Mie Instant

1311 Kata
BACAA!! **** Pesawat yang Jefry dan Maudy tumpangi akhirnya tiba di Jakarta sekitar jam 4 sore. Tak ada sanak keluarga yang menjemput kedatangan mereka. Orang tua Jefry tinggal di Semarang dan menitipkan Jefry kepada pamannya sebulan sebulan adik bayinya meninggal. Orang tuanya terpaksa pindah ke Semarang karena sang Ibu Jefry mengalami shock berat akibat kehilangan bayinya sehingga keluarga besar meminta mereka untuk pindah ke sana demi memulihkan kesehatan Ibunya. Setiap 6 bulan sekali Jefry akan mengunjungi orang tuanya di Semarang, bahkan Nisa pernah sekali ikut serta dibawa Jefry dan dikenalkan ke orang tuanya dan tentu menyukai Nisa yang saat itu masih berusia 8 tahun. Setelah lulus SMP, Jefry meninggalkan rumah orang tuanya di desa tempat Nisa tinggal dan pindah ke Jakarta untuk melanjutkan SMA serta kuliahnya kelak di salah satu Universitas ternama di sana. Sejak saat itu, Jefry jarang sekali kembali ke desa itu dan hanya kadang-kadang saja menghubungi pamannya sekedar memberi kabar. Sejak memasuki bangku kuliah, Jefry yang memiliki sifat anak baik-baik, perlahan berubah menjadi pecandu alkohol, keluar masuk Night Club serta sering melakukan ONS. Perangainya berubah ketika dia mengalami patah hati karena mengalami penolakan dari seorang junior cantik di kampusnya yang bernama Gisell. Sejak pertama kali melihat Gisel, hati Jefry langsung terjerat dan mabuk kepayang karenanya. Perasaan tersebut tentu hal pertama kali dialami olehnya. Besar harapan Jefry untuk mendapatkan sang pujaan hati, hingga suatu hari dia dengan berani mengutarakan perasaanya kepada Gisell namun ditolaknya. Penolakan itu benar-benar membuat hatinya hancur dan berubah kacau seolah hilang arah. Hingga Jefry memiliki rencana dengan mendekati Maudy yang notabene adalah teman baik Gisell dan memperalatnya dengan menjadikannya kekasih agar lebih dekat dengan Gisell. Maudy yang mendapatkan ungkapan cinta dari Jefry tentu tak menolaknya dan dengan tangan terbuka menerima Jefry menjadi kekasihnya yang memang sudah lama menjadi incarannya. Saking cintanya, Maudy bahkan dengan sukarela menyerahkan tubuhnya ke Jefry hanya karena cinta dan demi mengikat Jefry agar tak lari darinya. Berbanding terbalik dengan rencana Jefry yang hanya memanfaatkannya agara bisa menjalankan rencananya untuk mendekati Gisell. Ya, Jefry ingin memperkosa Gisell dengan tujuan agar Gisell hamil dan mau menikah dengannya. Sebejat itu niat Jefry yang sudah gelap mata ingin mendapatkan Gisell hingga rencana yang dia susun meleset jauh dari rencananya yang tanpa sengaja membuat Gisell tewas karena benturan di kepalanya. Jefry dan Maudy menggunakan jasa taxi untuk menuju apartemen miliknya di kawasan Jakarta Selatan. Sejam kemudian mereka pun sampai dan langsung bergegas masuk dengan 2 buah koper besar yang dibawanya. Setelah mandi dan istirahat sebentar, mereka turun untuk mencari makan dengan membawa mobil berwarna hitam yang meluncur menuju kawasan Senayan. Di sepanjang jalan, mereka terlihat begitu bahagia terutama Maudy karena sudah sangat rindu serta ingin kembali dan akhirnya terkabul. “Mau makan apa?” tanya Jefry. Maudy yang sedang melihat ke luar jendela menatap gedung yang menjulang tinggi serta banyaknya perubahan yang terjadi sejak misi kabur mereka, menoleh sesaat ke Jefry kemudian berpikir sejenak. “Aku mau makan Bakso!” sahut Maudy sambil menegrucutkan bibir dengan tangan mengelus perutnya yang sejak tadi sudah paduan suara. “Bakso? Enaknya makan bakso apa ya?” ucap Jefry sambil berpikir. “Aku pengin makan Bakso Unyil, Beb!” gumamnya merajuk. “Bakso Unyil? Boleh deh!” timpal Jefry yang langsung menuju arah di mana kedai bakso tersebut berada. Akhirnya, mereka sampai di sebuah Mall di kawasan Sudirman dan bergegas mencari makanan yang diinginkan Maudy. Mereka terlihat lahap menyantap hidangan yang memenuhi meja layaknya orang yang tidak pernah makan karena kebanyakan makan cinta. Tanpa mereka sadari, ada dua pasang mata yang sedang menatap tajam ke arah mereka dengan nyalang hingga tak berapa lama satu diantaranya menyalakan mode kamera lalu mengetik sesuatu di handphone miliknya dengan senyum terukir yang sulit diartikan. “Cabut!”   **** Seminggu sudah berlalu sejak pulangnya Jefry ke tanah air. Aldy menuruti saran yang diberikan oleh kedua sahabat karibnya agar tidak gegabah mengambil tindakan dan bermain cantik. Aldy menyuruh orang untuk menguntit 24 jam kegiatan Jefry dan Maudy dari jarak aman dan sejauh ini berjalan dengan lancar tanpa kendala apapun. Selama seminggu pula, Aldy seolah melupakan keberadaan Nisa di rumah terisolir itu, dan terakhir kali datang berkunjung ke rumah itu ketika Aldy mendapat kabar jika Jefry telah ditemukan. Kunjungan terakhirnya pun hanya melihat kondisi Nisa yang semakin menyedihkan dengan luka yang masih setia menghias tubuh kurusnya serta wajah pucat pasi. Tak ada siksaan atau hinaan yang Aldy lakukan saat menatap Nisa yang hanya duduk meringkuk di lantai dekat ranjang yang tampak berantakan. Hanya senyum yang terus menghiasi wajah tampannya yang tak dilihat oleh Nisa. Sejam kemudian, Aldy pergi meninggalkan rumah tersebut. Sedikit berbaik hati kepada Nisa karena dia telah menemukan Jefry, Aldy meletakkan sebuah dress berwarna biru langit sebatas lutut beserta pakaian dalam untuk dikenakannya. Selain itu, Aldy juga mengatakan kepada Nisa bahwa dia meninggalkan satu dus mie instant di dapur dan tak mengunci kamar yang dihuni oleh Nisa agar dia bisa memasak mie tersebut saat lapar. Setelah itu, Aldy pergi dan tanpa berkata kapan akan kembali. Nisa mengangkat wajahnya setelah mendengar langkah Aldy yang perlahan menjauh dan terdengar suara pintu yang di kunci. Benar, Aldy sudah pergi dan bukan kamar tempatnya berada yang dikunci. “Haaah!” helaan nafas lega akhirnya Nisa hembuskan untuk pertama kalinya sejak berada di rumah tersebut. Pelan-pelan Nisa mulai bangkkit dari duduknya dengan tangan bertumpu pada dinding dan berhasil. Dengan hati-hati Nisa melangkahkan kaki dengan tertatih, kaki kanannnya sakit dan sedikit bengkak karena terkilir saat Aldy mendorong tubuhnya saat terakhir kali Aldy menyiksanya. Dengan susah payah, akhirnya Nisa sampai di dapur. Dipandanginya kondisi dapur yang bersih dan tertata rapi karena jarang digunakan. Cat serta designnya sangat indah dan senyum kecil terukir di sudut bibir Nisa. “Bagus!” gumam Nisa melihatnya. Matanya tiba-tiba teralih pada sebuah dus yang tergeletak di atas meja dan dia yakin jika itu adalah mie instant yang dikatakan Aldy tadi dan dia boleh memakannya. Nisa mendekat dan membuka dus tersebut untuk melihat isinya. “Terima kasih, sudah meninggalkan makanan ini,” gumam Nisa menatap bahagia 1 dus mie instant yang ada di hadapannya. Disaat seperti itu, masih saja terucap syukur Nisa untuk orang yang telah menyakitinya. Setidaknya, itu lebih baik daripada mati kelaparan. Perut Nisa yang sudah keroncongan semakin histeris minta diisi dan dengan cepat Nisa mengambil sebungkus mie tersebut untuk dimasaknya. Tak lama kemudian, mie tersebut sudah matang. Nisa meletakkannya di meja makan dan duduk menatapnya dalam. “Bismillah!” mulut Nisa bergumam mengucapkan doa sebelum memakan mie tersebut. Dalam hitungan menit, Nisa sudah menghabiskan mie tersebut tanpa sisa bahkan kuah mie tak disia-siakannya. Perutnya terasa kenyang apalagi ditambah 1 gelas besar air juga tandas olehnya. Nisa menyandarkan sejenak punggungnya ke kursi sambil mengelus lembut perutnya sambil berkata, “Kenyang, ‘kan?”   **** Di tempat lain, seorang pria paruh baya sedang duduk mengesap kopi di tangan kanannya perlahan, sambil sesekali meniup lalu meminumnya. Di hadapannya telah duduk seorang pria dengan tubuh tegap yang tak lain adalah tangan kanan pria paruh baya tersebut. “Jadi ... itu yang dilakukannya selama ini?” tanyanya dengan suara datar setelah meletakkan kembali cangkir kopinya ke meja. “Iya, Tuan!” sahutnya singkat. “Anak itu benar-benar gegabah. Dibilang segera menikah malah memperkosa seorang gadis,” gerutunya dengan rahang yang mengeras. “Kau sudah selidiki siapa gadis itu?” ucapnya lagi. “Sudah, Tuan. Gadis itu adalah orang yang kita cari selama ini,” jawabnya tanpa ragu. Bukan hanya rahang yang kembali mengeras, bahkan kedua telapak tangan besarnya mengepal kuat dengan sorot mata menusuk tajam. Nafasnya terdengar berat, sambil memejamkan mata, pria yang tak lain adalah Reynold Setiawan, ayah dari Grinaldy Setiawan, diam-diam telah memantau tindak-tanduk putra sulungnya selama ini. Reynold tahu betul, jika kematian adiknya, Gisell telah menanamkan rasa dendam di hatinya, namun Reynold tentu tak membenarkan jika anaknya melancarkan aksi balas dendamnya yang justru menimbulkan masalah baru dan akan dia sesali seumur hidupnya jika tahu siapa yang telah dilukainya. “Temukan gadis itu!”   Bersambung 24 April 2020/20.20
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN