2. Lenka Natasha

544 Kata
Seorang gadis dengan surai hitam sepunggung itu menyusuri lorong kelas. Dengan salah satu guru yang di kenal killer di sebelahnya. Membuat dirinya semakin menjadi pusat perhatian. Hari ini, adalah hari pertama Lenka ber-sekolah di SMA Nusa Jaya. Karena pekerjaan ayahnya yang bisa saja berpindah-pindah tempat, membuat Lenka mau tidak mau mengikuti ke mana orang tuanya pergi.  Pernah sekali, Lenka sekolah di desa yang begitu kuno membuat dirinya juga ikut jadul pada masa itu.  Bu Mella memasuki ke kelas IPA 4 yang di ikuti Lenka di belakangnya. Yang awalnya kelas begitu ribut, seketika sunyi senyap saat dirinya beserta Bu Mella masuk ke ruangan itu.  "Pagi, anak-anak." Bu Mella menyapa terlebih dahulu dengan suara tegasnya.  "Pagi, Bu." Kompak semua murid menjawab. "Seperti yang kalian lihat, Ibu membawa teman baru untuk kalian." Bu Mella menggantung ucapannya dan menoleh ke samping mengarah Lenka untuk mengisyaratkan dirinya agar memperkenalkan diri.  "Saya, Lenka Natasha. Kalian bisa panggil saya Lenka. Senang bertemu dengan kalian." Lenka tersenyum lebar saat memperkenalkan diri dan menatap semua murid yang ada di hadapannya.  "Hai, Lenka! Gue Renaldo. Umur 17 tahun. Jomblo. Mau cari pasangan. Minta, DM!" celutuk salah satu siswa membuat seisi kelas tertawa.  Lenka tertawa dan mengangguk, "Hai, Renaldo." "Halo, Lenka. Saya ketua kelas di sini. Kalo mau minta temenin keliling sekolah pas jam istirahat. Nggak papa deh. Rela nggak makan siang demi nemenin kamu," goda Rizal selaku ketua kelas membuat beberapa siswi menyorakki gombalan recehnya itu.  Lenka lagi-lagi tertawa, "Halo juga, Rizal." "Len, jangan deket-deket sama Tara! Dia bendahara. Telat bayar se-jam aja katanya ada bunganya," sahut Anjas yang duduk di paling pojok belakang. Terlihat, seorang gadis yang mungkin bernama Tara menatap tajam Anjas seakan siap umtuk menerkan cowok itu sampai mati.  "Lo kira gue rentenir?" balas Tara tajam.  Lenka tertawa melihat semua itu. Ia bersyukur. Sepertinya, teman-teman barunya ini akan jauh lebih baik dibanding sebelumnya.  "Oh iya, Len. Lo temenan sama Syila aja. Dia sekretaris. Jadi, kalo lo ribut, dia nggak akan nyatet nama lo," ucap Anjas lagi.  Gadis dengan kuncir kuda itu juga menatap tajam Anjas yang mulutnya semakin koar-koar. Gadis yang bernama Syila itu merobek pertengahan bukunya dan menggumpalnya. Lalu, melempar keras bola kertas itu yang tepat mendarat di wajah tampan Anjas yang katanya adalah aset berharga yang diberikan ibunya.  "Diem, kuda!" kesal Syila.  Bu Mella yang tak tahan dengan keributan, menepuk tangannya mengisyaratkan agar murid-muridnya diam.  "Sudah diam! Nggak akan ada habisnya kalo Ibu diamin," ucap Bu Mella membuat seisi kelas langsung terdiam. Memang sangat berpengaruh Bu Mella terhadap anak muridnya. Benar apa kata kakaknya, hindari guru killer di SMA Nusa Jaya. Salah satunya, ialah Bu Mella.  "Lenka, kamu silahkan duduk. Cari tempat kosong, ya." Lenka tersenyum dan mengangguk, "Baik, Bu." "Yasudah. Kalo begitu, Ibu permisi." Bu Mella melangkah pergi dan begitu juga Lenka yang melangkah menuju kursi kosong yang ada di barisan kedua dari belakang. Saat Lenka duduk, beberapa siswi mendekatinya.  "Hai, kenalin, gue Tara." Gadis cantik berwajah elegan itu menjulurkan tangannya. Lenka tersenyum dan tanpa ragu untuk membalas jabatan tangan itu.  "Lenka," balas Lenka.  Tara tersenyum manis, "Jangan dengerin apa kata Anjas, ya. Biasa, dia kehabisan obat." Lenka tertawa dengan humor yang di lontarkan Tara. Sepertinya, ia akan cepat akrab dengan gadis yang kelihatannya seperti blasteran Kanada itu.  Hari pertama Lenka memasuki SMA Nusa Jaya cukup baik. Bahkan sangat baik. Ia harap, kejadian di sekolah sebelumnya tidak akan terjadi di sekolah ia sekarang. Lenka mempunyai firasat, ia pasti akan betah untuk sekolah di sini.  To be continued...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN