Firasat

1241 Kata
Di sebuah rumah, sepasang suami istri paruh baya yang tak lain adalah Pak Dadang dan Buk Neneng sedang berbincang di ruang tengah. Terlihat jelas gurat kesedihan di wajah keduanya. Mereka sedang menunggu kedatangan Sopian yang sedang mencari keberadaan Nisa dan masih terus berharap akan menemukannya. Selama Sopian mencari keberadaan Nisa di Jakarta, Pak Dadang dan istri mendatangi kampung dimana dulu Nisa tinggal dan besar sebelum ditemukan oleh warga dan dirawatnya. Beruntungnya, dulu Nisa sempat menceritakan daerah asalnya yang ternyata cukup jauh. Mereka mendatangi rumah tempat Nisa tinggal dan bertanya kepada warga sekitar tentang keberadaannya, berharap ada di sana dan ternyata semua nihil. Tak ada jejak Nisa pernah kembali ke rumah reot itu, terhitung sejak kejadian yang menimpanya dua tahun lalu. Dengan menelan pil pahit, Pak Dadang dan istri akhirnya kembali dengan tangan kosong. Tak berapa lama terdengar suara mobil yang datang dan mereka langsung bergegas menuju ke teras rumah, dilihatnya Sopian berjalan lemah dengan wajah pucat, kelelahan. Pak Dadang langsung menghampiri Sopian dan memapahnya memasuki rumah, lalu mendudukannya di ruang tengah. Bu Neneng tergesa menuju dapur dan kembali membawa teh hangat, kemudian menyodorkannya ke bibir Sopian yang pucat untuk diminumnya perlahan. Mereka menatap iba anaknya yang belum mengucapkan sepatah kata pun. Tanpa bicara, mereka tentu tahu berita apa yang dibawanya. Buk Neneng yang duduk di samping Sopian memeluk anaknya erat dan menangis tergugu. “Maafin Pian, Pak, Buk!” ucap Sopian pelan dengan bibir bergetar. Semua hening dan menatapnya sendu. “Tidak, Nak, tak ada yang perlu dimaafkan,” sahut Pak Dadang. “Semua gara-gara Pian. Kalau Pian tak mengusulkan Nisa melanjutkan kuliah tentu semua tidak akan terjadi!” terang Sopian sambil berurai air mata dengan menunduk. Buk Neneng mengelus lembut punggung anaknya yang bergetar menahan tangis. “Harusnya Nisa tetap di sini, di rumah ini bersama kita, bukan hidup sendiri di Jakarta. Semua salah Pian, Maafin Kak Pian, Dek!! tangis Sopian pun pecah sambil memukul-mukul dadanya yang terasa sakit dan sesak. Buk Neneng langsung memeluk erat tubuh Pian dan menangis bersama. Sedang Pak Dadang terpaku duduk tak jauh di depan mereka ikut berurai air mata. Keluarga itu kembali berduka, sama seperti kejadiaan beberapa tahun lalu ketika Anin, sang adik kecil meninggal untuk selamanya karena sakit.   **** “Jefry ditemukan!"” Kedua pria tampan yang sedang seru-serunya baku hantam seketika berhenti dengan posisi tumpang tindih di lantai siap memukul. Keduanya melirik tajam ke arah Bagas yang sedang duduk sambil minum kopi seolah tidak ada sesuatu hal serius yang terjadi di sekelilingnya. Bagas memutar malas kedua bola matanya sambil menggerakkan jari telunjuknya ke gelas kemudian duduk bersilang d**a. “Lo bilang apa barusan?” kata Aldy bertanya dengan tangan tetap mencengkeram kuat kerah kemeja Mike. Seringaian mengejek terlihat di wajah Bagas, kemudian mengambil handphone di atas meja dan mengarahkannya ke arah Aldy dan Mike. “Nih! Mata-mata yang gue sewa kasih kabar Jefry ada di daerah Sudirman, lagi makan sama cewek!” sahutnya datar, kemudian menyandarkan bahunya ke sofa. Aldy dan Mike yang mendengar langsung melepaskan cengkeraman masing-masing dan bergegas bangkit menghampiri Bagas yang seolah pura-pura tidur. Aldy tanpa permisi langsung menyambar handphone yang dipegang Bagas dan membacanya dengan rahang yang mengeras serta raut wajah semakin merah. Tertera di layar, foto Jefry sedang makan dengan seorang gadis cantik yang tentu pernah Aldy lihat. “Berani nongol juga, tuh, orang!” geram Aldy yang langsung berjalan ke arah pintu untuk pergi. “Woy! lo mau ke mana, huh?” teriak Mike. Aldy menghentikan langkahnya dan menatap tajam Mike serta Bagas. “Ke mana lagi kalau bukan gebukin si sialan itu!” sahut Aldy kesal karena masih saja ditanya ingin melakukan hal apa. “Jangan gegabah, biar orang-orang gue yang ikuti. Dia baru saja landing dan kalau dia tahu, bisa-bisa dia kabur lagi. Repot lagi nanti?” terang Bagas meyakinkan Aldy agar tenang dan tidak gegabah. “Bener, Al. Biar kasih angin segar dulu ke dia sebelum ditangkap!” tambah Mike lagi. Aldy yang sudah berdiri di depan pintu berpikir-pikir dan menimbang kedua ucapan sahabat karibnya itu, kemudian mengangguk tanda setuju. “Ok. Gue ikuti rencana kalian!” sahut Aldy, lalu melangkahkan kaki duduk bersama yang lainnya. “Sebelum gue gebukin, tuh, si Jefry, enaknya gue main-main sama adiknya malam ini. Kangen juga ini burung pengen cari sarang!” gerutu Aldy terkekeh, kemudian meminum kopinya hingga tandas. Seketika mata Mike melotot dengan wajah merah menahan amarah yang kembali lagi dipancing oleh Aldy. ‘Brakk’ Suara meja dipukul kembali terdengar dan mengagetkan Bagas yang hanya menggeleng kepala lagi dan lagi.  “Bisa gak lo jangan libatin dia!” bentak Mike tepat di depan Aldy. “Wow ... wow ... sebenarnya lo kenapa, sih, Mike? Setiap gue sebut, tuh, cewek sial selalu marah gak jelas. Emang dia siapa lo, huh? Pacar bukan, apalagi saudara!” beo Aldy tak terima dengan larangan yang diajukan oleh Mike untuk kesekian kalinya dan tak pernah dihiraukan. Mike hanya diam dan tak mampu menjawab alasan kenapa dia selalu membela Nisa. Entah apa alasannya Mike juga bingung. Namun, sejak pertama kali dia melihat Nisa, hatinya merasakan seolah mengenalnya dengan baik dan juga ada perasaan yang tak asing di hatinya, sayang. “Gue mau boker dulu, mules lihat muka lo marah-marah terus!” cicit Aldy menuju pintu toilet tergesa. “Mike, sebenarnya ada apa dengan lo? Gue juga ngerasa kalau lo selalu marah jika Al sebut Nisa dan gue juga tahu dia gak salah, tapi harus ketiban sial gara-gara Jefry!” tanya Bagas penasaran. Mike manarik nafas berat, kemudian meminum air mineral untuk sekedar menenangkan dirinya dan menatap Bagas. “Gas, gue mimpi ada cewek minta tolong ke gue dan memanggil dirinya dengan sebutan Icha. Perasaan gue mengatakan kalau Icha adalah Nisa. Nisa adalah Marissa, adik gue yang hilang di taman 18 tahun lalu!” kata Aldy mengeluarkan segala dugaan yang akhir-akhir ini menguras pikirannya siang dan malam. “Gak mungkinlah! Icha adiknya Jefry, Al?” sahut Bagas. “Gak, dia bukan adik kandung Jefry. Dia cuma bayi yang ditemukan oleh nenek itu di sawah!” sahut Mike lagi. “Maksud lo?” tanya Bagas tak yakin. “Gue diam-diam ke kampung di mana Nisa tinggal dan bertanya kepada warga sekitar dan itulah yang gue dapat. Jefry memang memiliki seorang adik perempuan, tapi sudah meninggal setelah 6 bulan dilahirkan. Kebetulan nenek yang merawat Nisa adalah mantan pengasuh Jefry saat kecil dan selalu dipanggil nenek olehnya. Entah seperti apa berita yang didapat Aldy sehingga berpikir Nisa adalah adiknya dan membalaskan dendam Gisell ke Nisa!” terang Mike tanpa menutupi apa pun dari Bagas yang menyimak tanpa suara. “Lalu orang tua Jefry ke mana?” tanya Bagas. “Meneketehe! emang gue pikirin!” sahut Mike dibalas gelak tawa Bagas yang menggelegar. “Dih! dia tawa, dasar curut!! gerutu Mike kesal. “Lagian, gue tanya serius jawabnya bikin gue geli, dul!” sahut Bagas masih terkekeh. “Jadi Jefry gak kenal dong dengan Nisa?” “Kenal dan sayang banget malah kata warga karena sudah dianggap adik sendiri. Jefry meninggalkan rumah milik orang tuanya di desa itu setelah lulus SMP dan menetap di Jakarta. Sedangkan Nisa tinggal bersama si nenek di rumah reot miliknya.” “Terus rencana lo apa sekarang kalau lo merasa Nisa adalah Marissa?” tanya Bagas to the point. “Besok, gue akan kembali ke kampung itu lagi dan semoga gue akan temukan bukti di rumah itu jika Nisa adalah adik gue yang hilang!” ucap Mike yakin dengan tindakannya dan mendapatkan anggukan setuju dari Bagas. “Adik siapa?”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN