34. Penghancur

913 Kata

Tidak dapat dipungkiri, gadis bersuari hitam itu sedang dalam suasana hati yang bahagia. Melangkah riang memasuki rumahnya, membuat Raka yang memang tidak sekolah hari ini dan melangkah dari arah dapur, menatap heran ke arah adiknya yang terlihat terlampau senang. Berbeda seperti kemarin-kemarin. "Lo kenapa, Dek? Kesetrum?" Raka bertanya. Ia curiga, Lenka kesengat listrik membuat kepribadian adiknya itu menjadi periang. "Nggak papa, Bang." Lenka menjawab sambil menahan kedua sudut bibirnya yang ingin terangkat. Lalu, melangkah menaiki anak tangga meninggalkan Raka yang kebingungan. Raka menggeleng-gelengkan kepalanya, "Nggak ngerti punya adik." Raka menyeruput se-cangkir teh-nya dan melanjutkan langkahnya. Lenka duduk di tepi ranjang. Memegangi dadanya yang sedari masih saja berdetak d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN