Sudah hampir maghrib dan jalan raya mulai padat. Dengan sepeda motor yang Awan kendarai, harusnya dia berbelok kanan untuk bisa sampai di rumahnya, namun dia malah memilih jalanan lurus hingga kemudian tiba di sebuah masjib besar yang ada di pusat kota. Memarkirkan motornya, Awan lebih dulu duduk di undakan tangga untuk melepas sepatu yang dia kenakan, lalu merogoh ponsel yang ada di saku celananya, mengabari orang rumah jika dia mampir untuk sholat diluar sebelum kemudian berjalan pulang. Sempat menoleh ke dalam masjid, Awan kemudian melanjutkan duduknya lebih lama sambil menunggu adzan berkumandang. Pikirannya saat ini masih penuh dengan semua ucapan yang dikatakan Rindang padanya, jika dia tidak salah menyimpulkan maka tadi dia baru saja ditolak oleh gadis itu setelah tanpa sengaja me

