BACAAA!
****
Di sisi lain Mike tengah dalam perjalanan menuju desa tempat Nisa tinggal. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan seorang diri, akhirnya Mike sampai untuk kedua kalinya ke desa tersebut. Sebuah desa terpencil yang jauh dari kata ramai di mana penduduknya mayoritas bekerja sebagai petani. Suasana yang masih sangat asri khas pedesaan dan belum terkena polusi. Beberapa penduduk pergi ke kota untuk menjual hasil panennya menggunakan angkutan umum yang hanya beroperasi 3x dalam sehari.
Dengan yakin, Mike melajukan mobilnya perlahan masuk ke desa tersebut yang terlihat sepi karena memang jumlah penduduk di desa itu tak terlalu banyak. Tak berapa lama, Mike menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah kayu yang mulai reot termakan usia. Tangannya membuka pintu mobil dan melangkah pelan ke arah rumah tersebut. Nampak rumah kayu berukuran kecil dan sangat sederhana yang kini berdiri di hadapannya terlihat mulai keropos. Rumah itu dikelilingi pagar bambu yang telah ditumbuhi semak belukar pertanda rumah tersebut sudah lama ditinggalkan pemiliknya.
Mike menatap sekeliling rumah yang begitu sepi karena posisinya yang memang sedikit jauh dari rumah penduduk lainnya. Tak ada warga yang setidaknya lewat untuk dimintai keterangan. Mike menarik nafas berat dan tangannya menyentuh pintu pagar bambu yang ditutupi semak, lalu mendorongnya agar bisa masuk ke pekarangan. Langkahnya perlahan mendekat ke rumah itu, kemudian berhenti tepat di depan pintu. Pintu yang benar-benar sudah rapuh seolah ingin roboh serta langit-langit rumah yang telah dihiasi banyak sarang laba-laba.
“Bismillahirrahmanirrahim,” ucap Mike pelan, kemudian menyentuh gagang pintu.
Mike mendorong pintu itu penuh hati-hati dan ternyata tidak terkunci. Bau khas rumah yang lama tak dihuni seketika tercium di indra penciumannya. Mike mengibaskan tangannya sekedar mengusir debu dan sarang laba-laba yang menghalangi pandangan. Matanya menatap sekeliling isi rumah itu. Tak ada barang berharga satu pun, hanya ada kursi dan lemari kayu dengan beberapa piring serta gelas yang tersimpan di dalamnya.
Mata Mike langsung tertuju pada sebuah pintu yang hanya tertutup oleh kain dan menjuntai dari atas ke bawah sebagai penutup kamar tersebut. Langkahnya langsung tertuju pada kamar tersebut dan masuk ke dalamnya. Sebuah ranjang kayu beralaskan tikar serta sebuah bantal berwarna biru cerah tergeletak mengenaskan. Sebuah lemari usang tanpa pintu terlihat jelas menampakkan isinya tak jauh dari ranjang. Mike bergegas mendekat dan menyentuhnya. Tak banyak pakaian yang tersedia. Mike yakin pakaian itu adalah milik Nisa. Setelah memeriksanya dengan teliti, tak ada satu pun barang milik Nisa yang bisa menjadi petunjuk bagi Mike.
“Gak ada apa-apa,” gumam suara Mike pelan, lalu memasukkan kembali beberapa lembar pakaian lusuh itu ke tempat semula.
Mike pun menghembuskan nafasnya yang tiba-tiba terasa sesak. Mike mendekat dan mencoba duduk di ranjang kayu milik Nisa, kemudian menatap sekeliling. Tiba-tiba hati Mike terasa sakit membayangkan betapa sulit hidup yang dijalani Nisa selama ini, dan semakin menderita akibat perbuatan Aldy. Kalau pun Nisa bukanlah adiknya yang hilang, Mike tak akan membiarkan Aldy terus-terusan menyakiti Nisa yang tak bersalah.
“Tidak! Ini belum berakhir. Siapapun kamu, aku akan tetap menolongmu, walaupun aku berharap kau adalah adik kecilku!” suara sedih Mike terdengar meyakinkan hatinya agar tak mudah menyerah untuk mencari kebenaran yang terasa samar.
Mike bangkit dari duduknya dan bergegas keluar untuk masuk ke kamar yang ada di sebelahnya. Kamar milik nenek yang menemukan dan merawat Nisa selama ini. Kondisi kamar itu pun tak jauh berbeda dengan kamar Nisa. Mata Mike langsung tertuju pada lemari yang ada di sudut ruangan dan langsung membukanya tak sabaran. Diperiksanya setiap lembaran serta lipatan pakaian yang ada, dan tetap tak ada petunjuk yang ditemukan. Mike mengusap wajahnya kasar, kemudian berjongkok sambil memijat pelipisnya, pusing.
“Ya Allah, beri hamba petunjuk walau sedikit!” suara Mike terdengar bergetar penuh harap, berharap menemukan sesuatu sekecil apapun tentang Nisa. Nisa yang kini sedang menderita dan entah bagaimana nasibnya sekarang.
Mike terus menerus memijat pelipisnya yang telah merah, perlahan matanya terbuka dan melihat sebuah laci yang ada di bagian bawah lemari masih tertutup rapat. Tangan Mike ragu-ragu menyentuh laci tersebut dan menariknya hati-hati, terbuka. Sebuah plastik hitam tersimpan di laci tersebut dan langsung diraih oleh Mike. Tergesa Mike membuka ikatan pada plastik itu untuk segera melihat isinya.
‘Degg’
Mata Mike membulat sempurna melihat apa yang ada di dalam plastik tersebut. Seketika tubuh Mike luluh ke lantai tanah yang dingin karena kedua kakinya mendadak tak bertulang. Seluruh tubuhnya mendadak kaku, punggung kokohnya perlahan bergetar semakin kuat dengan mata yang perlahan memanas dan berkabut, kemudian tetes demi tetes airmata pun jatuh membasahi pipinya. Tangan besar Mike meraih sebuah pakaian bayi wanita berwarna pink, sepasang sepatu putih serta sebuah jepit rambut berwarna pink. Mike ingat jelas, itu semua milik Icha, pakaian yang adiknya kenakan ketika hilang di taman saat bayi. Dugaannya benar, Nisa adalah Icha, adiknya yang selama ini dia cari dan rindukan akhirnya ditemukan.
Mike terisak memeluk dan mencium pakaian tersebut berkali-kali sekedar melepas rasa rindunya yang selama ini tertahan bertahun-tahun. Airmatanya mengalir deras karena akhirnya dia menemukan adik kecilnya, adik yang sangat dicintainya. Nisa adalah adiknya, Marissa Aquarina.
“Akhirnya Kakak nemuin kamu, Dek!” suara Mike terdengar parau di sela tangisannya. Tangisan penuh bahagia dan kelegaan yang memenuhi seluruh relung hatinya. Diciuminya pakaian Nisa seperti orang gila, dihirup dalam-dalam aroma yang tertinggal di pakaian tersebut. Mike mengulas senyum lega menatapnya penuh haru.
“Tunggu Kakak, Dek!” ucap Mike seolah Nisa bisa mendengar setiap bait kata yang diucapkannya.
Setelah lelah dengan tangis kelegaan dan bahagianya, Mike bangkit dari duduknya yang mengenaskan di lantai. Dimasukkannya kembali pakaian milik Nisa ke dalam plastik, kemudian keluar dari rumah tersebut tergesa-gesa. Mike benar-benar tak sabar ingin bertemu dan memeluk adiknya.
Mike berjalan menuju mobil dengan langkah besarnya dan membuka pintu dengan kasar. Diraihnya handphone miliknya yang tergeletak di dashbor dan langsung menghubungi seseorang sambil menghapus sisa airmata di sudut matanya.
“Hallo, Gas!”
“ .... ”
“Gas, dugaan gue benar. Nisa adalah adik gue, Gas!”
“ .... ”
“Gue serius! Gue nemuin baju yang dipakai Nisa saat hilang di rumah ini. Ini udah cukup jadi bukti kalau Nisa adalah Icha, Marissa, adik gue yang gendut!”
“ .... ”
“Gue mau arah pulang, gue udah gak sabar nemuin Nisa!”
“ .... ”
“Lo serius?”
“ .... ”
“Ok.”
Sambungan telephone terputus dan menyisakan senyum terus terukir di wajah Mike yang langsung meluncur kembali ke Jakarta.
Bersambung
24 April 2020/20.22