1. Aldo Radhitama Haris

436 Kata
Mentari pagi menyinari memenuhi kamar ber-nuansa abu-abu itu. Aldo sudah siap memakai seragam hari senin-nya. Ia menata rambutnya di depan cermin besar itu. Lalu, terdiam dan menatap lekat wajahnya sendiri di pantulan cermin.  "Cakep juga gue," celutuknya sendiri. Ia meletakkan sisir kebanggaannya di atas meja dan mengambil tas-nya yang ada di atas ranjang.  Saat ingin melangkah keluar dari kamar, dering ponsel di saku celananya menghentikan langkahnya. Merogoh kantungnya dan melihat siapa orang yang telah menelponnya pagi-pagi seperti ini.  Nama Viola--adiknya tertera di layar. Ia mengernyit, tidak mengerti. Mengapa adiknya menelponnya? Terlebih, mereka satu rumah. Hanya berjarak 20 langkah untuk sampai ke kamar Viola dari kamarnya.  "Iya, Vio?" ucap Aldo terlebih dahulu.  "Kaakkkkkk!" Aldo menjauhkan ponselnya dari telinganya. Ia bergidik ngeri menatap layar pipih itu. Lalu, ia kembali mendekatkan ponsel itu ke telinganya.  "Ngapain nelpon? Kita satu rumah. Ngapa--"  "Vio jatuh. Tolongggg!" Aldo membuka matanya lebar, "Jatuh? Di mana?" "Kamar mandi. Sini cepetan. Gendong." Aldo menghela napasnya. Ia melirik jam tangan yang melingkar tampan di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukan bahwa kelas akan segera di mulai. Namun, apakah tega ia meninggalkan gadis kecilnya sendirian di rumah dengan keadaan seperti itu?  "Yaudah. Tunggu." Aldo mematikan sambungan telponnya secara sepihak. Lalu melangkah keluar kamar untuk menuju ke kamar Viola yang tak jauh dari kamarnya.  "Viola?" panggil Aldo saat ia sudah berada di dalam kamar adiknya.  "Di sini, kak!" Aldo melangkah menuju asal suara yang berasal dari kamar mandi. Ia membuka pintu, terkejut melihat pemandangan adiknya yang terkapar di lantai kamar mandi dengan ponsel yang ada di atas perutnya. Kondisinya masih memakai piyama. Sepertinya, adiknya itu baru saja bangun dan tergesa-gesa untuk segera mandi. Alhasil, Viola terjatuh.  "Kenapa nggak hati-hati, sih? Gimana kalo Kakak udah berangkat. Mau tiduran di sini sampe meninggal?" ucap Aldo sambil mengangkat tubuh adiknya.  Viola menggerutu dan menatap tajam sang kakak, "Omongan nggak pake saringan." "Iya. Saringannya hilang." Aldo membawa Viola menuju kursi yang ada di dekat ranjangnya. Mendudukan adiknya dengan hati-hati membuat Viola tersenyum penuh arti.  "Kenapa?" aneh Aldo dan jongkok di hadapan Viola.  Viola semakin melebarkan senyumnya dan mencubit kedua pipi Aldo dengan gemas seraya berkata, "Care banget, sih! Kakak siapa sih ini!" Aldo menepis kedua tangan Viola yang seperti ingin merobek kedua pipinya. Ia menatap tajam adiknya yang masih menampilkan senyum lebarnya.  "Kakak berangkat. Kamu, hari ini nggak usah sekolah. Istirahat di rumah. Kalo ada perlu sesuatu, panggil Bi Irma," pesan Aldo dengan tegas.  Viola menganggukan kepalanya dan mengangkat tangan menampilkan gestur hormat seraya berkata, "Siap, Pak Bos!" Aldo tersenyum hangat dan mengacak gemas puncak kepala adiknya, "Cuci muka sama sikat gigi aja. Tapi, pelan-pelan jalannya. Jangan bar-bar. Paham?" Viola mendesis dan menganggukan lagi kepalanya, "Iya-iya. Bawel." "Yaudah, Kakak berangkat." Aldo melangkah pergi meninggalkan Viola yang masih setia duduk di kursinya sambil menatap punggung kakaknya yang semakin jauh dari pandangannya.  To be contiunued...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN