‘Plak plak’
Tamparan demi tamparan terus dilayangkan pria itu ke pipi Nisa tanpa perasaan. Wajahnya kini dipenuh lebam dan terlihat darah segar keluar di sudut bibirnya yag kecil dan bengkak, bahkan darah segar menetes dari hidung mancungnya. Tubuhnya lunglai serta ketakutan menyergap dirinya yang tak mengerti apa yang terjadi hingga mengalami hal tersebut. Dengan tubuh yang bergetar dan tersudut di pojok ruangan besar berwarna abu-abu, Nisa menekuk kedua kakinya dan memeluknya erat hingga menyatu dengan tubuh kecilnya sambil terisak. Sang pria asing itu, “Grinaldy Setiawan” perlahan melangkah mendekat ke arahnya yang tersudut di bawah jendela menekuk tubuhnya yang rapuh. Aldy semakin dekat menghampirinya menatap benci sambil membuka ikat pinggang kasar dan tergesa. Setelah ikat pinggang itu terlepas dari celana yang dia kenakan, denga keras Aldy mengibaskannya ke lantai seolah memberi aba-aba bersiap untuk memecut. Nisa terbelalak mendengar suara yang ditimbulkan ikat pinggang karena terdengar begitu menyeramkan dan menatap penuh takut datangnya pria yang kini semakin mendekat ke arahnya. Aldy terus mengibaskan ikat pinggang tersebut sambil menyeringai melihat bahagia raut wajah Nisa yang ketakutan dengan kepala yang terus menggeleng, pertanda memohon agar tak melakukan hal kejam yang sudah menantinya di depan.
“A-ampun, Tuan, hiks .…” Nisa memohon dengan suara bergetar sambil menekuk kedua lutut dan memeluknya erat dengan linangan air mata yang tak bisa lagi menyembunyikan rasa takutnya dan terlihat jelas.
Namun apa yang didapat, bukan ampunan atau rasa empati, melainkan pecutan demi pecutan terus terdengar menyapa telinga hingga melukai tubuh mungilnya yang tak berdaya. Tanpa belas kasih, Aldy terus mencambuknya dan mengabaikan jerit tangis Nisa yang memilukan layaknya manusia tak mendengar. Entah sudah berapa banyak cambukan yang sudah menyentuh kulitnya sehingga membuat tetes demi tetes darah segar jatuh ke lantai berwana putih itu. Pakaian yang dikenakan Nisa telah robek di berbagai sisi dengan bercak merah karena darah yang keluar dari luka yang ditimbulkan pecutan tersebut. Perlahan tapi pasti, tangisan Nisa semakin hilang dari pendengaran Aldy, Nisa lelah dan suaranya habis karena terus menangis dan memohon namun diabaikan. Tubuhnya mati rasa dengan rasa sakit yang bertubi-tubi menyerangnya. Tanpa rasa iba, Aldy tak menghiraukan Nisa yang terkulai lemah akibat cambukan yang terus dia layangkan, bahkan dengan tega menendang tubuh kecil Nisa yang nampak tak berdaya menahan perih luka yang kini menghias tubuhnya. Aldy dengan kasar menendang beberapa kali perut Nisa layaknya sebuah bola.
“Akh!” jerit Nisa pelan seraya memegang perutnya yang ditendang Aldy beberapa kali layaknya sebuah kaleng kosong yang mengganggu jalannya.
“RASAKAN INI GADIS SIALAN!” teriak Aldy sambil menendang tubuh Nisa yang meringkuk dan terisak menahan sakit.
Dengan kuat Aldy menarik tangan Nisa, memaksa berdiri tubuhnya yang lemah seperti orang pesakitan, diseret kemudian dibanting ke ranjang king size dengan kasar. Nisa yang tak berdaya hanya terbaring meringkuk menahan sakit di sekujur tubuhnya. Tak berapa lama tubuhnya ditarik hingga terlentang dan kini posisinya berada di bawah Aldy yang ternyata sudah topless. Nisa mendelik kaget dengan linangan air mata yang semakin deras, Aldy menatap Nisa dan menyeringai kejam kemudian menyentuh dan menyatukan bibirnya kasar, bahkan menggigit agar lidahnya dapat menerobos masuk dan membelit kasar.
“Hmmmph,” suara Nisa yang tercekat dalam sentuhan paksa Aldy sambil memukul-mukul dadanya yang bidang, tapi tak berarti apa pun baginya yang tak ada tanda untuk berhenti.
Perlahan namun pasti, sentuhan Aldy yang kasar turun ke leher jenjang Nisa dan meninggalkan banyak bercak merah keunguan kemudian merobek kuat bajunya hingga menampilkan pemandangan indah yang nampak kencang meski tak terlalu besar masih terbungkus kain renda putihnya. Tangan kekar Aldy tanpa ragu menarik kain tersebut hingga kini tak tertutup apa pun. Aldy menyeringai licik kemudian menyentuh dengan tangannya kasar dan menjatuhkan bibirnya pada dua gundukan yang nampak menggiurkan baginya seperti seorang bayi yang kehausan.
“Aahh! Hentikan … aku mohon, hiks ... hiks ...,” pinta Nisa memohon sambil meringis merasakan bagian dadanya yang diremas dan digigit kuat membutanya sakit.
“COBA HENTIKAN JIKA KAUBISA!” ucap Aldy kasar kemudian menampar Nisa, lalu mengunci kedua tangannya ke atas kepala dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya mendarat di d**a Nisa dan menyentuh kuat-kuat sehingga membuatnya memekik kesakitan.
Sentuhan kasar Aldy semakin turun ke bawah hingga sampai ke organ intim Nisa yang masih ditutupi kain. Namun dengan sekali tarikan terlepas dan kini, Nisa sudah telanjang. Walau terlihat banyak lebam dan luka gores di tubuhnya, Nisa terlihat sangat menggiurkan untuk dicicipi. Aldy membenamkan wajahnya di antara kedua paha Nisa dan mengobrak-abrik isinya tanpa merasa jijik.
“Aaaghhh!” suara tertahan pun lolos di sela isakan tangis Nisa. Dia terus menendang-nendang kedua kakinya, tapi tak kuasa karena Aldy memegang kencang kedua belah pahanya sehingga membuat Nisa tak berdaya.
“Hentikan, aku mohon … jangan … akh!” ucap Nisa yang terus diabaikan. Kedua tangan Nisa meremas-remas seprei untuk menahan semua perlakuan Aldy yang kasar dan menjijikkan baginya. Nisa terus menangis dengan isak yang semakin pilu sambil menutup matanya. Hingga tangan Aldy meraih rahang Nisa dengan tatapan penuh kebencian.
“Sudah siap untuk permainan inti, huh?” tanya Aldy dengan senyuman kejinya.
“Ti-tidak. Aku mohon lepaskan aku, Tuan. A-aku mohon biarkan aku pergi hiks ... hiks ....” Aldy hanya tersenyum sinis mendengar permohonan Nisa.
“Akh!” teriak Nisa merasakkan benda keras memaksa masuk tanpa izin bagian tubuhnya yang tak pernah disentuh pria mana pun.
Sakit, itulah yang dirasakan Nisa. Dia baru tersadar benda keras itu kini telah merusak bagian tubuhnya paling berharga yang dia jaga dengan baik dan kini telah direnggut paksa pria jahat, pria asing tak dikenalnya. Air mata menetes semakin deras membuat hatinya semakin pilu. Nisa menggelengkan kepalanya memohon agar Aldy menghentikan aksinya. Namun Aldy malah perlahan bergerak di atas tubuhnya dengan gerakan yang semakin lama semakin cepat membuat Nisa harus benar-benar pasrah dengan keadaanya kini.
“Suka, hmm?” geram Aldy yang terus berpacu dengan gerakannya.
“Akh! Sakit hiks ... hiks ...,” ringis Nisa yang merasakan sakit di sekujur tubuhnya yang perlahan semakin mati rasa.
Nisa tentu tidak menikmati kegiatan terlarang yang dipaksakan itu, berbeda dengan Aldy yang begitu buas terus menikmati perbuatan bejatnya hingga beberapa saat kemudian, Aldy memuntahkan lahar panas nan haram miliknya di rahim Nisa. Nafas keduanya tersenggal setelah mencapai tepian. Namun Aldy tak memberikan banyak waktu untuk Nisa beristirahat karena Aldy kembali menyatukan diri dengan tubuh kecilnya yang terasa telah remuk dan tak berdaya hingga akhirnya Nisa pingsan.
CUT!
07 April 2020/10.00