Gagal

1100 Kata
‘Tap tap tap’ Suara langkah kaki terdengar jelas memasuki sebuah pintu besar di sebuah rumah mewah yang harganya kisaran di angka puluhan milyar rupiah. Pria tampan yang tak lain adalah Grinaldy Setiawan berjalan tegap nan penuh kharisma diiringi seorang pria dewasa yang terlihat seusianya, berjalan tak kalah gagah di belakangnya dengan balutan jas hitam mahal yang dikenakan serta sepatu senada tak kalah mengkilat. Dengan wajah tampan dan postur tubuh yang gagah layaknya pria dewasa yang matang di usianya menginjak 26 tahun, Aldy tersenyum ramah ketika berpapasan dengan para Maid yang bekerja di rumah besarnya itu. Perlahan mereka berdua memasuki sebuah ruangan besar yang ada di lantai dua rumah besar tersebut dan tak lain merupakan ruang kerja Aldy. “Ada apa Mike? Apa yang mau lo sampaikan?” tanya Aldy setelah pintu ruang kerjanya tertutup dan tinggallah mereka berdua di ruangan itu. “Om Rey semalam nyari lo karena ada hal yang ingin dibicarakan katanya. Berkali-kali hubungi lo tapi gak aktif,” terang Mike santai namun dengan wajah serius yang kini telah duduk di sebuah sofa panjang tak jauh dari jendela. Sesaat Aldy menatap tajam ke arah Mike yang dengan cepat membuang wajahnya menatap arah lain seolah tak ingin mendapati raut wajah Aldy yang berubah dengan cepat ketika mendengar tentang ayahnya, Reynold. “Ada apa Papa cari gue ya?” gerutunya dengan wajah masam namun bertanya pada dirinya sendiri.  “Sebenarnya semalam lo pergi kemana? Berkali-kali gue hubungi tapi handphone gak aktif,” tanya Mike penasaran. “Tentu saja bersenang-senang dong, Mike. Semalam gue bener-bener basah karena mandi keringat hahaha ... ” jawab Aldy cuek sambil terkekeh geli seperti pria b******k. Mike pun berkenyit bingung memandang wajah Aldy yang tersenyum sumringah, mencurigakan. Suasana seketika berubah hening hingga helaan nafas berat Aldy terdengar namun seringaian yang sangat Mike kenali tercetak jelas di wajah sahabat kecilnya yang tampan namun membuat bulu kuduk merinding. Ada yang tak beres. “Semoga tidak terjadi,” guman Mike dalam hati merapalkan harapan tentang kebaikan. “Tentu lo sudah tahu jawabannya kemana gue pergi semalam, Mike,” jawab Aldy tersenyum puas menatap keterkejutan Mike yang seolah tak percaya dengan mata lurus memandangnya tajam. “Jangan bilang lo perkosa dia!” tanya Mike dengan suara hampir tercekat. “Aha! ” sahut Aldy singkat. “Jangan bercanda lo Al! gadis itu ... ” Mike tak melanjutkan ucapannya karena Aldy yang langsung memotong kalimatnya cepat. “Gue melakukannya Mike, gue menjalankan rencana yang sudah gue susun sejak tiga tahun yang lalu. GUE MEMPERKOSA GADIS ITU, SEMALAM,” jelas Aldy dengan suara yang berubah dingin dan berat. ‘Degggg’ “ … dan mencampakkan tubuh yang sudah gue nikmati sepuasnya lalu membuangnya jauh dari tempat tinggalnya. Terasingkan!” terang Aldy dengan wajah bahagia dan tanpa rasa menyesal, lalu tertawa keras meluapkan rasa kepuasan dengan hal b***t yang telah diperbuatnya. Seketika wajah Mike berubah menjadi pucat seperti kehabisan darah dan lututnya lemas seperti jelly. Kepalanya terus menggeleng tak ingin mempercayai semua kata-kata yang meluncur bebas dari mulut Aldy. “Ya Allah, semoga gadis malang itu masih hidup,” suara batin Mike dalam hati penuh iba. Dengan wajah bahagia Aldy bangkit dari duduknya mendekati Mike yang masih berdiri tercengang mendengar pengakuan Aldy yang membuat hatinya sesak karena tak bisa mencegah niat buruknya. “Lo tahu Mike, gue menyiksa gadis itu hingga babak belur, sebelum gue pake tubuhnya berkali-kali sampai gue cengap-cengap. Airmata dan tangisannya benar-benar bikin gue  senang juga puas. Tapi gadis sialan itu benar-benar payah, dia malah pingsan saat gue lagi on fire,” terang Aldy panjang lebar membuat Mike semakin geleng kepala dan tak percaya. Mike tak percaya, Aldy yang dikenalnya sangat baik dan penuh kelembutan sejak kecil bisa berubah menjadi sangat kejam kepada seorang gadis hanya karena dendam. “A-apa lo udah bunuh dia?” tanya Mike memberanikan diri untuk mengetahui lebih jauh tentang gadis itu. Aldy tersenyum dan melangkah menghampiri Mike kemudian menepuk kedua bahunya, pelan.   “Belum, tapi lain waktu. Itu hanya permulaan dan inti dari semuanya sedang menantinya di depan,” bisik Aldy pelan di telinga dan sontak membuat mata Mike melotot dengan tubuh menegang kembali. “Hey Mike! Relax! Kenapa lo jadi setegang itu? Bukan lo yang gue perkosa kok!” Mike pun mengerjap mencoba memfokuskan kembali fikirannya setelah mendengar gurauan Aldy di sela rasa cemas yang menyambangi hatinya memikirkan gadis itu. “Al!” “Hmm ... ” jawab Aldy santai. “Sebenarnya ada yang ingin gue sampaikan sejak beberapa tahun ini.” “Perihal?” “Sebenarnya, sebenarnya gad ...”   “It’s been a long day without you my friend, And I’ll tell you all about it when I see you again, We’ve come a long way from where we began, Oh i’ll tell you all about it when I see you again, When I see you again?”   Ucapan Mike terpotong oleh bunyi telephone Aldy yang membuat Mike kembali gagal untuk mengatakan sesuatu yang sudah lama ingin dia utarakan, dan kini kembali gagal seperti sebelumnya. “Oh shitt!” decak kesal Mike dalam hati.   “Ya, Mam” “ … ” “Lagi di rumah nih sama Mike. Ada apa, Mam? “ … ” “Jam berapa?” “ … ” “Sekarang? ya udah Aldy jemput sekarang nih ya” “ … ” “Ok, Mam”   Sambungan telephon pun terputus. Aldy langsung memasukkan kembali benda pipihnya di balik jas mahalnya. “Lo tadi mau bilang apa, Mike?” tanya Aldy mengingat ucapan Mike yang terpotong karena bunyi telphone. “Gue cuma mo bilang … hmm … udahlah besok aja. Gue gak fokus lihat lo meringis gitu,” sahut Mike malas melanjutkan ucapannya tadi karena melihat wajah Aldy yang berubah aneh. Batal lagi. “Sorry, gue mules ini. Nyetor dulu ya!” kata Aldy dengan suara tak enak didengar. “Hmm,” sahut Mike malas. “Oya, Mike. Gue mau pergi jemput Mami. Jangan lupa lo handle meeting siang ini ya!” perintah Aldy singkat dan jelas. Dengan tergesa Aldy kemudian pergi meninggalkan Mike yang hanya dibalas anggukan dan wajah bingungnya. Sepeninggalan Aldy, Mike berjalan lemah menuju mobil yang terparkir di halaman menuju kantor untuk menggantikan meeting sesuai permintaan Aldy. Mike tumbuh besar bersama Aldy dan juga seumuran. Dahulu, ayah Mike adalah kaki tangan keluarga Setiawan sebelum meninggal dunia 4 tahun lalu yang kemudian digantikan oleh Mike hingga kini. Langkahnya begitu gontai karena memikirkan nasib gadis yang baru saja menjadi korban kekejaman sahabatnya, dan hatinya tergerak ingin mencarinya diam-diam. “Gue harap lo masih hidup, Nisa,” suara lirih Mike dengan mata terpejam bersandar lemah di kursi kemudi. ~Bersambung 07 April 2020/10.05
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN