11

1055 Kata
Aku yakin wanita itu baru saja memperolok diri ini dengan kalimatnya. Aku yakin dia puas mengatakan apa yang ada di hatinya dan sengaja menghina untuk merendahkan mental dan menjatuhkan kepercayaan diriku. Dia ingin aku putus asa sebagai seorang istri lalu memilih untuk bercerai dan mengalah demi kemenangannya. Begitu banyak cacian dan hujatan yang ingin aku lontarkan tapi aku malu kepada penampilanku yang berhijab, kepada akhlakku selama ini dan kepada Tuhan itu sendiri. Aku tidak akan m*****i martabatku hanya demi berhadapan dengan pelakor lalu menjadi pusat perhatian semua orang hanya lantaran merebut satu orang pria. Kesimpulannya, tetap saja, sebaiknya merangkum aset-aset yang ada untuk anak ana lalu memilih bercerai. Percuma aku bertahan dalam luka yang mendera bertubi-tubi ini, hatiku sakit tiada terkira ditambah sikap suamiku yang sudah acuh tak acuh saja dia tidak berusaha untuk meminta maaf tapi selalu nampak ingin mencari pembenaran dan mendorong-dorong agar aku yang lebih dahulu minta maaf darinya. Gengsi dan egonya lebih tinggi dibandingkan perasaannya terhadap orang yang sudah mendampinginya selama ini. * Kuletakkan belanjaan di atas meja sambil segera meraih segelas air dan meneguknya dengan cepat. Cuaca di luar yang begitu panas membuat diri ini nyaris kehilangan kesabaran ditambah ucapan intan yang terngiang-ngiang di telinga. Ah menyesal juga mengapa aku bisa mengajaknya bicara baik-baik jika pada ujungnya wanita itu menunjukkan kesombongan dan menghinaku. Rasanya tertampar sekali harga diri ini dan semakin dipikirkan semakin kesal hati ini. Mestinya aku harus melakukan sesuatu agar wanita itu bisa kapuk untuk memanjangkan lidahnya kepadaku mungkin aku harus mencari satu scene di mana itu cukup ramai dan aku bisa mempermalukannya. Astaghfirullah. "Tidak boleh begitu, jangan." Meski dendam di hati begitu kuat tapi tetap saja, sisi religius diri ini melarang untuk berbuat dosa, mencegah membalas kejahatan dengan kejahatan. Aku benar benar pusing dan nyaris mengamuk. "Kau sudah pulang?" "Ya." Siapa lagi orang yang bertanya itu kalau bukan Mas Indra, tumben sekali dia sudah berada di rumah di jam 12.00 siang, biasanya dia akan pulang malam hari atau paling tidak menjelang magrib. Kulepas hijab dengan meletakkannya di atas kursi dapur, ku ambil beberapa keping es batu lalu memasukkannya ke dalam gelas dan menambahkan air dari dispenser lalu meneguknya, entah kenapa perasaanku kembali marah menyaksikan wajah suamiku yang datar-datar saja bertanya tentang diri ini seolah tidak ada yang terjadi. "Aku bertemu dengan calon istrimu," ucapku seusai minum air dingin sambil membereskan barang belanjaan dan bersiap untuk memasukkannya ke dalam kulkas. Kupisahkan antara buah dan sayur lalu memasukkannya ke dalam keranjang plastik kemudian memisahkan cabai dan tomat. Pria yang ku beritahu masih diam saja sampai semua kegiatan tadi selesai. "Kau kau bilang bertemu intan?" Sepuluh menit kemudian setelah dia menelaah semua ucapanku barulah dia bertanya. Entah kenapa kecut rasanya hati ini mendengarkan dia menyebut nama kekasihnya dengan lembut. "Iya. Betul." "Kau dan dia bicara? Dia bilang apa?" "Lebih tepatnya aku yang mencoba bertanya Mengapa dia begitu nekat mengambil suami orang, tidakkah dia merasa bersalah?" "Lalu?" "Jawabannya tidak tentu saja, jawaban klasik ala pelakor. Dia bilang aku pasti bisa mengatasi masalahku sendiri dan tentang cinta kalian yang sudah terjalin begitu kuat, itu tidak akan pernah terpisahkan," jawabku sambil memutar bola mata dan mengalihkan pandangan ke arah lain, kesal dan muak melihat Mas Indra. "Mengapa kau berusaha untuk menyakiti hatimu sendiri?" "Aku? Hahahaha." Entah apa yang harus kukatakan selain hanya bisa tertawa getir, hatiku sakit, aku ingin menangis, tapi aku menahannya. Sengaja kuperlama proses menata makanan di kulkas agar hawa dingin menguapkan air mata yang hendak menetes, aku benar benar sakit hati. "Kenapa kau hanya tertawa?" "Apa lagi yang bisa kulakukan." Meski sekuat tenaga berusaha untuk terlihat tegar Tapi tetap saja suaraku pecah dan aku mulai kehilangan ketegaranku. Air mataku tumpah meski segera kuseka dengan gamisku. "Maaf ya, karena ini terjadi di antara kita." "Tidak masalah," jawabku dengan suara yang masih bergetar. Aku merutuki diri sendiri Mengapa harus menangisi pria tidak berguna yang ada di hadapanku ini. Dia memang baik, lembut dan sangat menyayangi keluarga, juga bertanggung jawab, dia adalah figur lelaki sempurna yang diinginkan semua wanita dan akan dicintai sepenuh hati tanpa pernah berpikir bahwa akan terpisahkan. Sayangnya sejak perselingkuhan itu terjadi semua jasa-jasa baik dan hal-hal yang dia lakukan terlihat buruk di mataku aku menjadi sangat membencinya dan kecewa luar biasa. "Jika masih tersisa rasa cinta di hatimu aku sungguh berharap bahwa kita tidak perlu bercerai aku akan bersikap adil," ucapnya sambil menganggukkan kepala memohon persetujuan dari diriku. "Ya, aku yakin kau bisa mencukupi kebutuhan dua orang istri tapi maaf aku tidak mau dimadu." "Lalu apa yang kau lakukan setelah perceraian kita? Apa kau akan dengan segera mungkin mencari pekerjaan dan suami yang baru?" Hahahah. Enteng saja dia mengatakan semua itu di atas luka-luka hatiku yang semakin hari semakin ia sirami garam dan cuka. Bisa-bisanya dia berpikir aku akan segera move on dan bahagia lalu mencari suami baru tanpa mengobati luka-luka dan trauma yang ada? enak saja! "Kenapa kau tertawa lagi?" "Aku menertawai empatimu yang sudah hilang. Aku menertawai bahwa suamiku yang sangat bermoral dan beradab jadi buta mata hati karena cinta. Bisa-bisanya kau dengan percaya diri mengatakan bahwa kau akan adil dan bisa memberikan kami cinta yang sama padahal jelas-jelas semuanya sudah berbeda." "Lantas aku harus bagaimana?" "Sebentar!"jawabku sambil meraih sebuah buku yang ada di laci dapur berikut dengan pulpennya buku dan pulpen yang biasa aku gunakan untuk menuliskan resep masakan. "Ini ...." Ucapku sambil meletakkan kedua benda itu di atas meja yang tepat ada di hadapannya pria itu terlihat bingung dan mengernitkan alis tanda tidak mengerti apa maksudku. "Apa yang akan kulakukan?" "Buatlah pernyataan menjatuhkan talak lalu tanda tangani!" "Aku tidak mau!" "Aku tidak pernah mempersulitmu dalam pernikahan kita jadi jangan persulit aku dengan perpisahan kita! Aku tidak pernah menuntut apa-apa selama ini bahkan aku tidak pernah meminta dibelikan segeram emas pun, aku hanya minta kau jatuhkan talak dengan layak." Pria itu mendongak, menatap kepadaku, membeku, sambil mengatupkan kedua bibirnya tanpa menyentuh sedikitpun pulpen dan kertas itu. "Kenapa? Ayo lakukan? Bagimu mudah sekali untuk berselingkuh di belakangku jadi tidak akan sulit untuk membuat pernyataan talak, betul?" "Tidak," jawabnya lirih. "Buat saja, aku akan menunggu!" desakku. "Aku tidak bisa dan tidak mau!" "Harus mau!" "Jangan memaksa!" "Kalau begitu telepon kekasihmu dan katakan bahwa mulai hari ini kalian putus!" Aku berteriak sambil melempar ponselnya ke atas pangkuannya, wajahku mungkin sudah sangat memerah oleh amarah yang meletup-letup, hatiku menggelegak oleh emosi yang tidak bisa tertahan lagi, aku benar-benar kehilangan kesabaranku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN