boyband Korea Selatan. Di balik panggung, Freya berdiri menyaksikan mereka dengan ekspresi datar. Sama sekali tak terpengaruh euforia penonton. “Hm, biasa aja,” gumamnya sambil nyender ke tiang. Baginya, genre musik seperti ini terlalu ‘plastik’. Kalau yang tampil di atas sana adalah Shah Rukh Khan, bisa dipastikan dia sudah naik ke panggung dan joget bareng sambil nyanyi “Kuch Kuch Hota Hai”. Bahkan, sekarang pun dia tersenyum-senyum sendiri, membayangkan dirinya jadi Kajol, lengkap dengan selendang berkibar dan tatapan penuh cinta dari sang idola India. Lamunannya buyar ketika penampilan grup NEWS usai. Mereka turun dari panggung dan memberi jalan untuk penampilan grup idol wanita yang tak kalah heboh. Para member NEWS duduk santai di kursi yang disediakan panitia di sisi panggung, sambil menonton penampilan para idol wanita. Freya masih berdiri di tempat, matanya tak sengaja tertumbuk ke arah kaki para member idol cewek yang sedang tampil. “Buset… itu kaki apa tiang lampu ya? Mulus banget, bening pula,” ujarnya kagum. Ia lalu melirik kakinya sendiri dan menghela napas panjang. “Gak kayak kaki gue, bekas luka semua. Udah kayak papan target tembak—banyak peluru nyasar,” gumamnya sambil geleng-geleng kepala. Sesekali, dia juga memperhatikan interaksi idol di atas panggung. Salah satu dari idol wanita terlihat cukup mencolok. Ia terus menatap ke arah Dewangga, bahkan sempat tersenyum manis. “Wah, yang itu kayaknya naksir Pak Bos deh,” komentar Freya pelan, memperhatikan si idol yang bernama Verly, visual dari grup idol wanita yang tengah naik daun. Setelah lagu usai, host acara muncul dan mengumumkan adanya segmen kuis dadakan untuk para fans. Semua idol pria dan wanita kembali naik ke atas panggung dan dipasangkan secara acak. Mereka akan bermain kuis bertema: “Siapa Jujur, Dia Menang!” Dan tentu saja… Dewangga dipasangkan dengan Verly. Freya otomatis memicingkan mata. “Yaelah… jodoh jodohan banget nih vibes-nya.” Di atas panggung, Dewangga dan Verly berdiri berdampingan. Kamera menyorot mereka, fans langsung histeris dan menggadang-gadang pasangan ini sebagai “couple of the year”. Host memberikan beberapa kartu pertanyaan. Dewangga mengambil satu dan membacakannya duluan. “Siapa cinta pertama kamu?” tanyanya pada Verly, sambil tersenyum formal. “Kamu.” jawab Verly tanpa ragu, menatap Dewangga dengan tatapan manis. Gedung langsung meledak. Para fans berteriak, ada yang jingkrak-jingkrak, ada juga yang menjerit panik karena ‘jodoh idola mereka diambil’. Freya melipat tangan di d**a. “Waduh, nih cewek serius amat. Satu tembak langsung tepat sasaran,” gumamnya sambil memutar bola mata. Kini giliran Verly yang bertanya. “Kalau kamu, siapa cinta pertama kamu?” Dewangga awalnya diam. Ia menatap kosong ke arah penonton, seperti sedang mencari jawaban dari langit-langit gedung. Tapi kemudian… Sebuah bayangan tiba-tiba menyelinap di kepalanya. Bayangan saat pagi tadi—dia dan Freya—di kamar. Saat tubuhnya tak sengaja menindih Freya, dan wajah gadis itu menatapnya dari jarak sangat dekat. Mata bulatnya, napasnya yang memburu, dan… wajah paniknya yang norak tapi entah kenapa bikin jantungnya deg-degan. “Apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba gue kebayang muka asisten gila itu?!” batinnya panik, mencoba mengusir bayangan Freya dari kepala. “Dewangga?” panggil Verly, suaranya terdengar halus namun menohok. “O-oh… maaf.” Dewangga tersadar. Ia merapikan posisi berdirinya, lalu menjawab pertanyaan dengan nada pelan tapi jelas. “Cinta pertama saya… adalah seseorang yang bisa bikin jantung saya berdegup kencang. Tanpa alasan yang jelas. Bahkan saat dia menyebalkan dan nyebelin, dia tetap muncul di kepala saya.” Verly tersenyum ambigu. Fans meledak histeris lagi. Sementara itu, Freya berdiri dengan alis terangkat. “Lah, itu dia ngomongin siapa? Gak mungkin kan cewek yang di depannya? Fiks pak bos punya pacar yang dia sembunyikan.” "Gue harus selidiki. Kalau gue dapat informasi cepat, bisa gue gunain buat akun sosmed gue dan akun gue pasti meledak," ucap Freya dalam hati dengan tatapan jahil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN