Siang itu Arga dan samanta memutuskan untuk mendatangi kantor polisi, mencari kabar selanjutnya perihal penculikan Elena yang dulu di laporkan Samanta. "kita berangkat sekarang atau bagaimana?" Samanta duduk di samping Parel di kursi panjang lorong rumah sakit.
" Iya Sam, aku tidak mau terjadi apa apa lagi terhadap Elena" masih terbayang jelas wajah Elena ketakutan di kejar empat pria tak dikenal sore itu di sebuah mall, "aku akan melakukan apa saja demi dia," ucapnya pelan.
"Kau tunggu di sini, aku pergi dulu." Samanta menyentuh pundak Parel.
Parel menoleh, ia menganggukan kepala Lalu Samanta dan Arga bergegas meninggalkan rumah sakit menuju kantor Polisi.
Lima belas menit mereka sudah sampai di halaman kantor polisi. Samanta dan Arga bergegas masuk ke dalam kantor. Suara dering telepon dan bisingnya orang orang keluar masuk melewati sebuah pintu dengan denting bel di atasnya membuat Arga pusing.Tak lama seorang Polisi menghampiri Arga dan Samanta. Lalu Polisi itu membawa mereka berdua keluar dari kantor polisi dan masuk ke sebuah mobil Alphard berwarna hitam.
***
Setengah jam berlalu mobil berhenti di halaman kantor Interpol. Lalu mereka masuk ke dalam kantor.
"Arga." Seorang polisi menghampirinya sembari membawa segelas kopi. "Detektif Adelia Valeri." Wanita itu memindahkan gelas kopinya dari tangan kanan ke tangan kirinya lalu menawarkan berjabat tangan Arga dan Samanta.
"Ikutlah denganku." Adelia Valeri berjalan menuju salah satu ruangan interogasi lalu membukakan pintunya untuk Arga dan Samanta dan mempersilahkan mereka masuk. "Masuklah."
Arga dan Samanta masuk dan duduk ke salah satu kursi yang berada di depan meja.
Samanta memajukan kursinya lalu menatap Adelia. "Bagaimana tentang laporan saya beberapa minggu yang lalu tentang penculikan Elena dan beberapa kejadian percobaan pembunuhan terhadapnya, sampai saat ini.."
Adelia meletakkan sebuah file berisi aneka dokumen penculikan Elena di hadapan Samanta dan Arga. "Elena usia 20 tahun." Adelia menarik nafas panjang. "Ini tidak semudah yang kita lihat."
Samanta menatap beberapa foto Elena padahal Samanta hanya memberikan satu foto Elena ketika melaporkan penculikan itu.
"Apa kalian mengenal mereka?" Adelia mengeluarkan beberapa foto lain dan memperlihatkannya pada Arga dan Samanta.
"Saya pernah melihat ke dua pria ini di depan halaman rumah Elena beberapa bulan lalu.
" Apa Elena mengenal pria ini?." Adelia menunjukan foto pria yang lainnya.
Arga menggelengkan kepalanya perlahan." Tidak, sepanjang yang aku tahu."
"Apa kau yakin? kalian tahu? mungkin ada sesuatu yang bisa memberikan jalan pada kepolisian..."
Arga mengusap rambutnya kasar, mendengus kesal. "Siapa mereka sebenarnya? aku yakin Elena tidak memiliki keterlibatan apapun dengan mereka.
"Salavatucra salah satu organisasi terlarang, bertahun tahun mereka sulit di tangkap karena terlalu licin dan licik," Adelia menarik nafas. "Dia juga memiliki hubungan garis merah dengan sebuah aliansi."
"Apa?" Arga dan Samanta menatap Adelia tidak percaya. " Tidak mungkin."
"Percayalah, Elena kemungkinan memiliki bukti bukti kejahatan mereka."
"Tidak mungkin." Arga masih tidak mempercayai apa yang dikatakan Adelia.
"Kalian kenal wanita ini?." Arga menatap foto wanita itu lalu ia menggeleng perlahan.
"Aku tahu wanita ini, dia sahabat Elen" ucap Samanta menatap Adelia.
"Dia juga menghilang sudah lama, kami belum menemukan petunjuknya" Adelia menarik kembali foto wanita itu.
"Aku tidak tahu hubungan apa yang mereka miliki, tapi aku menemukan sobekan kertas dikontrakan Elena.
Adelia menatap sederet nomer telepon di kertas sobekan itu lalu menatap Arga dan Samanta. "Terima kasih,ini akan sangat membantu kami untuk menangkap mereka."
Adelia berdiri, berdiam sejenak." Istirahatlah, serahkan semua pada polisi. Kami akan melakukan yang terbaik." Adelia membukakan pintu untuk Samanta dan Arga dan mempersilahkan mereka keluar lebih dulu.
***
"Elena.." sapa Arga .
Elena menoleh menatap Arga yang berdiri di sampingnya. "Kau.."
Arga tersenyum lalu duduk di kursi yang ada di dekat tempat tidur, pria itu tersenyum menatap sendu gadis yang terbaring di atas kasur, Elena berhasil melewati masa kritisnya. "Apa kau butuh sesuatu? Elena menggeleng.
Arga meraih tangan Elena lalu ia dekatkan di bibirnya, ia kecup berkali kali tangan Elen
"Elena dengar..." Satu tangan Arga mengusap kening Elena yang di balut perban tangan yang lain tetap menggenggam tangan Elena.
"aku mohon..mulai sekarang jangan menolak apapun yang aku lakukan padamu, semua demi kebaikan kamu Elena.." ucapnya lirih menatap kedua bola mata Elena.
Elena mengangguk, menatap pria yang selalu ada buatnya di saat saat sulit.
Arga melihat tangan Elema yang menahan lengannya, tidak ada satu kata pun yang dapat terucap dari bibirnya. Arga tersenyum melihatnya. "Terima kasih."
"Elena.."
"Ya." Jawab Elena singkat melihat Arga yang terlihat bingung dan tidak mengerti. Bagaimana mungkin Elena bisa terlibat dalam sebuah jaringan organisasi terlarang.
"Sejak kapan kau terlibat dengan mereka yang berusaha menculikmu?" sebuah kerutan di wajah Arga terbentuk ketika melihat Elena.
"Aku sendiri tidak tahu." Elenamenelan ludahnya susah payah, berusaha menahan tangisnya yang siap jatuh, semua kejadian yang menimpanya telah merubah hidupnya.
"Apa kau mengenal mereka?" tanya Arga mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan semua kejadian yang di alami gadis di hadapannya.Tapi gadis dihadapannya ini selalu bersikap tegar.
"Semua itu terjadi tanpa di duga." Elena melepaskan tangannya dari tangan Arga, ia menatap langit langit kamar dengan tatapan kosong. Masa depan adalah hal yang tidak bisa ditebak atau di rencanakan, berkali kali mengalami kegagalan dan hancur, bertahun tahun Elena mencobanya tapi selalu hancur menyisakan luka. Menatap masa depan dengan kosong adalah jalan satu satunya supaya tidak hancur untuk kesekian kalinya.
"Elena" Arga menyentuh pipi Elena,mengusapnya lembut. Elena menoleh menatap Arga yang terlihat ragu untuk mengucapkan kata kata.
"Ya."
"Maukah kau menikah denganku?." Arga menatap kedua mata Elena berharap gadis di hadapannya menerimanya.
Elena menggelengkan kepalanya dan kembali menatap langit langit kamar. "Aku belum bisa, dan aku tidak akan pernah bisa..." Elena menelan saliva nya susah," aku tidak pantas buatmu." Bulir air mata jatuh di sudut mata Elena. Ia memejamkan mata menggigit bibir bawahnya. Ia merasa kotor, bahkan ia merasa jijik terhadap dirinya sendiri, mengingat kejadian malam itu saat Reegan memperkosanya.
"Hei Elena." Arga berbisik lirih di telinga Elena. "Aku tidak memaksa,tapi berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku." Arga berbisik pelan di telinga Elena dengan suara serak.
Elena menoleh menatap Arga, lalu ia bangun langsung memeluk Arga menumpahkan air matanya dikemeja Arga. Arga membalas pelukan Elena dengan erat. " Berjanjilah sayang." ucap Arga berbisik di telinga Elena
Elena menggeleng. "Aku tidak bisa berjanji, tapi...semampuku akan selalu ada didekatmu."
Samanta yang baru saja masuk,langsung mendekat ke arah mereka. "Ada apa?." Menatap Elena yang menangis dipelukan Arga.
"Ah, Sam," ucap Elena melepaskan pelukannya, lalu ia menyeka air matanya dengan ujung selimut. Arga menoleh menatap Samanta.
"Di mana Parel?."
Samanta meletakkan kotak makanan yang ia beli dari luar rumah sakit. "Dia di toko,nanti sore dia kesini," jawabnya menoleh menatap Elena.
"Elena."
"Ya.." Elena menatap Samanta.
Samanta berdiri di samping Arga, satu tangannya merangkul pundak Arga. "Kamu tidak perlu khawatir..pihak kepolisian pasti akan menangkap mereka yang. sudah menculikmu." Elena terkesiap, ia terkejut dengan pemberitahuan dari Samanta.
"Sam,kau_?" Elena tidak melanjutkan kata katanya, dia tidak setuju dengan apa yang dilakukan Samanta. Ia khawatir mereka akan mengganggu Samanta dan juga Arga. Tapi Elena tidak mampu mengatakannya. "Sam..aku..."
Samanta mengerutkan dahinya melihat Elena yang terlihat khawatir. "Kau kenapa El? Samanta membungkukkan badannya memegang tangan Elena.
"Aku..." Elena menangkup wajahnya dengan kedua tangan, ia tumpahkan semua kekesalan dan kekhawatirannya terhadap Arga dan Samanta dengan menangis kencang.
Arga bangun duduk di tepi tempat tidur memeluk Elena. "Hey..kau tidak usah khawatir, semua akan baik baik saja," ucap Arga pelan sembari mencium puncak kepala Elena berkali kali. "Sebaiknya kau istirahat, jangan banyak fikiran dulu." Arga membaringkan tubuh Elena lalu mengusap air matanya. Ia beranjak berdiri tapi Elena menahan lengan Arga. "Kau mau kemana?" tanyanya dengan suara serak.
Arga menatap Elena "Aku disini menunggumu." Arga tersenyum lalu melepas tangan Elena lembut. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh Elena. "Istirahat ya." Arga tersenyum menyentuh pipi Elena.
Samanta menggelengkan kepala, dahinya mengerut tidak mengerti dengan sikap Elena "Apa aku salah?." Samanta menghela nafas panjang, "apa yang sudah aku lakukan?."Samanta mengangkat ke dua bahunya tak mengerti
Samanta berjalan mendekati sofa lalu ia duduk di atas sofa di ikuti Arga ikut duduk di sofa yang tak jauh dari tempat tidur Elena.
Mereka berdua sangat menyayangi Elena. Melihat Elena menangis seperti tadi membuat mereka berdua hanyut dalam kesedihan. Mereka tahu kalau Elena gadis yang tangguh dan mandiri. Sebelumnya mereka tidak pernah melihat Elena menangis histeris seperti tadi. Ada apa dengan Elena?"