Pindahan

1030 Kata
Di pagi hari yang cerah, terlihat Nisa sedang bersiap-siap di kamar untuk mempersiapkan diri karena hari ini, dia akan pergi ke Jakarta demi melanjutkan pendidikannya, walaupun sudah terlambat selama dua tahun dari waktu kelulusannya saat sekolah menengah atas, tapi keinginannya untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi masih begitu besar apalagi keluarga Pak Dadang sangat mendukung terlebih Sopian yang akan menemani Nisa mendaftar di kampus tempatnya kuliah dulu. Hari itu, di mana Sopian pulang ke rumah lalu bertanya dan menawarkan Nisa untuk melanjutkan lagi sekolahnya tentu membuat Nisa kaget, namun sangat bahagia. Walau hidup pas-pasan bahkan sering kekurangan, Uwak Nenek selalu menekankan bahwa pendidikan sangatlah penting untuk masa depan, dan hal itu disambut baik Nisa yang memang pintar dan tak pernah malas untuk sekolah, walaupun jarak dari rumahnya ke sekolah terbilang cukup jauh dan harus ditempuh dengan berjalan kaki. Nisa bercita-cita ingin menjadi Dokter sukses dan membuat panti jompo yang akan dia persembahkan untuk Almarhum Uwak Nenek. Sejujurnya, Pak Dadang dan istri sangat berat untuk melepas kepergian Nisa, namun semua harus dilakukan demi cita-cita Nisa yang ingin menjadi seorang Dokter gigi seperti Sopian, putra sulungnya. Di Jakarta, Nisa akan hidup sendiri di sebuah kostan khusus putri yang telah dipilihkan oleh Sopian dan jaraknya tak jauh dari kampus agar memudahkan Nisa tentunya. Kostan tersebut juga tentu memiliki pengamanan yang cukup baik karena berada di kawasan perumahan yang bersih juga aman dan tamu pria tidak bisa sembarangan masuk apalagi menginap. “Pak, Buk, Nisa pamit ya,” ujar Nisa sambil mencium punggung telapak tangan Pak Dadang dan Buk Neneng sambil memandang mereka bergantian dengan mata berkaca-kaca. “Jaga dirimu baik-baik, Nak!” kata Pak Dadang kemudian memeluk Nisa lembut. “Iya, Pak!” sahut Nisa. “Jangan lupa makan dan jangan pulang hingga larut malam,” pesan Buk Neneng sambil memeluk dan membelai rambut Nisa dengan sayang dan berat melepas kepergiannya. “Iya, Buk!” sahut Nisa memeluk erat Buk Neneng. Sopian hanya diam menatap haru kedua orang tuanya yang terlihat jelas tak rela melepas kepergian Nisa untuk hidup sendiri di Jakarta demi melanjutkan masa depan pendidikannya. Walaupun sebenarnya mereka tentu sangat bisa menjenguk Nisa kapanpun, namun tetaplah sangat berat bagi orang tua melepaskan kepergian anak yang disayanginya dan tanpa pengawasan. “Nisa, sudah siang, ayo kita berangkat!” ajak Sopian membuat pelukan Nisa terurai. “Pak, Buk, Nisa berangkat ya,” ucap Nisa yang telah mengurai pelukan eratnya sambil menyeka airmatanya, pelan. “Jangan lupa telephone Ibu jika sudah sampai,” pesan Buk Neneng mengingatkan. “Iya, Buk, pasti Nisa kabarin. Assalamu’alaikum!” “Walaikumsalam,” sahut Pak Dadang dan istri bersamaan. Mereka melepas kepergian Nisa dengan rasa haru nan berat di lubuk hati, namun doa terbaik selalu teriring untuk kebahagiaan dan keselamatan Nisa yang akan hidup mandiri di kota berbeda dengannya. Di dalam mobil yang melaju pelan meninggalkan pekarangan rumah, Nisa memutar kepalanya menatap ke belakang memandang kedua orang tua yang berdiri sambil melambaikan tangan ke arahnya. Nisa harus meninggalkan rumah tersebut dan orang tua yang selama ini menyayanginya penuh kasih nan tulus. Sopian yang memegang kemudi, sesekali menatap Nisa yang masih terisak di sebelahnya dan mengelus puncak kepalanya untuk menenangkan adik yang sangat dia sayangi kini.   **** Di depan mini market yang nampak lumayan ramai, sebuah mobil Fortuner hitam terparkir di antara mobil dan kendaraan lainnya, hingga tak berapa lama kemudian, seorang pria membuka pintu lalu turun. Seorang pria tampan dengan postur tubuh tinggi besar memakai jeans dan jaket hitam yang membalut tubuh kekarnya, berjalan perlahan memasuki mini market tersebut. Beberapa kaum hawa baik muda ataupun tua, bahkan pria sekalipun yang melihatnya seakan terpana dengan sosoknya dan enggan berkedip untuk menikmati kesempurnaan ciptaan Tuhan yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka dan terus memandang agar tak kehilangan jejak arah pria tampan yang berlalu di depan mereka. Keadaan tersebut tentu berbanding terbalik dengan si pria tersebut yang hanya berlalu begitu saja tanpa perduli dengan keadaan sekitar. “Cih! Dasar wanita!” gerutunya pelan sambil berlalu memasuki mini market. Dia adalah Aldy, sang pria tampan yang dipuja banyak wanita karena memiliki ketampanan di atas rata-rata serta tubuh kekar nan atletis dengan hiasan roti sobek juga tentunya uang yang melimpah ruah tak habis tujuh turunan. Walupun gosip beredar luas di kalangan karyawannya yang mengatakan bahwa dia seorang Gay, namun pesona yang dimiliki Aldy akan tetap menggiurkan bagi para wanita yang haus belaian juga uang. Banyak wanita yang menawarkan kehangatan ranjang kepadanya, namun selalu ditolaknya mentah-mentah. Selain itu, Aldy memang sangat membatasi dirinya untuk berhubungan dengan wanita walaupun hanya sahabat karena dirinya lebih suka berteman dengan pria, dan itu pun hanya beberapa orang saja, karena di dasar hatinya dia telah memiliki cinta untuk seseorang, dan tak pernah berubah sedikitpun sejak dia masih kecil hingga saat ini. Aldy yang sedang sibuk memilih minuman dan cemilan merasa sangat risih karena tanpa sengaja mendengar beberapa wanita yang berbisik membicarakannya dengan khayalan-khayalan tak senonoh yang mengisi kepala wanita-wanita tersebut ketika melihat dirinya dan mencoba peruntungannya untuk menarik perhatian dengan cara mengedipkan mata bahkan menabraknya seolah tak sengaja. Namun Aldy tak bergeming malah menampilkan wajah dingin dan tak bereaksi sedikitpun, seolah menulikan pendengarannya yang mendadak terasa panas kemudian dengan cepat menuju kasir. “Ada lagi, Pak?” tanya seorang pria yang berjaga sebagai kasir. Aldy hanya menggeleng tanpa kata dan menyerahkan sebuah kartu kemudian menekan enam digit angka di sebuah benda persegi panjang berwarna biru. Tak berapa lama transaksi pun selesai dan Aldy bergegas keluar dari tempat yang dipenuhi suara-suara wanita khas penggunjing menuju mobilnya dan langsung tancap gas. Ketika mobil yang dibawanya baru saja keluar area parkir, pandangan Aldy tak sengaja menangkap sosok yang menurutnya tak asing. Perlahan dia menjalankan mobilnya lambat dan mendekat untuk memastikan jika yang diihatnya tidak salah dengan dugaannya. Ketika mendekat sosok tersebut yang sedang membeli minuman dingin di warung pinggir jalan akhirnya memutar tubuhnya hingga Aldy dapat melihatnya jelas. Seketika matanya membulat sempurna walau harus mengerjap beberapa kali karena dikejutkan dengan apa yang baru di lihatnya. Sosok gadis yang sangat dikenalnya, bahkan dia sangat hafal setiap bagian tubuh gadis tersebut yang pernah membuatnya mengeluarkan banyak tenaga demi mendapatkan kepuasan sepihaknya. Seringaian iblis pun akhirnya terbit di wajah tampannya karena mendapatkan kembali buruannya. “Ternyata kau masih hidup.” ~Bersambung 07 April 2020/10.10
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN