Aline masih terdiam dibungkus oleh selimut, dia tidak berani bergerak. Kepalanya pusing dan dia terus terbayang wajah Julian. Dalam hatinya dia menyalahkan dirinya, lelaki yang dia cintai telah meninggal selamanya. Aline begitu marah. Marah pada dirinya yang refleks mendorong Julian, andai saja malam itu dia tidak mendorong keras Julian, dia tidak akan menerima kepahitan ini. Tetes air mata terus jatuh ke pipi Aline, dia tidak menyangka bahwa hidupnya akan menderita seperti ini. Aline meringkuk dan menangis seenggukan. Kenapa dia masih hidup? Kenapa dia masih bisa bernapas? Dia hanya menginginkan mati bersama Julian. Tapi takdir berkata lain, dia masih hidup Aline menjadi bimbang haruskah dia bersyukur atau mengeluh atas takdir? Dingin menyergap kulit Aline, AC ruangan begitu dingin, di

