6. Pewaris

1201 Kata
Aldo duduk di tepi kasurnya. Matanya menatap menerawang ke depan. Pikirannya ke mana-mana. Perasaan seperti ini sudah lama sekali tidak ia rasakan. Sekarang, gadis yang begitu mirip dengan mantan pacarnya tiba-tiba saja datang dan bertatap muka dengannya.  Ada apa dengan takdirnya?  Suara ketukan pintu kamarnya membuyarkan lamumannya. Ia menatap pintu yang tertutup rapat itu. Sedetik kemudian, terlihat lah adiknya yang melangkah masuk mendekatinya.  "Kok belum tidur?" tanya Aldo saat Viola langsung tiduran di sampingnya.  "Nggak bisa tidur," jawab Viola sambil memeluk lengan kakaknya.  Aldo menghela napasnya dan mengelus lembut puncak kepala adiknya. Ia memaklumi itu. Yang awalnya sebelum tidur Viola ditemani oleh ibunya, dan sekarang? Ibunya lebih sering menemani ayahnya yang bekerja ke mana-mana. Alhasil, setiap malam, Viola selalu datang ke kamarnya dan meminta dirinya untuk membacakan dongeng sebelum tidur.  "Mau di bacain dongeng?" tawar Aldo.  Viola menggelengkan kepalanya, "Udah gede. Mau tidur alami aja." Aldo terkekeh, "Perasaan baru kemaren lo minta bacain dongeng ke gue." Viola mendongak dan menatap tajam kakaknya itu yang kebiasaan berkata jujur.  "Ke kamar lo sana. Besok sekolah," ucap Aldo.  Viola mendengus sambil mendudukam dirinya. Ia menatap lagi kakaknya dengan tatapan yang sulit diartikan. Membuat kening Aldo berkerut.  "Kenapa lo?" heran Aldo melihat ekspresi adiknya itu.  Viola mengerjapkan matanya yang masih menatap malas kakaknya, "Lo kapan punya pacar?" Mendengar itu, Aldo semakin mengerutkan keningnya seraya berkata, "Sejak kapan lo tertarik sama urusan percintaan gue?" Viola mengangkat kedua bahunya, "Ya, gue kepo aja. Nggak asik banget gitu, kita saudaraan tapi nggak tau privasi masing-masing." Aldo mendekatkan dirinya dengan Viola dan langsung menyentil keras dahi adiknya itu membuat gadis itu meringis kesakitan.  "Namanya privasi, ya nggak bisa di kasih tau, b**o!" kesal Aldo yang tidak bisa memaklumi kebodohan adiknya itu.  Viola menatap tajam kakaknya sambil mengelus-elus dahi mulusnya. Ia memukul bahu Aldo dengan keras membuat cowok itu ikut meringis sambil memegangi bahunya.  "Rasain!" Viola langsung berdiri dari tempat tidur dan berjalan menuju keluar kamar dengan langkah besar. Tak peduli Aldo yang dibelakangnya memanggil-manggil namanya.  Aldo menghela napas dan menggelengkan kepalanya. Ia beranjak dari tempat tidur dan melangkah keluar kamar. Setelah berdebat Viola, tiba-tiba saja ia menjadi lapar.  Aldo menuruni anak tangga dengan langkah besarnya. Ia melihat Bi Irma yang tengah memotong buah-buahan di dapur. Ia tersenyum dan langsung menghampiri asisten rumah tangga yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri.  "Jeruk ada nggak, Bi?" tanya Aldo saat ia sudah ada di hadapan Bi Irma.  Bi Irma yang mendengar itu langsung mengangkat wajahnya dan tersenyum sambil mengangguk, "Ada, Nak. Bentar, Bibi ambilin." "Nggak usah, Bi. Biar aku aja yang ambil," cegah Aldo cepat. Bi Irma lagi-lagi tersenyum dan mengangguk menyetujui perkataan Aldo.  Aldo melangkah menuju lemari kecil yang biasa tempat menyimpan buah-buahan. Bi Irma mempunyai metode agar buah tidak cepat busuk. Menurutnya, jika di masukkan ke dalam kulkas, kulit buah akan lebih cepat keriput. Membuat rasa buah itu sendiri berubah dari aslinya.  Bi Irma memang benar-benar bisa diandalkan dalam hal rumah tangga. Itu membuat kedua orang tuanya sangat menyayangi Bi Irma dan menganggap wanita itu sebagai keluarga. Apalagi, Bi Irma tidak mempunyai siapa-siapa. Anak-anaknya sudah tidak ada yang peduli dengannya. Itu membuat Aldo tidak tega jika melihat Bi Irma kesusahan, itu mengingatkan dirinya akan ibunya yang sudah bekerja keras.  Aldo mengerutkan keningnya saat ada buah alpukat di dalam lemari itu. Sudah lama sekali tidak ada tercium aroma alpukat di rumah ini. Karena, hanya ayahnya yang menyukai buah itu. "Bibi beli buah alpukat?" tanya Aldo.  Bi Irma menoleh, "Itu, Nak. Pak Bisma sama Bu Lily udah pulang." Aldo langsung melongo mendengar itu. Ia terkejut. Pasalnya, sudah lama sekali mereka tidak pulang, dan katanya, mereka akan pulang satu bulan lagi. Tapi kenapa?  "Mereka di mana, Bi? Viola nggak tau?" tanya Aldo.  Bi Irma menunjuk ke depan, "Di ruang kerja Pak Bisma, Nak. Iya, Viola belum tau." Aldo menganggukan kepalanya. Ia mengambil piring yang berisikan buah-buahan itu, "Ini buat Mama sama Papa kan, Bi?" Bi Irma mengangguk, "Iya, Nak." --- Aldo berdiri di depan pintu ruang kerja ayahnya. Ia mengetuk pintu dan memutar knop pintu.  "Mama, Papa?" ucap Aldo saat ia membuka pintu itu. Terlihat, kedua orang tuanya tengah duduk di sofa dengan beberapa dokumen di atas meja. Melihat itu, Aldo menghela napasnya. Betapa sulitnya hidup mereka hanya ingin membahagiakan dirinya serta adiknya.  Lily tersenyum dan langsung berdiri. Aldo melangkah mendekati kedua orang tuanya yang sudah menahan kerinduannya.  Lily langsung memeluk Aldo dengan erat, "Mama kangen banget sama kamu." Aldo membalas pelukan ibunya, "Aldo juga kangen banget." Lily melepaskan pelukannya. Ia menangkup wajah putranya dengan kedua tangannya. Ia menatap lekat wajah putranya. Lalu tersenyum dan mencium pipi putranya itu.  "Makin hari, makin ganteng aja anak Mama," celutuk Lily.  Aldo terkekeh. Ia juga mencium pipi ibunya seraya berkata, "Makin hari, Mama makin cantik. Mama pake skincare apa?" Lily tertawa dengan humor yang dilontarkan putranya itu. Sedetik kemudian, Bisma berkata.  "Mama kamu cantik alami. Nggak pake skincare segala." Lily dan Aldo kembali tertawa. Setelah itu, Lily menyuruh Aldo untuk duduk disebelahnya. Tiba-tiba saja, suasana menjadi serius. Ia tau, pasti ada yang ingin dikatakan oleh kedua orang tuanya.  "Aldo, setelah lulus, mau kuliah ke mana?" tanya Bisma. Terlihat, Aldo bingung. Ia sudah mengetahui apa keahliannya dan ingin lanjut ke jurusan apa. Namun, sejauh ini ia belum mendapat universitas yang pas untuknya dan tidak ada niatan mencari kampus seperti teman-temannya yang lain.  Mungkin, Aldo akan menggunakan motede sistem kebut semalam untuk mencari universitas.  "Belum tau, Pa," jawab Aldo akhirnya. Bisma diam tidak membalas apa yang Aldo katakan. Setelah itu, Lily semakin mendekat ke arahnya membuat Aldo menoleh. "Gini, sayang. Kamu tahu 'kan, kerjaan Papa itu banyak banget. Pergi perjalanan bisnis sana-sini. Viola masih SMP. Dia pasti butuh banget perhatian dari Papa Mama," jelas Lily sedikit basa-basi. Aldo mengerutkan keningnya, "Maksud Mama?" "Aldo, gini." Aldo menoleh ke arah Bisma yang sudah duduk dengan serius. Itu membuat Aldo tidak mengerti. Baru kali ini, ayah ibunya membicarakan masalah yang sedikit mengarah ke pekerjaan. Pasalnya, setiap Aldo bertanya tentang pekerjaan kedua orang tuanya, mereka tidak memberitahu apapun. Alasannya, mereka tidak ingin membuat beban pikiran untuk kedua anaknya. Itu membuat Aldo bodo dengan pekerjaan kedua orang tuanya.  "Papa mau kamu terusin pekerjaan Papa," ucap Bisma to the point membuat tak hanya Aldo, Lily pun terkejut karena suaminya itu langsung pada intinya. Tidak berbasa-basi seperti dirinya tadi.  "Hah?" Aldo terkejut sekaligus tidak mengerti apa yang dimaksud ayahnya itu. Seakan itu terlalu berat untuk ia cerna.  "Papa mau kamu nerusin perusahaan Papa. Papa nggak bisa lagi nerusin pekerjaan ini. Papa mau ngehabisin waktu sama kamu, mama sama Viola. Kalo Papa kerja terus, Mama sama Papa takut, Viola akan asing sama kami berdua," jelas Bisma.  "Tapi, aku nggak ngerti sama sekali, Pa," balas Aldo.  Lily menggenggam tangan Aldo. Menatap putranya itu bahwa apa yang akan ia lakukan nanti, adalah keputusan yang benar dan bisa ia jalankan dengan baik.  "Kamu pasti bisa." Aldo menghela napasnya. Ia ingin membantu kedua orang tuanya. Tapi, di lain sisi, ia juga ingin kuliah untuk mempertajam keahliannya. Ia harus memilih jalan yang mana?  "Aku pikirin lagi," ucap Aldo akhirnya. Hanya itu kata yang bisa ia ucapkan sekarang. Banyak hal yang ingin ia lakukan untuk mengisi masa remajanya. Ia tidak pernah berpikir sebelumnya untuk menghabiskan masa remajanya dengan berkutat di layar laptop dan tumpukan dokumen di atas mejanya.  Lily dan Bisma hanya bisa mengangguk. Mereka juga tidak bisa memaksa. Mereka mengerti, tidak terlalu wajar anak seusia Aldo sudah bekerja dalam bidang bisnis seperti ini.  "Papa nggak maksa kamu. Papa dan Mama akan menerima apa keputusan yang kamu ambil. Tapi, pikirin dulu baik-baik. Yang mana jalan yang bisa membuat keluarga kita, terkhusus kamu, akan bahagia," ucap Bisma sebelum Aldo berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Bisma dan Lily *** Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN