Menguntit

889 Kata
BACAAA! **** Pagi ini, Mike sudah bersiap dengan pakaian santai, tanpa jas mewah yang biasa selalu membalut tubuhnya yang tinggi nan atletis. Hanya kaos putih dengan jaket serta jeans yang ia kenakan sehingga terlihat seperti akan berkencan dengan sang pacar. Tapi bukan, bukan kencan tujuan Mike hari ini. Semalam, Mike telah menghubungi Aldy untuk cuti kerja selama 2 hari karena ingin berkunjung ke rumah sanak keluarganya di Surabaya yang akan mengadakan pesta pernikahan. Alasan Mike tentu dipercaya oleh Aldy dengan mudah karena dia tahu benar, jika Mike memang memilki paman yang tinggal di sana. Tentu saja alasan tersebut hanya alasan belaka karena kenyataannya, Mike akan pergi ke kampung tempat Nisa tinggal dulu dan lebih tepatnya Mike akan mencari kebenaran siapa jati diri Nisa sebenarnya. Tak dipungkiri, besar harapan Mike, jika Nisa memang benar adalah adik kecilnya yang hilang belasan tahun yang lalu. Waktu sudah menunjukkan jam 9 pagi dan Mike langsung bergegas menuju garasi mobil setelah menghabiskan sarapannya yang kilat. Mike benar-benar sudah tak sabar untuk cepat sampai ke tempat tujuannya. Baru saja Mike memasuki mobil dan ingin menyalakannya, terdengar bunyi handphone yang bordering dan terlihat pada layar siapa gerangan yang menenlphonnya. “Bagas?” gumam Mike pelan. Dengan cepat Mike menggeser tombol hijau pada layar dan mengarahkan benda tersebut ke telinga kanannya. "Hallo, Gas. Ada apa?"  " ... " "Baru mau nyalain mobil, kenapa?"  " ... " "Udah, gue ngabarin semalam dan aman, dia gak curiga."  " ... " "Ok. Gue titip lo awasin ke mana Aldy pergi. Mungkin hari ini dia akan menemui Nisa dan jika benar, lo langsung hubungi gue."  " ... " "Ya udah, gue berangkat." " ... " "Yap!" Sambungan telephon akhirnya tertutup. Mike meletakkan handphone di dashbor dan perlahan melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah membelah jalan yang sudah terlihat padat. Perjalanan ke tempat tujuan memakan waktu sekitar 4 jam jika kondisi jalan tak macet dan Mike tentu berharap akan tiba di sana tepat waktu. Di tempat lain, setelah berbicara sebentar dengan Mike, Bagas terlihat siap dengan pakaian kerjanya dan tak lupa pula menghubungi orang suruhannya untuk selalu melaporkan perkembangan tentang keberadaan Jefry tanpa melewatkan hal sekecil apapun yang dilakukannya. Rencananya, Bagas akan mampir sebentar ke kantornya karena ada meeting yang harus dihadirinya dan setelahnya akan menguntit Aldy sesuai permintaan Mike untuk mengetahui keberadaan Nisa. Pasalnya, info yang didapat dari anak buah Bagas yang ternyata diam-diam memantau kegiatan Aldy seminggu terakhir ini, dia sering pergi ke daerah di pinggiran kota dan masuk ke sebuah rumah yang terpantau sepi serta terpencil seperti tak berpenghuni, dan akan keluar dari rumah tersebut tengah malam bahkan pagi hari. Kebetulan daerah tersebut merupakan kawasan perbukitan yang masih sedikit terdapat rumah warga dengan pemandangan yang hijau dan sejuk jauh dari kata polusi, kalaupun ada bangunan, hanya beberapa villa mewah yang nampak sepi seolah tak berpenghuni namun dijaga ketat. Tak memakan waktu lama, Bagas akhirnya sampai ke kantornya yang melakukan meeting sesuai jadwal yang sudah dibuatnya. Dua jam kemudian, akhirnya meeting pun selesai. Sebelum menuju tempat yang sudah dikabarkan orang suruhannya, Bagas menyempatkan diri untuk makan siang bersama Asistennya, Fajar. Dan tak terasa, waktu sudah menunjukkan jam 2 siang. Setelah selesai, Bagas langsung meluncur meninggalkan Fajar yang kembali ke kantor karena Bagas hanya mengatakan kepada Fajar bahwa dia harus pergi karena ada urusan yang harus dia selesaikan serta meminta Fajar untuk menghandle pekerjaannya dan meletakkan semua berkas penting di meja kerjanya agar besok bisa dia tandatangani. Menempuh jalan yang lumayan macet, Bagas akhirnya tiba di kawasan yang didapatkannya dari orang suruhannya yang telah mengintai Aldy selama seminggu. Saat ini, Bagas telah memarkirkan mobil hitamnya tak jauh dari sebuah rumah yang memiliki pagar tinggi dengan pintu gerbang yang tertutup rapat. Tak nampak rumah jika melihatnya dari depan karena pagar rumah yang terlalu tinggi dengan pohon rambat yang menjuntai menutupinya. Rumah tersebut seolah jarang dihuni dan nampak lengang tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Bahkan, kiri dan kanan rumah tersebut hanya kebun kosong yang tentu membuat kondisi rumah tersebut seolah mencekam. “Rapat banget nih rumah. Apa iya Nisa ada di dalam?” gumam Bagas yang betanya pada dirinya sendiri. Mata Bagas terus menelisik sekiar rumah tersebut. Benar-benar seperti rumah kosong dan bisa jadi hanya gudang tua di dalamnya karena siapapun yang melihat rumah tersebut dari luar tak akan tahu bangunan apa yang ada di balik pintu gerbang tersebut jika tidak masuk ke dalamnya. Benar, Aldy sengaja membangun rumah tersebut dengan design seperti itu, dengan tujuan agar tak seorang pun tahu jika di balik pintu besar tersebut ada rumah yang ternyata sangat indah dengan taman di sekelilngnya. Rumah itu dibuatnya untuk melepas penat dan menjernihkan fikirannya jika mengalami banyak masalah dalam hal pekerjaan dan yang lainnya. Dan ingin memberikan rumah tersebut untuk istrinya kelak sebagai tempat peristirahatan, tapi nyatanya rumah itu telah beralih fungsi menjadi tempat penyekapan dan penyiksaan terhadap seorang gadis yang dikurungnya selama sebulan terakhir sekaligus menjadi pemuas nafsunya. 3 jam sudah berlalu dan waktu sudah menunjukkan jam 8 malam namun masih tak ada tanda-tanda kehidupan di rumah itu. Perutnya terus-terusan berbunyi nyaring meminta jatah makan malam sehingga membuat Bagas berinisiatif untuk menghentikan kegiatannya mengamati rumah sepi itu dan akan melanjutkannya esok hari. Mobil yang dikendarai Bagas akhirnya bergerak pelan meninggalkan rumah tersebut hingga tak jauh dari lokasi, Bagas melihat sosok yang sangat dikenalinya keluar dari sebuah mini market tak jauh dari rumah itu. “Aldy!” Bersambung 24 April 2020/20.20    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN