BACAA!!
****
Di sebuah apartement yang ada di kawasan Jakarta Selatan, tampak Jefry keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk yang melilit di pinggangnya. Langkahnya langsung tertuju pada sebuah lemari besar dan mengambil sebuah jeans serta kemeja, lalu memakainya cepat. Maudy tak ada di apartemet tersebut karena pulang ke rumah orang tuanya yang ada di Bandung dan sudah di sana sejak 3 hari lalu. Rencananya, sore ini Jefry akan pergi ke sebuah restoran untuk bertemu dengan salah satu temannya. Teman di sini tentu bukanlah teman sembarangan, karena orang tersebut juga mengetahui perihal Gisell dan Aldy yang terus mengejarnya selama bertahun-tahun.
Setengah jam kemudian, Jefry sudah siap dan duduk sejenak di ruang tamu untuk menikmati kopi yang sudah dibuatnya. 2 teguk kopi telah meluncur dan membasahi kerongkongan dan matanya beralih ke handphone yang tergeletak di meja karena bergetar pertanda ada panggilan masuk. Dengan cepat diraihnya benda tersebut dan mengangkatnya.
“Hallo!”
“ .... ”
“Gue udah siap nih! Cuma lagi ngopi bentar, kenapa?”
“ .... ”
“Kita ketemu di tempat biasa ya!”
“ .... ”
“Ok. Gue cabut sekarang!”
Sambungan telephone akhirnya terputus. Diteguknya sisa kopi hingga tandas dan bergegas bangkit sambil menyambar kunci mobil yang tergantung dekat pintu. Kebetulan jam dinding sudah menunjukkan jam 3 sore dan perkiraan waktu yang ditempuh Jefry menuju tempat dia bertemu sekitar 40 menit jika tak macet karena berada di kawasan Bogor serta rawan macet. Mobil Jefry melaju sedang menembus jalan yang terlihat mulai padat karena ada sebagian kantor yang sudah berakhir jam kerjanya.
****
Di ruangan luas yang hanya berisi Aldy dan singgasananya, terlihat dia sedang sibuk bergelung dengan pekerjaan yang menumpuk. Sesekali tangannya memijat pelipis yang terasa pusing. Semua berkas harus dibaca dan diselesaikan hari ini juga tanpa terkecuali. Entah kenapa, hari ini Aldy terlihat begitu stress dan tidak seperti biasanya. Padahal tidak ada yang terlalu serius dengan urusan kantor, tapi pikirannya sedikit tidak fokus.
“Sial! Gue gak fokus banget hari ini!” umpat Aldy sambil melempar bolpoin ke lantai. Punggungnya menyandar letih ke sofa dengan mata terpejam. Nafasnya terdengar tak teratur.
“Ini gue kenapa sih? Baru ditinggal Mike bentar sudah stress begini!” ucap Aldy setelah membuka kedua matanya yang terlihat lelah. Mata tajamnya terus memandang ke langit-langit ruangan seolah mengamati sesuatu sambil menggoyangkan kursi kerjanya terus menerus hingga beberapa saat.
“Aje gile! Pantes gue stress begini, sudah seminggu gue anggurin tuh cewek sialan! Minta disalurin kayaknya si Toha. Benar, ini pasti gara-gara si Toha belum nyembur!” gumam Aldy mendadak berpikir ke arah sana dengan senyum jahat terukir di wajah tampannya yang mendadak menyeramkan.
Aldy kembali membenarkan posisi duduknya dan melanjutkan pekerjaan yang diabaikan beberapa saat. Ruangan kembali sunyi dan hanya terdengar suara kertas yang dibuka halaman demi halaman serta bunyi keyboard yang ditekan hingga tak disadari dokumen yang ada di meja hanya tersisa 1 map berwarna merah.
“The last one!” ucapnya sambil tersenyum masih semangat.
Disaat dia sedang fokus dengan map terakhir yang harus dia kerjakan, tiba-tiba terdengar pintu yang diketu, kemudian terdengar pintu yang dibuka. Aldy tentu tahu ada oang yang memasuki ruangannya, akan tetapi kepalanya enggan untuk terangkat karena sedang fokus dengan dokumen yang sedang dibacanya.
“Letakkan saja dokumennya dan segera pergi!” ucap Aldy memerintah tanpa melihat siapa yang datang. 2 menit berlalu dan taka da jawaban dari orang yang masuk ke runagannya, akhirnya membuat Aldy mengangkat kepala dan terkejut ketika mengetahui siapa yang datang.
“Papa!” ucap Aldy yang melotot setelah mengetahui siapa yang ada di hadapannya.
“Iya, ini Papa. Kamu pikir siapa, hmm?” sahut Reynold santai dan berjalan menuju sofa yang ada di hadapannya lalu duduk sambil melepas jas hitam yang membalut tubuh masih terlihat bugar itu.
“Aldy pikir, Yuanita yang masuk barusan untuk antar dokumen. Papa kapan pulang?” jelas Aldy sejujurnya sambil bangun dari duduknya dan langsung menghampiri Reynold, lalu mencium tangannya.
“Sejam yang lalu dan Papa langsung ke sini melihatmu,” kata Reynold lagi.
“Mama tahu ‘kan kalau Papa pulang?” tanya Aldy lagi.
“Tidak. Papa tidak memberi kabar, Papa mau kasih kejutan!” timpal Reynold seraya terkekeh.
“Yayayaya ...,” decak Aldy yang sudah tahu akan kebiasaan Papanya. Ijin pergi sebulan urusan bisnis, baru seminggu sudah pulang.
“Papa mau kopi atau teh?” tawar Aldy kepada Raynold yang tengah duduk bersandar di sofa sambil memejamkan matanya.
“Papa ingin cucu!” pinta Reynold membuat Aldy melotot seketika.
‘Glek’
Aldy menegang ketika ucapan tiba-tiba meluncur begitu saja dari Reynold. Tak ada angin dan tak ada hujan, sang Papa kembali dari Australia tanpa kabar dan langsung minta cucu seolah cucu bisa dibeli di pinggir jalan layaknya gorengan.
“Cu-cu?” ulang Aldy mengulang kata cucu dan membuat Reynold menegakkan kembali duduknya.
“Iya, Papa ingin punya cucu. Kalau bisa langsung kembar. Kamu bisakan?” ucapan Reynold dengan wajah yakin dan membuat Aldy mengerjap beberapa kali.
“Mana Aldy bisa bikin cucu, Pa. Bikin cucu harus ada temen duetnya kalau sendiri namanya solo yang ada kebuang bibit Aldy. Ah! Papa ada-ada saja permintaannya!” gerutu Aldy tidak menyanggupi permintaan Reynold.
“Papa tidak minta kamu solo, makanya kamu nikah dong!” jawab Reynold lagi.
“Aldy juga pengen banget nikah, Pa, tapi kita ‘kan tahu sendiri kalau Icha belum ditemukan, dan Aldy hanya akan menikahinya bukan dengan yang lainnya!” timpal Aldy dengan alasan yang tak pernah berubah sejak dulu apapun kondisinya.
“Icha sudah ditemukan anak bodoh, bahkan ada bersamamu dan kau sakiti!” suara batin Reynold bergumam sambil menatap wajah Aldy yang terlihat sedih jika membahas tentang Icha.
“Papa tak yakin kalau kamu akan mencintai Icha apalagi menikahinya, jika kamu bertemu dengannya lagi,” sahut Reynold datar dan membuat Aldy langsung terperanjat mendengar ucapan tersebut.
“Cinta Aldy belum berubah dan tak akan berubah, Pa. Kenapa Papa bicara seperti itu? Apa Papa tahu di mana keberadaan Icha?” sangkal Aldy yakin dan balik bertanya.
Aldy menatap tanpa berkedip Reynold yang ada di hadapannya, menunggu jawaban yang sekiranya membuatnya bahagia dan berharap jika Reynold sudah menemukan Icha, cintanya yang hilang.
“Belum,” ucap Reynold sambil menggeleng pelan.
“Tapi Papa akan menemukannya dan membawanya pergi dari lak-laki jahat sepertimu!”
Bersambung
24 April 2020/20.25