Cinta Mati

809 Kata
“Adik siapa?” tanya Aldy yang baru keluar dari toilet sambil merapihkan resleting celananya. Mike dan Bagas mendadak hening seketika kemudian melihat Aldy malas tanpa melanjutkan pembicaraan mereka. Aldy yang tak mendapat respon, memandang dengan kening berkerut kemudian memberikan obat cair dan kapas kepada Mike agar mengobati luka yang ada di wajahnya akibat adu jotos yang tanggung beberapa saat lalu. “Kenapa diam? Lagi bahas adik siapa?” ulang Aldy sekali lagi karena belum mendapat jawaban dari keduanya “Adik Mike, Icha!” sahut Bagas datar sambil meraih obat dan meneteskannya ke kapas untuk mengobati luka di bibir dan kening Mike. “Icha?” sahut Aldy mengulang ucapan Bagas. “Iya, Marissa. Lo masih inget gak dengan Icha gembul?” tanya Bagas lagi. “Ya ingetlah dan gue gak akan pernah lupa. Kalau Icha gak hilang, gue pasti udah nikahin dia sekarang!” jawab Aldy sesaat setelah mengusap kasar wajahnya. Saat masih kecil, mereka bertiga sudah tumbuh besar bersama dan kehadiran Marissa di tengah-tengah mereka selalu menjadi rebutan. Baik Aldy dan Bagas sudah menganggap Icha sebagai adik mereka sendiri dan selalu datang ke rumah Mike untuk bertemu dengan Icha kecil nan gembul di akhir pekan. Bahkan, Aldy dan Gisell selalu berkunjung dengan membawa banyak hadiah untuknya serta tak segan mengganti popok Icha. Pernah suatu hari, dengan lantang Aldy berkata jika besar nanti, dia akan menikahi Icha dan akan menghukum siapapun yang membuatnya menangis. Para orangtua yang mendengarnya, tentu tertawa dengan ucapan anak 10 tahun yang berbicara demikian dan tanpa paksaan, akhirnya orangtua mereka memutuskan akan menikahkan mereka jika sudah besar nanti. Hal itu tentu disambut senyum binar di wajah Aldy yang tengah menggendong Icha di pangkuannya dan berkata pada Icha "Icha mau kan jadi istri Kak Al udah gede nanti?" dan seolah mengerti, Icha kecil tertawa dengan suara sambil bergumam khas anak kecil, tak jelas. Senyum Aldy terus mengembang mengingat kejadian 18 tahun lalu ketika dia meminta Icha menjadi istrinya kelak, namum harapan itu harus pupus karena Icha telah hilang dan belum ditemukan hingga kini. Senyum cerah Aldy perlahan memudar dengan kedua tangan mengepal kemudian menyandarkan punggungnya ke sofa serta mata terpejam. Wajahnya terlihat prustasi jika mengingat tentang Icha yang entah bagaimana nasibnya kini. “Masih pengen lo nikahin Icha?” tanya Mike dengan suara baritonnya yang sontak membuat mata Aldy terbuka dan membenarkan posisi tubuhnya lalu menatap ke arah Mike. “Cuma Icha yang pantas jadi istri gue dan itu gak bisa dirubah!” sahut Aldy. “Tapi Icha belum ditemukan dan belum ada tanda-tanda keberadaanya,” sahut Mike lagi sengaja memancing reaksi Aldy. “Amit-amit ya Mike! Andai Icha udah gak ada sekalipun, gue gak akan pernah mau menikah dengan wanita manapun. Lo tahu sebesar apa hati gue buat Icha. Ya! gue udah jadi Bucin Akut Icha sejak dia masih merah dan gue hanya ingin dia, bukan yang lain!’ tegas Aldy dengan sorot mata tajamnya seakan memberi tanda jika tak ada yang bisa menggoyahkan hatinya jika membahas tentang Icha. “Dan gue yakin, cepat atau lambat Icha akan ditemukan!” lanjutnya lagi kemudian mengambil sebotol air mineral dan meminumnya, pelan. “Bagaimana jika Icha ada di dekat kita? Maksud gue, sebenarnya kita mengenalnya tapi tidak sebagai Icha melainkan orang lain serta identitas baru?” suara Bagas seolah memberi isyarat agar Aldy bisa mengasah otak pintarnya untuk kali ini saja. “Bisa jadi dan gue yakin, Icha pasti tumbuh menjadi gadis yang cantik. Ah s**t! gue gak rela kalo ada cowok yang deketin dia apalgi bikin dia nangis, hadeuuu ...,” gerutu Aldy kesal membayangkan berbagai macam kemungkinan. Mike dan Bagas saling menatap satu sama lain, hingga suara Bagas membuat Aldy terkejut tanpa kata untuk beberapa saat. “Bagaimana jika Nisa adalah Icha?” sahut Bagas yang membuat Aldy ternganga dengan mulut terbuka. “Gila lo, Gas! Kenapa jadi nyasar ke adiknya si Jefry sialan itu, gak nyambung lo!” beo Aldy tersenyum mengejek kemudian bangkit dari kursi menuju meja kerjanya dan meraih handphone yang sejak beberapa jam lalu tak dilihatnya. Bagas dan Mike menghela nafas berat. Mike langsung memijat kedua pangkal alisnya karena serangan sakit kepala yang mendadak hinggap serta Bagas yang menyandarkan punggungnya ke sofa dengan kedua tangan menyilang di d**a dan wajah mendongak ke atas, pusing memikirkan bagaimana berbicara baik-baik dengan Aldy dan membuatnya mengerti. Sejak Aldy terobsesi membalaskan dendam Gisell melalui Icha yang berperan sebagai adik Jefry sesuai informasi yang didapatnya, perangai Aldy menjadi tak terkendali dan sangat arogan. Aldy yang biasanya humoris namun tenang serta pria baik berubah menjadi seperti iblis jika membahas tentang seorang gadis yang bernama Nisa. Apapun alasan yang coba disampaikan oleh Bagas terutama Mike, selalu diabaikan bahkan lebih memilih adu jotos karena tak terima jika ada orang yang menasehatinya. Namun, perangai dadakan itu akan melembut kembali jika membahas hal di luar tentang hal tersebut. “Kalau Nisa adalah Icha, gue bunuh lo!”   Bersambung 15 April 2020/20.50
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN