Bara berpamitan pulang dan acuh kepada air mata Angel yang jatuh. Dia melangkah pergi dan dia menyadari seharusnya dia memang tidak disini, tidak ada di depan Angel. Sudah pasti Bara tahu hancurnya hati Angel. Meski begitu mereka kini hanyalah orang asing yang saling tak mengenal. Kalaupun Angel harus ada di hadapana Bara, saat itu juga Bara harus berpura-pura seperti ini. Bara tau Angel tidak akan pernah bisa melepaskan rasanya yang sangat besar. "Daddy, Mama," ucap anak kecil di gendongan Bara. Bara hanya tersenyum kecil saat anaknya menyebut Angel mama, memang seharusnya begitu. Angel memang mama untuk Varon. "Naj, kau kenapa?" Raihan mengusap pipi Angel yang berhasil meluncurkan tangisannya. "Ah, enggak papa kok, cuma sedih aja, anaknya dibawa lagi," ucap Angel tersenyum. Raihan t

