Pengakuan

1077 Kata
Di sebuah ruangan besar, Aldy sedang duduk di kursi kebesarannya menatap sebuah komputer berlogo apel kegigit yang menyala di hadapannya. Wajah tampannya terlihat begitu mempesona walau sesekali matanya terlihat membulat dengan kening berkerut seolah melihat sesuatu yang aneh, dan entah apa yang sedang dilihatnya saat ini. Perlahan wajahnya kembali normal dan persekian detik berikutnya kedua pangkal alisnya kembali menyatu di tengah, lalu menarik nafas dalam, menatap layar, dan bereaksi seperti tadi. Begitu seterusnya sampai berulang-ulang dengan sesekali mengumpat. Hingga seseorang membuka pintu dan masuk ke ruangannya kemudian duduk di hadapannya tanpa disadari sama sekali olehnya. Satu Dua Tiga ‘Brakkk’ Bunyi meja dipukul kasar oleh seseorang yang sontak mengagetkan Aldy seraya memegang dadanya, kaget. “Apaan sih lo, Gas. Ngagetin ajah! Bisa jantungan gue, njirrr!” kesal Aldy menatap orang yang baru saja memukul meja, dan ternyata Bagas sang otak m***m. “Lah elo dari tadi gue panggil gak jawab-jawab. Serius banget ngalahin gue lagi genjot Cinta di kasur!” beo Bagas membandingkan gaya serius Aldy dengan ritual ranjangnya. “Cih! otak lo ya, Gas,” decih Aldy sambil tersenyum geli. “Ngapain lo kesini?” lanjutnya lagi setelah beranjak dari kursinya dan bergabung bersama Bagas di sofa. “Kangen gue ma elo, sampe cenut-cenut gini rasanya,” sahut Bagas santai sambil mengedipkan matanya. “Idih najis! Kalo gigi cenut-cenut pergi ke dokter bukan kemari. Gak ada tank buat cabut gigi lo!” sahut Aldy bergidig menatap Bagas yang sedang kumat. “Jangan pura-pura, gue tahu lo lagi pengen,” sahut Bagas terkekeh geli. Aldy yang mendengarnya malas menanggapi dan hanya geleng-geleng kepala. Waras nih bocah! “Lo lagi lihat apaan sih sampai gue panggil-panggil gak dengar? Kepo gue!” tanya Bagas penasaran sambil melirik ke komputer sesaat. “Gue lagi iseng tiba-tiba buka Pesbook, terus gak sengaja lihat status si Ajeng yang banyak dikomentari orang-orang, dan ternyata gue jadi bahan gosipan karyawan. Suwe bener!” kesal Aldy dengan iler tumpeh-tumpeh menceritakan hasil menguntitnya barusan. “Gosip apaan emang? Seru nih kayaknya!” timpal Bagas tertarik dengan cerita Aldy yang sedang hot jadi bahan gosip. “Kata mereka gue ganteng tapi Gay, gara-gara gue gak pernah kelihatan gandeng cewek dan yang ada gue galak bahkan sama karyawan cewek di sini. Makanya gak ada cewek yang mau sama gue walau ganteng dan kaya raya. Begitu tulisannya!” papar Aldy berapi-api dengan mata penuh dendam. “Hahahahahahaha ....” Tawa Bagas terbahak pun pecah mengisi ruangan tersebut sedang Aldy hanya menggerutu tak jelas layaknya emak-emak ngambek gak dikasih duit buat beli jengkol. “Lihat aja! Bakal gue pecat-pecatin mereka!” ancam Aldy kesal namun terlihat lucu di mata Bagas. “Hahahahahaaaaa … emang iya lo Gay. Golok 212 lo aja gak pernah lo asah, ‘kan? Gue yakin udah karatan dan sebentar lagi juga kropos!” hina Bagas sambil tertawa yang tak kunjung berhenti. “Sialan lo Gas, gue normal bege!” bentak Aldy kesal. “Masa? Seumur-umur gue kenal lo, dari kecil sampai sekarang, gue emang gak pernah lihat lo gandeng cewek tuh! Apalagi genjot gaya bebas sambil teriak-teriak!” jawab Bagas mengejek. Aldy pun mendengus kesal mendengar ucapan Bagas yang masih saja terkekeh. Belum tahu saja kalau Aldy adalah pria liar nan kejam layaknya seorang psychopath. “Belum pernah genjot lo bilang? Cih! jangankan genjot bahkan gue udah pernah menyiksa cewek bau kencur hingga babak belur sebelum gue genjot dia sampai gue puas!” terang Aldy yang membuat Bagas menghentikan tawa mengejeknya seketika, diam dengan tubuh menegang. ‘Glekk’  Bagas menelan ludahnya berkali-kali mencoba mencerna baik-baik ucapan Aldy yang entah sejak kapan, wajahnya berubah terlihat kejam dengan sorot mata yang sangat tak biasa. Hal tersebut membuat Bagas bergidig ngeri karena baru pertama kalinya dia mendapati Aldy yang seperti bukan dirinya. Bagas merasakan kerongkongannya kering tak tertahankan dan terbatuk kecil beberapa kali mencoba menenangkan hatinya yang mendadak gusar. “Nih bocah kerasukan setan mana sih, serem banget dah!” suara batin Bagas heran sendiri. Menarik nafas pelan, Bagas mencoba memberankan diri dan menatap Aldy yang nampak kesal. “Lo bicara apaan sih Al, pake acara siksa-siksa segala, serem gue njirrr!” ucap Bagas dengan suara sedikit ciut dan bergidig ngeri. Aldy yang mendengar ucapan Bagas seketika wajahnya berubah melembut lalu terkekeh kecil dan berdiri di depan Bagas seraya memegang bahunya. “Gue lupa bilang ya kalau gue udah perkosa adik si b******k itu dua tahun yang lalu” terang Aldy menatap Bagas kemudian berjalan menuju jendela besar yang ada di belakang mejanya dan berdiri menatap keluar dengan tangan dimasukkan ke saku celananya. Nafas Bagas tercekat dengan jantung bergemuruh dan mata membulat sempurna mendengar ucapan Aldy barusan yang terdengar begitu ringan diucapkannya. Bagas hanya menggeleng tanda tak percaya dengan yang barusan didengarnya, bohong. “Al, lo bercanda ‘kan?” tanya Bagas yang kini mendekat ke arahnya dan berdiri di belakangnya. Aldy tersenyum devil dan memutar tubuhnya menghadap Bagas dengan wajah menyeringai. “Buat apa gue bohong? Gue udah menyiksa dan memperkosa tuh bocah, lalu melempar tubuh kotornya yang udah gue jamah ke semak-semak” jawab Aldy dingin tanpa ekspresi. “Lo gila! Lo sadar gak apa yang udah lo lakukan, heuh?” bentak Bagas seketika. “Kenapa lo jadi bentak gue? Jefry yang udah bikin gue gila! Apa yang sudah gue lakukan ke adiknya, masih belum seberapa dengan apa yang dia lakukan ke Gisell, dan elo lihat itu dengan mata kepala lo sendiri!” bentak Aldy lebih garang dari Bagas. Bagas geleng-geleng kepala, hatinya tetap tak percaya dengan pengakuan Aldy yang baru didengarnya. Dua tahun yang lalu, Aldy sudah melakukan kesalahan besar dan dia baru mengetahuinya. Tak habis fikir dengan otak waras Aldy yang mendadak bebal. Dia menatap Aldy yang sedang meneguk air di tangannya dengan kedua tangan mengepal dan rahang mengeras. “Jadi lo sudah bunuh adiknya?” lirih Bagas menatap Aldy yang tetap mempertahankan wajah dinginnya. “Maybe dan gue gak perduli!” jawab Aldy bergidig bahu meninggalkan Bagas yang mematung lalu duduk kembali ke kursi kebesaran untuk memulai lagi aksi menguntit karyawannya. Bagas diam tak bergerak, satu kenyataan yang harus dia terima. Aldy menyakiti orang yang salah. Orang yang tak tahu apa-apa dan tak ada kaitannya dengan masalah yang telah terjadi bertahun-tahun lalu. Seketika rasa sesal menggelayut di hatinya, menyesal kenapa tak menjelaskan hal yang sebenarnya. Hal yang belum diketahui Aldy tentang gadis itu yang tak lain adalah Nisa. Hanya dia dan Mike yang tahu. Mereka terlambat mengatakannya kepada Aldy. “Lo sudah menyakiti orang yang salah, Al!” ~Bersambung 07 April 2020/10.09
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN