Dibuang

981 Kata
Waktu telah menunjukkan jam 4 pagi, sayup-sayup terdengar suara kumandang adzan subuh dari kejauhan yang selalu setia menyapa telinga sekedar mengingatkan manusia untuk menghadap kehadirat Tuhan semesta alam. Di antara gelapnya waktu subuh, di jalan besar yang melintasi sebuah perkebunan, dari kejauhan nampak sebuah mobil hitam bergerak lambat kemudian menepi dan berhenti di pinggir jalan sebuah area kebun jagung yang masih sangat sepi dan gelap, hanya ada suara jangkrik yang terdengar memecah kesunyian. Tak berapa lama, terdengar bunyi pintu mobil yang dibuka dan tampaklah seorang laki-laki tegap berpakaian santai serta rambut kusutnya mengenakan pakaian serba hitam yang tak lain dan tak bukan adalah Grinaldy Setiawan. Aldy kembali menutup pelan pintu mobil yang dibukanya namun berjalan tergesa ke pintu penumpang di bagian belakang. Dengan cepat dibukanya pintu penumpang lalu membungkukkan tubuh besarnya untuk masuk ke dalam. Tak berapa lama, Aldy keluar dari mobil tersebut dengan membopong sesosok tubuh kecil dibalut sebuah kain putih yang melilit asal dan sekenannya. Terlihat jelas noda darah yang tercecer serta telah mengering di beberapa bagian kain tersebut. Tubuh seorang gadis dengan banyak luka lebam serta cambuk yang menghiasi tubuhnya. Jelas terlihat luka memar bekas pukulan dialami gadis itu yang tak sadarkan diri. Dengan langkah tegap Aldy berjalan menghampiri semak-semak yang tumbuh lebat nan rimbun tak jauh dari mobil yang diparkirnya di tepi jalan, kemudian dengan entengnya melempar kasar tubuh kecil dalam bopongannya ke semak-semak itu layaknya kantong sampah. ‘Brukk’ Tubuh kecil Nisa membentur tanah dingin yang sedikit becek tanpa pekikan suara kesakitan yang keluar dari bibir lebamnya karena saat itu Nisa masih dalam keadaan pingsan setelah diperkosa, disiksa dengan kejam dan brutal oleh Aldy seperti seorang jalang. Tubuh tak berdaya Nisa dibuang Aldy seperti mayat dengan kondisi yang sangat mengenaskan laksana bangkai yang menjijikkan. Sesaat setelah melempar tubuh Nisa, Aldy memandang tubuhnya yang terkapar di semak dengan posisi miring dengan kepala yang membentur kayu cukup keras. Terbit sebuah senyuman yang diselimuti aura kebencian menatap dalam ke arah korbannya yang tak berdaya kini. Sambil mengulas senyuman sinis, Aldy memutar tubuhnya segera beranjak pergi meninggalkan korbannya tanpa merasa bersalah sedikitpun apalagi menyesali segala perbuatan kejinya. Langkahnya tanpa ragu memasuki mobil yang masih menyala lalu melajukan mobil hitamnya yakin menembus jalan gelap di perkebunan yang sepi dan gelap itu. Dani kini, tinggallah Nisa sendiri yang tergeletak mengenaskan di antara semak-semak yang basah dan dingin serta ranting kering tajam yang menusuk kulitnya. Matikah? Waktu sudah menunjukkan jam 6 pagi, para petani sekitar mulai berdatangan ke kebunnya dan menyibukkan diri dengan pekerjaannya masing-masing. Terlihat ada beberapa petani membawa turut serta anaknya yang masih kecil ke sawah dan nampak ceria bermain-main sambil berlari-lari kecil dan bermain petak umpet dengan teman sebayanya. Nampak, seorang anak laki-laki berusia sekitar 6 tahun berlari ke antara rimbunnya semak-semak tak jauh dari lokasi orangtuanya yang sedang bekerja, hingga tiba-tiba terdengar sebuah teriakkan keras. Para petani yang mendengarnya tentu kaget dan memandang ke arah datangnya teriakan tersebut yang ternayata berasal dari seorang anak kecil yang diketahui bernama Kamil. Melihat Kamil yang berteriak ketakutan membuat para petani menghentikan kegiatannya dan berlari menghampiri Kamil yang nampak pucat pasi tergugu berdiri mengahadap rimbunnya semak belukar. “Ada apa, Mil?” teriak Ridwan selaku ayah Kamil yang berlari cepat menghampirinya. Kamil tak menjawab dan wajahnya nampak pucat dengan tubuh bergetar ketakutan sambil menutup wajah imutnya. Jari telunjuk kanannya yang mungil menunjuk ke arah semak-semak di depannya yang kemudian diikuti arahnya oleh Ridwan dan para petani yang kini ikut berdatangan menghampiri. “Astaghfirullah!” pekik kaget Ridwan dan yang lainnya mendapati apa yang mereka lihat. Beberapa ibu-ibu petani yang melihatnya menutup mulut mereka karena kaget dan dengan cepat ibunda Kamil membawa anaknya meninggalkan lokasi tersebut. Tak berapa lama, seorang wanita paruh baya membuka kain yang dikenakannya dan tanpa ragu melangkah maju mendekati tubuh Nisa yang tergolek mengenaskan kemudian menyelimuti tubuh Nisa yang penuh luka juga sedingin es. Tangan berkulit kasarnya menyentuh hidung kecil Nisa, terdiam sesaat kemudian mendongak menatap warga. “Dia masih bernafas. Tolong bantu mengangkatnya dan bawa ke rumah saya,” pinta sang wanita bernama Neneng. Dengan cepat, Pak Ridwan bergerak maju dan mengangkat tubuh kecil Nisa. Beruntung karena tubuh Nisa yang kecil sehingga Pak Ridwan tak mengalami kesulitan. Kini, Nisa masih terbaring tak sadarkan diri di atas kasur empuk nan hangat di rumah wanita paruh baya tadi yang tak lain adalah istri kepala desa di daerah itu. Dokter yang memeriksanya telah pergi setengah jam yang lalu dengan meninggalkan beberapa obat luar seperti salep dan obat untuk diminum. Buk Neneng tinggal berdua dengan suaminya Pak Dadang, dia memiliki seorang anak laki-laki yang kini sedang kuliah di Jakarta dan akan pulang sebulan sekali di akhir bulan. Saat ini, dua orang paruh baya tersebut sedang berbincang di ruang tengah karena baru saja beberapa warga telah pergi meninggalkan kediamannya untuk kembali ke kebun melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti. “Siapa orang yang sangat tega melakukan hal b***t seperti itu ya, Pak?” suara Buk Neneng terdengar sangat geram dan bergetar. Pak Dadang menarik nafas beratnya sambil menoleh ke arah istrinya dengan tatapan sendu. “Penjahat itu tak meninggalkan jejak apa pun dan ini sulit bagi kita untuk menemukannya, Buk,” sahut Pak Dadang menimpali istrinya. “Dia masih sangat muda, ibu rasa usianya sama dengan Anin jika masih hidup, Pak,” jelas Buk Neneng dengan bulir air matanya yang sedari tadi terus saja mengalir melihat keadaan Nisa yang memilukan. Anin adalah anak mereka yang meninggal karena sakit leukimia saat masih berusia 9 tahun. Pak Dadang menatap istrinya iba ketika ingatannya kembali berputar mengingat anaknya yang telah tiada dan sangat dirindukannya. “Semoga Allah memberikan azab yang pedih untuk orang yang menyakitinya,” doa buruk pun terucap dari mulut Buk Neneng yang terdengar bergetar sambil menghapus air matanya yang tak kunjung reda. Beberapa saat kemudian, suasana ruangan kembali hening hingga suara teriakan dan tangisan pilu terdengar jelas dari kamar yang membuat kaget kedua paruh baya tersebut. Dengan tergesa, mereka beranjak tergopoh menuju kamar yang ditempati Nisa. ‘Ceklek’ “Hiks ... hiks .... ampun … jangan, Tuan.”   CUT! 07 April 2020/10.05
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN