13

1080 Kata
"Oh, aku paham, jadi inilah rupanya yang terjadi?" Tanyaku kepada mereka sambil menatapnya secara bergantian, ayah mertua terdiam sementara ibu mertua nampak gelagapan dan sedikit gelisah sambil memegangi tengkuknya dan tersenyum gugup. "Uhm, Intan ini adalah keponakan kami, dia adik sepupunya Indra, dia hanya ...." "Mustahil Ibu tidak tahu kalau mereka berselingkuh dan punya hubungan khusus?" Mengejutkan sekali saat mengetahui bahwa mertuaku tahu yang sebenarnya dan justru itu adalah keponakannya. Nanti dia pasti tahu detail hubungan mereka dan rencana pernikahan mereka. Lagi pula mereka tidak akan sejauh ini tanpa dukungan keluarga. Tapi bisa-bisanya aku yang selama ini hanya diam di rumah dan setia pada suami diperdaya sedemikian rupa, hingga terlihat sangat t***l di mataku sendiri. Aku benar benar benci situasi ini. "Kami akan menikah, iya kan Mas?" desak intan pasa mas Indra. "Uhm ... Sebaiknya kita bicara di luar saja Nadira ada beberapa hal yang harus aku jelaskan padamu di mana kita belum pernah membicarakan ini." Aku hanya berdecih, sambil tersenyum dan menyilangkan tangan ke d**a. Mertuaku serta suamiku yang terlihat malu sementara wanita itu terlihat santai dan mengambil sebuah kursi lalu duduk di sana dengan gestur yang lumayan angkuh. "Karena mbak sudah tahu Jadi mungkin semua permasalahan ini bisa dijernihkan dan sekaligus saja Aku ingin minta restu bahwa kami akan menikah bulan November depan." "Apa?" "Ya." Beraninya dia dengan segala kesombongan dan kepercayaan dirinya yang berlebihan itu mencoba memamerkan betapa ia sangat dimuliakan oleh keluarga mertuaku saat ini. Tidak tahukah ia bahwa jenis manusia tak tahu malu seperti dirinya itulah yang dibenci Rasulullah karena merusak kebahagiaan wanita lain. "Aku kehabisan kata-kata jadi aku tidak akan mengatakan apapun, Aku akan pergi sekarang dan nikmatilah waktu kalian, selamat bahagia." "Tunggu Nadira, aku bisa jelaskan, please, Nadira ..." Mas Indra mencoba menahanku tapi aku sudah tak Sudi disentuh olehnya. "Cukup, aku sudah sangat kecewa, aku benci padamu di tingkat aku mengharamkanmu untuk menyentuhku, sudah selesai hubungan kita dan berakhir semunya!" Kuhempaskan lengannya yang mencoba merangkulku. "Jangan bilang begitu!" "Lalu aku harus bilang apa? Diam saja melihat kezholiman kalian semua?!" aku berteriak, kedua mertua diam sementara Intan terkesiap. "Kalau yang haram lebih nikmat, maka jangan dekati lagi yang halal, nikahi wanita itu dan pilihlah jalanmu, aku dan anak anak memilih mundur," jawabku dengan d**a yang sesak, napasku tersengal, nyaris tenggorokan ini tersendat karena tangisan yang hampir pecah. "Tapi gak begini ...." "Bisa-bisanya kau masih ingin aku memberimu kesempatan setelah kalian semua memperlakukanku seperti ini? Kalian menipu dan membuat rencana sedemikian rupa untuk menyakitiku, bisa-bisanya kalian?!" "Sebenarnya kami memang ingin memberitahumu!" ucap Ibu mertua. "Meski pahit, aku pasti akan menerimanya, jika kalian Jujur dari awal. Tapi kalian semua munafik, dan aku tidak percaya kalian begitu tega pada menantu kalian sendiri, tak kasihankah pada cucu yang harus jadi korban perpisahan ayah ibunya ..." Kukemas air mata yang jatuh di pipi, aku benar benar kecewa, bahkan perasaan yang timbul sekarang, terlalu ringan jika disebutkan hanya dengan deskripsi rasa sakit yang itu itu saja. di puncak semua penipuan keluarga Mas Indra, aku hanya bisa menitikkan air dan berlapang d**a sambil menahan perasaanku. "A-aku pergi," ucapku terbata. "Tunggu, jangan bawa air mata itu keluar rumah," cegah Mas Indra. Dia mencoba menarik bahuku dan memelukku, namun aku yang sudah terlanjur sangat benci langsung menamparnya. Untuk pertama kalinya, pukulan itu melayang dengan keras dan berani. Sungguh Baru kali ini aku berani membalas perbuatannya, perbuatan yang selama ini sudah mendustaiku. Sesaat Mas Indra, tertegun, dia menatap kepadaku sambil menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. Dia mencoba tersenyum padaku dan masih membujukku namun aku yang sudah benar-benar terluka, makin murka dan menggila. "Tolong, tenanglah ...." "Cukup!" Plak Sekali lagi pukulanku melayang dan membuat pipi Mas Indra merah matang. Merasa dipermalukan di depan pacar dan keluarganya, pria itu langsung murka dan menarik kerudungku dengan keras. Ia cengkeram bagian cepol rambut hingga membuatku tertahan dan nyaris terjengkang. "Beraninya kau menghinakan suamimu!" "Kau bukan suami, kau iblis, Mas! Lepaskan aku!" teriakku. Orang tua mas Indra hanya diam sementara wanita itu tertawa menyaksikan pemandangan menegangkan di antara aku dan Mas Indra. Dia yang terus menarik kerudungku dan mencengkeram bahu Ini sementara aku berjibaku untuk berusaha melepaskan diriku. "Awas, aku sakit Mas! Lepaskan!" "Beraninya kau memukulku di depan orang!" "Beraninya pula kau menipuku!" Kami saling mendorong hingga akhirnya aku terjatuh dan menabrak bufet pajangan. Beberapa bingkai yang terpajang jatuh ke lanta dan pecah berkeping keping. Tubuh dan kepalaku terbentur membuat tangan ini terasa patah dan kepalaku pusing. Luar biasa sakit yang diberikan Mas Indra. "Bolehlah, kau marah, tapi menghinakan martabatku sebagai lelaki tidak akan bisa kuterima terlebih jika kau lakukan itu di hadapan kedua orang tua yang telah melahirkan dan membesarkan diri ini." Aku masih merangkak mencoba meraih kerudungku dalam keadaan kepala yang sakit berdenyut-denyut. Bukan cuma rasa sakit di badan ini yang membuat diriku sengsara tapi juga rasa hatiku yang terluka, luka oleh perselingkuhan, penghianatan mertua, juga sakit oleh pukulan dan dorongannya. Perlahan kuraih kerudungku mencoba untuk merangkum rambutku yang terurai karena dicengkeram dan dilepas oleh Mas Indra. Di saat seorang wanita direnggut kerudungnya dan dipermalukan, serta ditelanjangi martabatnya, maka itulah puncak kehilangan harga dirinya. Aku bahkan tak bisa lagi menangis, aku tertawa, tertawa dengan mereka semua yang sudah jahat padaku Melengking tawa ini, meledak, terbahak, disertai air mata yang berlimpah, mereka semua kebingungan melihatku seperti kesurupan dan gila. "Bagus, paket lengkap, keluarga penipu!" ucapku sambil menatap nyalang mereka semua. "Jaga mulutmu!" ucap Intan, tak pelak diri ini yang memang sudah emosi meraih sebuah bingkai foto lalu melempar wanita itu dengannya. Prang! Bingkai itu mengenai lengan intan lalu memantul dan jatuh ke lantai, wanita itu menjerit, dia menangis dan mengadu pada Mas Indra cari muka. "Mas, sakit .... mas...." "Matilah kau!" Tiba-tiba aku merasa ada dorongan kerqs di dalam tubuhku yang memaksa diri ini untuk bangkit dan menyerang wanita itu. Aku segera bangun, melesat secepat kilat, mencekik dan membuat wanita itu terkejut, ia kursi itu oleng membuat kami berdua terjatuh dalam posisi dia di bawahku dan aku di atasnya dalam keadaan mencekiknya. Wanita itu tersengal sementara Mas Indra segera datang untuk melerai kami. "Lepaskan!" Ucap Mas Indra mencoba melepas lenganku. Yang sedang full energi dan sangat marah sekali, seakan menemukan kekuatan yang mendorongku untuk menghilangkan nyawa wanita itu. "Lepas!" "Tidak akan!" Wanita itu gelagapan kehilangan nafasnya sementara mas Indra makin panik saja. Wanita itu nyaris mati andai tak kulepaskan tanganku, yang pada akhirnya aku tak mau mengotorinya. "Ambillah, ambillah dia, Jalangmu sampah dan p*****r murahan itu! Aku tak peduli berasal dari mana dan seberapa terhormat keluarganya Jika dia merenggut suamiku dia tak lebih dari p*****r!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN