Kabar Dari Bagas

737 Kata
BACAA!! **** Di tempat lain Waktu sudah menunjukkan sekitar jam 9 malam, sebelum pulang ke rumahnya, Aldy akan mampir sebentar ke rumah yang di dalamanya ada Nisa yang sejak seminggu lalu dia tinggalkan dan belum dilihatnya lagi. Sepertinya mie instant yang dia tinggalkan dirasa cukup untuk Nisa bertahan hidup dan jika ingin tetap hidup karena jikalau mati pun, Aldy tak akan perduli. Tak jauh dari rumah terpencil itu, Aldy terlebih dulu mampir ke sebuah mini market untuk membeli beberapa minuman sejenis softdrink. Hanya sebentar Aldy mampir ke mini market tersebut dan langsung bergegas menuju rumah tersembunyinya. Sekitar 5 menit melajukan mobil, Aldy sampai di depan pintu gerbang, lalu secara otomatis pagar besar dan tinggi tersebut terbuka membiarkan Aldy masuk dan pintu itu tertutup kembali seolah tak pernah dibuka. Lampu pagar yang menyala samar memberi kesan jika di balik gerbang dan tembok tinggi itu hanyalah berupa gudang, tapi bagi Bagas yang ternyata sejak tadi mengikuti Aldy sejak di mini market ternganga lebar karena melihat sekilas apa yang ada di dalam sana. Sebuah rumah yang terlihat indah dengan lampu yang ditata rapi serta taman bunga yang terawat dengan baik. Bagas yakin, jika di dalam sana Aldy menyembunyikan Nisa, adik Mike. Setelah pintu tertutup, Bagas mendengar handphone yang berdering dan ternyata Mike yang menghubunginya. Dengan cepat Bagas menggeser tombol hijau agar tersambung dengan Mike yang belum memberi kabar sejak tadi pagi.   “Ya, Mike!” “ .... ” “Apa? Lo yang serius kalau ngomong!” “ .... ” “Alhamdulillah. Terus sekarang lo lagi di mana?” “ .... ” “Ya udah, cepet pulang. Gue udah tahu tempat persembunyian Aldy dan gue yakin Nisa ada di dalam!” “ .... ” “Yap!”   Bagas menutup panggilan telephone kemudian menyandarkan punggungnya yang terasa letih, namun matanya tetap tertuju pada pintu gerbang yang tak jauh dari posisinya menguntit. Sekitar sejam kemudian, pintu gerbang kembali terbuka dan mobil Aldy begerak perlahan keluar meninggalkan rumah tersebut bersama semua misteri yang masih tersimpan rapat. “Bentar banget nih bocah kayak numpang kencing doang!” gumam Bagas tak menyangka jika Aldy hanya sebentar ke rumah itu dan tak lama keluar pergi meninggalkan rumah tersebut yang kemblai sepi nan mencekam. “Buset dah! Serem banget hawa tuh rumah. Gue cabut dulu ya, Nis. Besok gue balik lagi bareng abang lo. Setidaknya kalau benar lo di dalam, lo aman karena gak ada si bego Aldy!” ucap Bagas seolah ada Nisa di hadapannya. Benar, setidaknya Bagas bisa sedikit lega karena Aldy pergi meninggalkan Nisa yang sendirian di rumah dan itu tentu sangat baik baginya untuk sementara waktu. Dengan berat hati, akhirnya Bagas pergi meninggalkan rumah tersebut yang berubah mencekam. Mobilnya mulai bergerak pelan menyusuri jalan yang tadi dilewati Aldy tanpa menyadari jika ada mobil hitam yang terus memantau rumah tersebut bahkan sejak siang hari tak jauh dari posisinya. 2 pria berjas hitam yang ada di dalam mobil terlihat berbicara kemudian salah satu di antaranya menelphone seseorang hingga beberapa menit kemudian mobil tersebut ikut pergi meninggalkan rumah itu, namun berlawanan arah dengan Bagas.   **** Di dalam rumah, Nisa yang mendengar suara pintu dibuka langsung menyudutkan dirinya di samping tempat tidur. Kedua lututnya ditekuk dan dipeluk erat oleh kedua tangannya yang terlihat semakin kurus. Matanya terus tertuju ke arah pintu tanpa berkedip. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang dengan keringat dingin yang mulai muncul di keningnya. Seminggu, sudah seminggu Aldy tak datang ke rumah itu dan hal itu membuat Nisa bernafas lega karena setidaknya dia tak merasakan sakit karena dipukul dan digagahi oleh pria yang ternyata adalah pemilik perusahaan di tempatnya bekerja sebagai cleaning service. Nisa tak pernah menyangka jika keputusannya untuk bekeja ternyata malah membawanya kembali kepada pria yang telah menghancurkan hidupnya 2 tahun yang lalu. Nisa tentu merutuki keputusannya memilih untuk bekerja paruh waktu dan mengabaikan segala larangan dari keluarga yang sudah begitu mencintainya. Nisa menyesal, tentu sangat menyesali keputusannya yang telah membawa kembali ke titik nol dari upayanya untuk bangkit dari keterpurukan, dan nyatanya, Nisa kembali hancur dan justru semakin terpuruk. Mata Nisa terus menatap arah pintu dengan mulut yang merapalkan doa-doa agar hal buruk tidak menimpanya, setidaknya saat ini. Hingga tak lama Nisa melihat dari celah pintu, lampu dari luar kamar yang dimatikan dan disusul suara pintu yang ditutup. Bunyi mobil pun terdengar dan perlahan suaranya semakin jauh lalu menghilang. Nisa menghembuskan nafasnya lega karena kali ini Tuhan berbaik hati karena masih melindunginya. “Alhamdulillah ... dia tak menyakiti kita!” Bersambung 24 April 2020/20.23     
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN