12

1067 Kata
"jangan memaksaku untuk melakukan hal yang tidak kuinginkan, aku tidak mau menceraikanmu!" "Kalau begitu jangan paksa aku untuk menggenggam bara api dan bertahan dalam luka yang kau timbulkan setiap harinya, aku selalu makan hati dan lama-lama bisa gila karena perselingkuhanmu, jadi tolong jangan paksa aku untuk bertahan dalam rumah tangga ini!" Mas Indra terbelalak, ponsel di pangkuannya terjatuh ke lantai dan anehnya dia tak memperdulikannya. Dia hanya menatap padaku sambil menahan air mata yang kini menganak sungai di pelupuk netranya. "Jangan coba-coba untuk menjual air mata dan memasang wajah sedih, aku tidak termakan oleh kesedihan yang kau jual-jual itu. Dengar Mas, ceraikan saja Aku dan semuanya selesai." "Kenapa kau begitu bersih keras tidakkah kau memikirkan masa depan anak-anak kita ketika kita berpisah?" "Akan lebih baik bagi mereka hidup denganku dan lepas dari situasi tegang seperti ini. Biarpun kita tidak bersama, tapi jika situasinya kondusif maka aku lebih menyukai hal yang itu." "Kau yakin tidak akan memusuhiku?" "Uhm, sulit untuk sembuh dari luka, sulit untuk lupa apa saja yang kau lakukan padaku, tapi tak ada gunanya memelihara dendam, aku akan berusaha bersikap seperti orang asing yang gak saling mengenal, itu yang terbaik untuk kita." "Tidak." Ini dia berdiri dan menahan lenganku saat aku hendak menjauh darinya. Ia tarik tubuhku untuk masuk ke dalam pelukannya dan dia mengetatkan gelungan tangannya di tubuhku. Dia merangkulku dengan kencang hingga aku sesak, sesak oleh sakit hati. Jujur saja, tak kutemukan sedikitpun kedamaian dalam pelukannya itu selain hanya keterpaksaan dan hal yang pura-pura ia lakukan agar membuatku tenang. "Cukup, lepaskan saja, aku mau membereskan pekerjaanku," ucapku sambil menahan air mata yang berderai. "Aku berusaha untuk mengambil hatimu," ucapnya sambil menarik telapak tanganku. "Cukup Mas, sentuhanmu, dan segala sesuatu tentang hubungan ini sudah tidak ada artinya bagiku. Semuanya tak lagi indah untuk kita." Lelehan bening mulai tak tertahankan dan mengalir di pipiku, aku tak kuasa menahan lagi rasa sakit, beban yang menghimpit serta rasa yang campur aduk di dalam hatiku. "Jangan tinggalkan aku," ucapnya dalam lirih. Sesaat ruangan menjadi hening, hanya isakan tangisku dan perasaan kami yang masing masing berkecamuk bingung. Aku yakin dia tetap ingin bersikeras poligami sementara ada kepentingan aku dan intan yang sama-sama saling bertabrakan. Wanita itu ingin agar Indra bercerai sementara dia ingin mempertahankanku, di sisi lain pula, aku sudah tidak berminat untuk mempertahankan rumah tangga kami. Kini aku mulai merutuki diri sendiri dan benci Mengapa harus duduk di depannya dan memperlihatkan tangisanku yang menyedihkan. Harusnya aku langsung bangun, tutup percakapan dan akhiri saja hubungan sulit ini. * Pukul empat sore, aku beranisiatif untuk pergi ke rumah ibu mertua dan bicara tentang masalah pelik yang sedang mendera kami. Kupikir aku akan dapatkan solusi terbaik dari neneknya anak-anak. Aku yakin ayah dan ibu mertua sangat terkejut jika mengetahui kalau Mas Indra berencana menikahi intan. Aku yakin kedua reaksi orang tua beliau akan sangat keberatan dan murka terlebih baik ayah maupun ibu mertua sangat menyayangi cucunya. * Aku ketuk pintu kayu rumah mertua, kupitar handel pintu lalu melepas sandalku, ucapkan salam dan mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan rumah yang terlihat lengang. Konsep rumah orang tua Mas Indra yang bergaya klasik modern dengan nuansa kayu menciptakan suasana nyaman sekaligus mendebarkan. Kudapati kedua orang tua suamiku sedang duduk di depan teras belakang. Ayo mertua sedang memberikan makan ikan peliharaannya sebelum makan ibu sibuk memindahkan dan menata bunga-bunga koleksinya. "Assalamualaikum." "Eh, Nadira, ayo sini Nak. Dengan siapa kamu ke sini." "Sendiri, anak anak mengaji sore, Bu," jawabku sambil menyalami ibu mertua. Kusalami juga ayah mertua yang langsung terlihat buru buru melepaskan makanan ikan dari telapak tangannya, mengelapnya di celana dan menyalamiku dengan senyumnya yang hangat. "Sebenarnya saya ingin bicara pada ayah dan Ibu," ucapku sambil mendudukan diri. Diet ayah dan ibu Mas Indra yang terlihat kaget sekaligus heran membuatku sedikit nggak nyaman. Aku canggung, tapi aku bertekad untuk mengatakan segalanya hari ini juga. "Ayah, Ibu, Saya ingin jujur kepada ayah dan ibu bahwa suamiku akhir-akhir ini sudah tidak betah di rumah lagi." "Kenapa begitu?" tanya Ibu mertua, wanita yang memakai rok selutu dengan blouse warna putih itu mengernyit heran. "Belakangan saya baru tahu bahwa beliau punya kekasih dan ironisnya saya mendapati mereka sedang memilih cincin pernikahan. Sepertinya hubungan mas Indra sudah berjalan dengan serius dan tidak bisa diganggu gugat lagi oleh karena itu saya datang kemari untuk meminta solusi terbaik." "Ini mengejutkan sekali tapi kami ingin bicara dengan Indra saja nanti." "Tolong katakan pada saya Apa yang harus saya lakukan apakah saya akan bertahan seperti ini atau memilih untuk mundur saja?" "Jujur saja kami sangat menyayangimu, kami tak ingin rumah tangga kalian retak, tapi kami akan bicara dengan Indra nanti." "Baiklah, saya sendiri jujur saja sudah tak bisa menahan lagi, saya ingin mundur mengingat betapa seriusnya hubungan Mas Indra dan wanita itu." "Siapa orangnya?" "Namanya intan, tapi saya tak tahu detailnya," ucapku. Herannya kedua orang tua suamiku sama sekali tidak menunjukkan ekspresi terkejut, meski dalam kata-kata Mereka bertanya tapi wajah mereka datar-datar saja seakan menyembunyikan sesuatu dariku. Wajar aku berpikir begitu karena biasanya orang yang mendapatkan berita perselingkuhan pasti sangat terkejut dan tak menyangka. Melihat kebungkaman mertua dan tidak adanya solusi yang mereka berikan akhirnya aku memutuskan untuk merangkum diri sendiri dan berpamitan pergi. Dengan senyum yang sedikit kupaksakan, aku bangun dan mencium tangan orang tua suamiku. "Pamit dulu, ayah, ibu." "Iya hati hati, bersabarlah dulu," ujar Ayah. "Iya ayah, insya Allah." "Tunggu kami bicara padanya, ibu akan memberinya pelajaran," ucap Ibu mertua dengan ekspresi gemas, aku sedikit terhibur bahwa setidaknya ibu membelaku, tetap kusunggingkan semyum meski senyumku kecut karena merasa sudah tak nyaman lagi. Sewaktu akan beranjak pergi, tiba tiba dua orang datang dengan keadaan bergandengan tangan mesra. "Mas, aku bahagia hari ini, makasih balanjanya ya," ucap si wanita yang memegang banyak tas belanja sementara sang pria yang merupakan imamku tercengang begitu melihat diri ini di sana, senyumnya yang tadi lebar langsung berubah pucat dan ekspresi ketakutan. Ia bersurut mundur, memaksa kekasihnya untuk melihat ke arah ayah dan ibu mertua. "Ada apa sayang? O-ouh, M-mbak Nadira!" "Ya aku...." "Om, Tante, Begitu banyak pertanyaan yang kini menggantung di kepalaku, Mengapa Mas Indra mengajak kekasihnya ke rumah mertua dan wanita itu nyaman saja. Lalu ekspresi mertua, mengapa mereka seolah sudah lama mengenal intan? "Kalian ke sini?" Tanyaku. "Iya, Pak Yudha dan Ibu Ratmi adalah Tanteku," jawab Intan dengan senyum lebar. Di situlah aku mulai paham pola hubungan suamiku Mengapa begitu awet dan aman terjadi selama ini ternyata itu karena dukungan dan izin dari ibu dan bapaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN