7. Together

1039 Kata
Lenka duduk sendirian di meja makannya. Mengoles roti tawar dengan selai strawberry, adalah rutinitas pagi untuk mengisi perutnya. Sambil ber-senandung pelan dengan earphone yang ter-pasang di sebelah telinga kirinya.  "Morning, adik cantik-ku," sapa Raka seraya mengacak puncak kepala adiknya itu.  "Morning," balas Lenka tanpa mengalihkan perhatiannya dari roti yang sedang ia olesi.  "Gimana sekolah baru lo? Aman-aman aja, 'kan?" tanya Raka sambil menyambar roti yang sudah di olesi selai itu.  "Aman. Kalo lo?" tanya Lenka balik.  Raka mengunyah rotinya dan mengangguk, "Yang ada, orang nggak aman deket gue." Lenka menoleh dan mendesis mendengar jawaban dari kakaknya yang bisa dibilang sombong itu. Terkadang, Lenka tidak menyukai sikap itu. Seperti yang sering ia baca di novel, sikap sombong dan angkuh selalu saja menyebalkan. Namun, para penulis selalu saja bisa membuat para pembaca-nya jadi mencintai tokoh angkuh tersebut dengan bumbu-bumbu manis lainnya.  Lenka berdiri dari duduknya saat sudah selesai memasukkan roti ke dalam kotak bekalnya. Membuat Raka mendongak menatap adiknya itu, "Mau ke mana?" "Ke sekolah lah. Ke mana lagi," balas Lenka.  "Nggak bareng gue?" "Males." Lenka melangkah pergi meninggalkan Raka yang masih terdiam di duduknya. Mendengar adiknya itu menolak tawarannya, membuat harga dirinya sedikit tergores. Raka tertawa hambar sambil menatap punggung adik kecilnya yang semakin menjauh darinya.  "Seharusnya, lo beruntung gue beri tumpangan! Banyak ciwi-ciwi di luar sana yang mau di posisi lo!" teriak Raka yang sama sekali tidak dihiraukan Lenka.  ----- "Cie yang naik motor, mobil-nya mana, nih?" celutuk Viola yang sudah berada di dalam mobil hitamnya.  Aldo menoleh ke arah adiknya yang menampilkan wajah minta tampol itu. Seraya berkata, "Ada orang nggak tahu diri. Padahal udah dipinjamin." Viola mendesis, "Iya, maaf. Gue pinjam mobil-nya bentar, ya? Nanti sore gue balikin. Bye!" Viola menjalankan mobilnya meninggalkan Aldo yang masih berada di atas motor matic milik ibunya itu. Ia menggelengkan kepalanya, lalu menghidupkan motornya dan melaju meninggalkan pekarangan rumah.  Tidak hanya kali ini, Aldo berangkat sekolah tidak bersama mobil-nya. Melainkan menaiki motor matic beserta helm bogo milik ibunya juga. Demi adiknya, ia rela menurunkan sedikit harga dirinya.  Terkadang, Viola ingin berangkat ke sekolah menggunakan mobil sendiri seperti teman-temannya yang lain. Hanya saja, Lily dan Bisma tidak mengizinkan itu. Viola harus lulus SMP lebih dulu baru kedua orang tuanya membelikan mobil pribadi untuk gadis itu.  Aldo sangat mengerti kehidupan jaman sekarang. Maka dari itu, ia meminjamkan mobilnya itu tanpa memberitahukan apapun kepada kedua orang tuanya.  Masalah resiko, Aldo sudah memikirkannya. Apapun yang terjadi pada Viola saat gadis itu mengendarai mobilnya, ia tidak akan menyalahkan adiknya itu kepada Lily dan Bisma.  Kurang baik apalagi Aldo sebagai kakak?  Saat Aldo menyusuri jalan, ia melihat seorang gadis yang tengah duduk di halte komplek. Ia mengernyit, merasa kenal dengan wajah itu.  "Lenka bukan?" tanyanya pada diri sendiri.  Aldo menepi dan berhenti tepat di depan halte. Ia membuka kaca helm-nya dan menatap ke arah seorang gadis yang asyik dengan ponsel ditangan kirinya, dan roti di tangan kanannya. "Woi!" Lenka mengangkat wajahnya. Mengernyit karena sinar mentari pagi sedikit mengarah ke wajahnya.  Lenka tertawa, "Tumben pake motor. Mobil lo mana?" "Bosan." "Dih." "Bareng gue aja," tawar Aldo "Males, panas, ntar rambut gue berantakan," tolak Lenka.  "Gue bawa helm lebih," ucap Aldo.  Lenka mengangkat sebelah alisnya, "Lo memang udah punya rencana buat jemput gue, ya? Atau lo sebenernya... ojek online?" Aldo mendesis, "Sembarangan. Gue selalu bawa helm lebih. Takutnya ketemu cewek modelan lo di jalanan. Kan bisa gue bantu antar pulang." Lenka menatap Aldo, "Jadi, lo udah sering bonceng cewek?" Aldo menghela napasnya. Berdebat dengan gadis ini sepertinya tidak ada habis-habisnya. Ada baiknya, Aldo mengalah saja sebelum Pak Jordan berkeliaran di depan gerbang sekolah.  "Jadi, lo mau nebeng gue apa nggak?" tawar Aldo sekali lagi dengan sabar.  Lenka terdiam sejenak. Ia melihat jam yang melingkar cantik di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukan jam pelajaran pertama akan segera di mulai. Jika ia menunggu taksi, sepertinya ia telat. Ia tidak ingin hari ke dua ia sekolah akan telat. Seperti yang ia dengar, Pak Jordan adalah guru BK yang selalu mengawas di depan pagar menunggu murid-muridnya datang terlambat. Seakan itu adalah santapan paginya.  "Nggak---" ucapan Lenka terpotong.  "Males, panas, ntar rambut gue berantakan. Itu 'kan yang mau lo ucapin?" sela Aldo cepat.  Lenka berdiri dari duduknya saat Aldo bersiap menghidupkan mesin motornya. Membuat Lenka panik.  "Eh, mau ke mana?" tanya Lenka.  "Ke sekolah lah. Mau ke mana lagi," balas Aldo acuh.  "Ikut!" "Yaudah, naik." Lenka tersenyum riang. Ia memasukkan sisa roti yang ada ditangannya ke dalam mulutnya. Bergegas untuk naik ke atas motor Aldo. Takut cowok itu berubah pikiran dan meninggalkannya sendirian di sini.  ----- Lenka bernapas lega saat ia sudah berada di pekarangan parkiran sekolah. Untung saja mereka tidak terlambat. Tidak, ini hanya hari keberuntungan mereka. Pasalnya, Pak Jordan tidak masuk hari ini. Jadi, bagi kaum mageran, akan merdeka jika mereka terlambat pagi ini.  Lenka turun dari motor dan melepaskan helm-nya. Ia merapikan rambutnya dan memberikan helm itu kepada Aldo.  "Makasih, Kak, tumpangannya!" Baru saja Lenka ingin berlari, langkahnya terhenti membuat Aldo mengernyit.  "Kenapa?" tanya Aldo.  Lenka tidak menjawab dan membuka kembali tas-nya. Ia mengambil kotak bekal berwarna biru itu dan membukanya. Masih ada satu roti utuh yang ada di dalam kotak itu. Dengan hati gembira, Lenka mengambilnya dan menyodorkan roti itu ke mulut Aldo.  "Buka mulut lo. Aaaaaa," ucap Lenka.  Aldo sedikit ragu untuk membuka mulutnya. Membuat Lenka sedikit kesal. Dengan cepat, ia memasukan paksa saja roti itu membuat mau tidak mau Aldo membuka mulutnya.  "Buka mulut aja susah!" kesal Lenka dan berbalik meninggalkan Aldo dengan mulut penuh berisikan roti itu. Aldo menatap Lenka yang perlahan menjauhi dirinya. Ia menghela napasnya dan mengunyah roti yang ada di dalam mulutnya itu.  "Do!" Aldo seketika tersedak mengeluarkan sedikit yang ada di dalam mulutnya itu. Membuat si pelaku langsung ikut terkejut tidak menyangka keusilannya akan berdampak seperti ini. Ia menepuk pundak Aldo agar tidak lagi tersedak. Justru membuat Aldo semakin ter-batuk.  "Maaf, Do. Gue nggak tahu kalo lo lagi makan," ringis Reno saat melihat serpihan roti yang terjatuh di aspal.  Aldo tidak menjawab. Ia masih sibuk mengunyah dan menetralkan tenggorokannya. Reno jadi cemas. Takut habis ini sahabatnya itu tidak akan mau lagi berbagi amal pada saat pelajaran Fisika dan tidak akan memberikan izin dirinya untuk menemui Viola.  Tidak, tidak. Jika dua hal itu terjadi, ia bisa-bisa jadi gila.  Aldo berdiri tegak dan menatap tajam Reno membuat cowok itu langsung terdiam kaku.  "Apaan sih lo, hah?! Gue lagi ngunyah sama nelan!" teriak Aldo.  Reno mengerjapkan matanya tidak berani menatap mata Aldo langsung, "Maaf, Do." Aldo tidak menjawab dan hanya menatap kesal Reno. Lalu, cowok itu pergi meninggalkan Reno yang masih setia berdiri tegak seakan tengah dihakimi itu.  "Untung dia pinter sama calon kakak ipar gue. Kalo nggak, udah gue telan dia." *** Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN