"Halo?" Reegan menempelkan ponsel ke telinganya.
"Elena dibawa kabur Lucios dan joe, pihak kepolisian sudah mengendus keberadaan mereka. Kau tidak perlu mencari Elena lagi."
"Kau tidak perlu mendikte setiap langkahku, Lucian..aku tau apa yang harus aku lakukan."
"Tentu saja Reegan," Lucian tertawa sinis membuat Reegan mencengkram ponselnya semakin erat. " Aku harap kau cepat membereskannya."
Nada terputus dari sambungan telepon itu membuatnya serangkaian makian lalu membanting ponselnya hingga berantakan. Reegan mendengus kesal menoleh menatap anak buahnya yang sedang meninju seorang pria.
Reegan menghisap rokoknya dalam dalam lalu menatap sosok pria dihadapannya dengan tatapan benci. "Lucios".
Reegan berdiri dari kursi kayu yang dari tadi hanya menikmati pertunjukan anak buahnya menghajar habis habisan Lucios.Lalu ia berjongkok di hadapan Lucios. " Kenapa kau melarikan gadis itu?
Lucios menatap Reegan yang masih berjongkok dan mengembuskan asap rokok ke wajahnya dengan tatapan gusar. "Aku tidak melarikannya sejak joe antarkan ke rumahmu Reegan."
"Penipu." Reegan mendengus kesal lalu berdiri.lalu menendang perut Lucios. "Kau membohongiku."
"Aku tidak bohong." Lucios mengucapkannya dengan susah payah Ia bersyukur Reegan tidak membunuhnya.
"Aku melindungimu dan organisasimu, tapi kau_?" Reegan menginjak kaki Lucios hingga pria itu berteriak kesakitan. "Tak ada ampun lagi kali ini penipu!."
"Aku bersumpah, bukan aku!"
"Lalu siapa?." Reegan kembali berjongkok dan menatap mata Lucios.
"Lucian." Lucios meneguk ludahnya susah payah.
Reegan menatap geram Lucios, tangan kiri nya mencengkram leher Lucios hingga pria itu kesulitan bernafas. "Lancang!."
"Pletak!!"
Suara kaca jendela retak.
Detik berikutnya tiba tiba saja Lucios ambruk tak bernyawa lagi.
Reegan berdiri menatap ke arah jendela lalu beralih menatap tubuh Lucios dengan raut wajah geram. "Siapa yang telah mendahuluiku." Reegan balik badan meninggalkan tempat itu bersama anak buahnya.
****
Elena mengembuskan napas panjang. Entah berapa lama ia menunggu di atas meja makan, mengayunkan kakinya sembari memainkan ponselnya. "Masih lama?."
"Sebentar lagi El." Arga melirik sekilas ke arah Elena, lalu ia kembali fokus memasak.
"Kelamaan." Elena turun dari atas meja lalu ia mendekati jendela menatap keluar. Melihat hujan yang turun dengan deras sejak tadi pagi.
"Sebentar lagi sayang. " Arga masih sibuk memasak untuk merayakan hari ulang tahun Elena yang menginjak 20 tahun. Ia menutup Kafe miliknya hanya untuk merayakan ulang tahun Elena. Pria yang dulu arogan berubah lembut semenjak bertemu Elena. Entah sudah berapa lama Elena mengenal Arga, tapi semenjak kejadian di hotel itu Arga berubah baik, bahkan terkadang Arga berlebihan terhadap Elena.
"Elena..kemarilah." Arga menatap punggung Elena.
"Ada apa?" Elena balik badan dan melihat Arga yang berkeringat.
"Cobain nih..' ucap Arga menunjukkan kue yang ada di atas piring.
"Oke." Elene berjalan mendekati Arga lalu menatap kue bolu bakar yang terlihat gosong. Elena mengulum senyum menatap Arga, ia mencubit kue itu dan memakannya.
Arga menatap Elena yang memakan kue buatannya, ia terlihat begidik dan memejamkan matanya. "Kenapa?" tanya Arga.
"Pait." Elena menatap horor Arga tangan kanannya memukul pelan lengan pria yang ada dihadapannya.
"Masa?." Arga menatap kue di atas piring, lalu ia pindahkan piring itu ke tangan kirinya, tangan kanan mencubit kue lalu memakannya pelan.
"Hoekk!!"
Ia muntahkan makanan di mulutnya ke lantai, dan Elena tertawa terbahak bahak. Ia tutup mulutnya dengan tangan kanan memperhatikan Arga.
Elena dan Arga menoleh ke arah pintu menyadari ada yang datang berdiri di pintu. "Samanta," ucap Elena berjalan mendekat.
"Apa aku mengganggu?" tanya Samanta tersenyum menatap Elema lalu beralih menatap Arga.
"Tidak, ayo masuk." Elena merangkul lengan Samanta lalu mengajaknya duduk di atas meja Kafe.
"Kau mau cobain kue ini Sam?" Arga mendekati Samanta yang duduk di meja.
"Apa ini?." Samanta melirik Elena sekilas lalu menatap kue gosong buatan Arga. "Sepertinya nggak enak." Samanta mengerutkan dahinya lalu menatap Arga yang tengah menahan tawa.
"Nih, kalian habiskan kue nya, aku mau ambil ponsel dulu di dalam mobil." Arga meletakkan piring diatas meja. Kemudian pria itu beranjak keluar.
Samanta dan Elena menatap punggung Arga lalu menatap kue di atas piring. Sesaat mereka diam lalu saling pandang, detik berikutnya mereka tertawa bersama.
"Kalian mentertawakan aku?" Samanta dan Elena menghentikan tawanya menatap Arga yang berdiri di depan pintu, lalu ia berjalan mendekati mereka.
"Tidak," kata Elena menutup mulut dengan tangan kiri menatap Arga raut wajahnya murung.
"Ada apa?" tanya Elena menurunkan tangan dari mulutnya. "Kau baik baik saja?" Elena mengerutkan dahi tak mengerti dengan perubahan sikap Arga.
"Ada apa Ga?" tanya Samanta turun dari atas meja menyentuh pundak Arga, pria itu hanya diam menundukkan kepala." Ada apa?" tanya Samanta lagi.
Arga mengangkat wajahnya. "Aku harus ke belanda." Jawabnya lirih.
"Kapan? tanya Samanta.
"Dua hari lagi, Papa hendak menjodohkan ku dengan Maria." Elena menghela napas panjang, lalu ia pura pura mengalihkan pandangannya pada kue di atas meja, mencubitnya sedikit lalu memakannya. Ada rasa cemburu menyeruak di hatinya, tapi Elena sendiri tidak bisa menerima Arga, apakah terlalu egois?.
"Kau sendiri bagaimana?." Samanta melirik Elena sekilas, lalu menatap sepupunya lagi.
Arga menggeleng, menghela napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Ia balik badan dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana ia menundukkan kepalanya. "Aku sudah memutuskan untuk menolak perjodohan itu Sam." Arga balik badan menatap Elena.
Elena langsung menghentikan makannya, lalu menoleh menatap Arga. Ada rasa bahagia di hati gadis itu saat mendengar Arga menolaknya. "Kenapa?" tanya Siene.
"Aku mau kamu" ucap Arga tersenyum mendekati Elena.
Elena tertawa kecil menggaruk rambut dengan tangan kirinya. "Ayo keluar." Arga menarik tangan Elena lembut, pria itu membawa Elena keluar kafe di ikuti Samanta dari belakang.
***
Reegan tertegun sesaat sebelum ia masuk ke dalam mobil.
"Kau kenapa?" tanya Lucian ketika melihat Reegan termenung.
"Tidak ada apa apa." Reegan kembali terdiam lalu pria itu masuk kedalam mobil di susul Lucian.
"Dimana keberadaan Elena sekarang?" Reegan bertanya pada Lucian, ada sedikit kecurigaannya pada Lucian iaa merasa apa yang di katakan Lucios bisa saja benar.
"Sepertinya gadis itu sudah di selamatkan sahabatnya." Lucian menatap Reegan sekilas, lalu ia menatap keluar kaca mobil.
"Antarkan aku padanya, aku mau melihatnya." Reegan melirik Lucian lalu memerintahkan sopir pribadinya untuk mendatangi Kafe yang di katakan Lucian.
Tak lama kemudian mereka sampai diseberang jalan Kafe milik Arga. Reegan melihat Elena sedang tertawa bersama satu orang pria dan satu orang wanita. "Elena," gumam Reegan pelan namun terdengar jelas Lucian. Lucian tersenyum sinis menatap Reegan sekilas lalu pria itu kembali memperhatikan Elena bersama dua orang itu.
"Kita tidak bisa membawanya sekarang, bisa di lihat orang orang sekitar, itu sangat beresiko." Reegan menatap gadis bertubuh mungil itu dari kaca spion hingga sosoknya hilang dari penglihatan.
****
Elena mendapat hadiah kejutan dari Arga. Ia tersenyum menatap sebuah jam tangan dari kotak berwarna putih. "Terima kasih ya." Elena memeluk Arga sekilas. Lalu gadis itu coba memakai jam tangan itu di tangan kananya. Ia tersenyum melirik Arga sekilas lalu menunduk menatap jam tangan yang sudah terpasang di tangan kanannya.
"Nih buat kamu." Samanta memberikan kotak berwarna biru terang pada Elena, ia menoleh menatap kotak itu, lalu beralih menatap Samanta.
"terima kasih." Elena memeluk Samanta mengusap punggungnya pelan. Lalu Siene melepaskan pelukannya."Boleh aku buka?" Elena bertanya pada Samanta.
Samanta mengangguk tersenyum menatap Elena sembari menyandarkan tubuhnya pada tubuh Arga yang tengah merangkulnya.
Elena membuka kotak itu dengan senyuman menghiasi wajahnya, tiba tiba saja Elena melemparkan sebuah kalung liontin berwarna merah berpadu biru shapire di dalam kotak itu ke lantai. Gadis itu matanya membulat, tubuhnya gemetar dari bibirnya terucap satu nama "Risma" dengan lirih.
Samanta terkejut dengan perubahan sikap Elena, ia menatap Arga lalu ia membungkukkan badan mengambil kotak dan kalung liontin yang berserakan di lantai. Ia menatap Elena dengan raut wajah bingung.
Arga berjalan mendekati Elena dan meletakkan kedua tangan di pundak gadis itu Pria itu mengerutkan dahi menatap Elena dengan khawatir. "Kau kenapa El?" tanya Arga. "Apa kau baik baik saja?" tanya nya lagi.
Elena menggelengkan kepala. "Ma,maaf Sam.." ucapnya dengan tangan terangkat ke atas d**a.
"Tidak apa apa El.
aku yang salah.."
"Aku benar benar tidak sengaja." Elena melepas tangan Arga dari pundaknya lalu berjalan mendekati Samanta dan memeluknya. "Maafkan aku." Samanta menggeleng melepaskan pelukannya.
"Sstt..aku tahu, kau tidak perlu minta maaf," ucapnya pelan.
"Sebaiknya kita masuk." Arga menatap sebuah mobil hitam yang mencurigakan. Lalu ia berjalan menarik tangan Elena dengan tangan kanannya, tangan kiri menarik tangan Samanta.
"Ada apa?" tanya Elenamenatap perubahan wajah Arga yang terlihat khawatir. Ia menoleh ke belakang menatap sekitar, namun tidak menemukan yang membuat Arga khawatir.
"Tidak ada." Arga menoleh menatap Elena sekilas, Arga membawa dua gadis itu masuk ke dalam kafe.
Elena duduk di kursi panjang disusul Samanta duduk disamping Elena tangannya masih memegang kotak dan liontin.
"El..."Arga jongkok dihadapan Elena, iameraih tangan Elena dan meremasnya pelan.
Elena menatap Arga mengangkat kedua alisnya. " Ada apa?" tanya Elena pada Arga, ia mengerutkan dahi tak mengerti menatap pria yang ada di hadapannya.
Arga menundukkan kepala, ia terbatuk kecil. Lalu ia tengadah menatap wajah Elena.
"Maukah kau menikah denganku?" ungkap Arga pelan, menatap wajah gadis yang dia cintai.
Elena melebarkan matanya terkejut, ini kali kedua permintaan Arga untuk menikah dengannya. Elena menundukkan kepala, sesaat menghela napas dalam ,tersenyum getir menatap pria yang selama ini selalu ada buatnya, selalu melakukan yang terbaik. Tidak ada salahnya aku menerimanya bukan?
"Apa kau menerimaku?" tanya Arga mengangkat kedua alisnya,ntersenyum tipis menunggu jawaban apa yang akan Elena katakan.
Elena mengangguk, " ya..aku mau."
"Benarkah? Arga menatap kedua bola mata Elena mencari kesungguhan di sana. Lagi lagi Elena mengangguk.
Arga merentangkan kedua tangannya hendak memeluk Elena, sesaat menoleh menatap Samanta lalu memeluk Elena dengan erat. "Terima kasih." Arga mengusap punggung Elena yang tersenyum samar, ada bulir air mata jatuh di pipi Elena, iamengeratkan pelukannya.
Akhirnya Elena memutuskan untuk menerima lamaran Arga kali ini. Dan melupakan semua yang telah terjadi sebagai mimpi buruk.
"Yeeaaayy...!! Samanta bertepuk tangan. Ia tersenyum bahagia menatap Sahabatnya dan sepupunya.