Ditemukan

1035 Kata
“Hiks ... hiks ... ampun … jangan!” Teriakan kuat yang diikuti isak tangis pilu tiba-tiba terdengar mengagetkan Pak Dadang beserta istri yang sedang berbincang di ruang tengah selepas para warga yang ikut mengantar Nisa undur diri untuk kembali ke sawah. Mereka bergegas beranjak dari duduknya setengah berlari menghampiri suara yang tak lain berasal dari kamar di sebelah kamar milik putra sulung Pak Dadang. ‘Ceklek’ Bunyi pintu yang dibuka tiba-tiba malah membuat Nisa tersentak kaget juga semakin ketakutan dan serta merta memeluk tubuhnya erat dengan gemetar terduduk di sudut ruangan dengan cat berwarna biru langit. “A-ampun, Tuan. Jangan pukul lagi hiks … hiks … aku mohon hiks … hiks … ” Raut wajah Buk Neneng seketika berubah sedih menatap Nisa yang meringkuk rapuh menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut, kemudian menoleh sendu ke Pak Dadang yang menampilkan raut wajah sedih pula. Keduanya saling memandang tanpa kata, miris. “Tidak, Nak. Kami tak akan melukaimu. Kami bukan orang jahat,” suara Buk Neneng lembut mencoba menenangkan Nisa yang masih terisak menyembunyikan wajahnya sambil melangkah perlahan mendekat, selangkah demi selangkah. Pak Dadang tetap berdiri di ambang pintu menatap kasihan. “Jangan pukul Nisa lagi, Tuan. Ampun hiks … hiks …, ” suara Nisa serak di sela isak tangisnya terdengar begitu pilu dengan punggung yang bergetar karena rasa takut yang menyelimuti dirinya. Tanpa disadari, Buk Neneng sudah berada tepat di depan Nisa, kemudian ikut berjongkok untuk menyamakan posisi dengannya yang terus meringkuk menempel ke dinding juga lantai yang terasa dingin. “Tenang, Nak. Ibu tak akan menyakitimu, kau aman di sini bersama kami. Orang itu tak bisa melukaimu. Percayalah!” sahut Buk Neneng sambil mengelus rambut Nisa yang terurai panjang namun sedikit berantakkan. Buk Neneng mengelus kepala Nisa pelan dan tanpa dia sadari, beberapa butir airmata jatuh kembali melihat Nisa. Dengan nyali yang masih tersisa, Nisa memberanikan diri mengangkat wajahnya untuk melihat siapa orang yang sedang mengelus kepalanya kini. Hatinya terenyuh dengan belaian yang tak pernah dirasakannya sejak Uwak Nenek yang merawat dan mencintainya meninggal dunia beberapa tahun lalu. Perlahan, sedikit demi sedikit Nisa mengangkat wajahnya walau pada awalnya, pandangannya terasa samar dan buram akibat bulir airmatanya yang tak kunjung berhenti dari kedua manik indahnya. Nisa mengerjapkan kedua mata berkali-kali hingga akhirnya dia dapat melihat dengan jelas siapa pemilik suara yang terasa lembut bagai nyanyian tidur seorang ibu serta nyamannya belaian orangtua kepada anaknya. ‘Degg’ Mata mereka bertemu dan saling mengunci. Ada perasaan bahagia di hati Buk Neneng melihat netra mata Nisa walau mengisyaratkan betapa pedih dan sakitnya derita yang dialami gadis muda yang kini menatapnya dengan pilu. Nisa pun menatap Buk Neneng dengan airmata yang tiba-tiba menjadi semakin deras dan entah perasaan apa yang tiba-tiba menggelayut di dasar hatinya sehingga membuat Nisa tanpa ragu berhambur memeluk Buk Neneng seolah mengadukan kesedihannya layaknya seorang anak kepada ibunya. “Ibuuuuuuu! Hiks … hiks ....” Tangis Nisa pun semakin pecah terdengar memenuhi kamar tersebut bersamaan dengan suara tangis Buk Neneng yang terdengar samar. Dengan erat, Nisa memeluk tubuh Buk Neneng dan dibalas tak kalah erat olehnya. Tanpa bisa ditahan, Buk Neneng pun menangis memeluk tubuh Nisa yang rapuh dengan banyak luka yang mulai terlihat bengkak sehingga membuat tubuh Nisa terasa hangat, demam. Pak Dadang yang masih berdiri di pintu, ikut menangis haru melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Terasa sesak dan sakit di d**a Pak Dadang seolah dia melihat putrinya disakiti orang dengan keji. Cukup lama mereka berpelukan layaknya seorang ibu yang merindukan putrinya yang telah lama pergi. Tangan kirinya memeluk erat tubuh Nisa sedang tangan kanannya mengelus kepalanya lembut, menyalurkan rasa ketenangan serta nyaman yang perlahan membuat hati Nisa menghangat. Nisa merasa dilindungi dan dicintai. “Ibu hiks … hiks ...,” suara Nisa parau. “Iya sayang, ibu di sini, hmm,” sahut Buk Neneng lembut sambil terus membelai kepala Nisa. Perlahan Nisa melepaskan pelukannya dan menatap wajah Buk Neneng. “Tolong Nisa, Buk,” pinta Nisa lirih dengan suara sesegukkan serta wajah menatap pias dengan linangan airmata, memohon sambil memegang kedua tangan Buk Neneng yang duduk bersimpuh di lantai bersamanya. Nampak wajah cantik nan putiih telah berubah keunguan penuh lebam, kedua mata sembab dengan mata dan hidung yang merah karena terlalu banyak menangis, kian membuat hati Buk Neneng merasa teriris dan perih di dalam d**a melihat Nisa, gadis malang yang baru ditemuinya bernasib buruk dan begitu menderita. Kedua tangannya membalas genggaman Nisa dengan erat kemudian menatap dua tangan mungil itu yang terdapat lebam dan luka pecutan yang telah berubah bengkak. Airmata Buk Neneng tak bisa dibendung membayangkan betapa sakitnya Nisa menahan sakit di sekujur tubuhnya. Digenggamnya dengan erat dan diciumnya tangan penuh luka itu seolah menyalurkan kekuatan bagi Nisa. “Iya, Nak, ibu janji akan menolong dan melindungimu sekuat tenaga. Ibu tak akan membiarkanmu dilukai oleh orang itu, bahkan oleh siapapun. Ibu akan, dan akan selalu bersama Nisa, apapun yang terjadi. Ibu akan selalu bersama Nisa melewati semuanya, dan tak akan pernah meninggalkan Nisa sendirian,” jelas Buk Neneng dengan suara lembut namun terdengar serius. “Benar?” “Tentu saja benar! Iya kan, Pak?” sahut yakin Buk Neneng yang kemudian bertanya kepada Pak Dadang yang ada di belakangnya. Pak Dadang yang mendengar ucapan istrinya pun berjalan mendekat dan ikut berjongkok bergabung, lalu meraih tangan kiri Nisa yang kurus. “Iya, nak. Ingatlah! Mulai hari ini, kau adalah putri kami dan tak akan berubah selamanya. Kami adalah orangtuamu yang akan, dan akan selalu bersama juga melindungimu. Dan ingat, kami adalah tempatmu kembali, hmm,” terang Pak Dadang sambil menatap Nisa penuh yakin dengan aura sayang seorang ayah kepada putrinya. Nisa semakin terisak mendengar penuturan sepasang suami istri yang kini menggenggam erat tangan kecilnya. Terselip rasa bahagia di antara duka yang telah dia alami. Nisa tanpa ragu memeluk mereka dan melepas semua sakitnya di pelukan orang yang menerimanya dengan tangan terbuka. Menerima apa adanya dan menjadi orangtua baginya yang hidup sebatang kara. “Ya Allah ... terima kasih, Kau telah kirimkan penyelamat untuk Nisa,” ucap syukur Nisa dalam hati pilunya. Hari yang kelam sekiranya berubah menjadi terang. Nisa akan mencoba bangkit dari keterpurukannya dan meniti masa depan yang lebih cerah. Dia tak meminta banyak kepada Allah, hanya kebahagiaan baginya dan kedua orang tua barunya.   ~Bersambung 07 April 2020/10.07
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN