Satu bulan berlalu begitu saja, dan hidup Rindang juga berjalan begitu saja. Dirinya masih tetap sama, menjadi public enemy untuk semua orang. Kemana pun dia melangkah, akan selalu ada bisik-bisik yang mampir di telinganya. Namun Rindang tetaplah Rindang, dia masih saja tidak perduli meskipun segala caci maki dia dengar hampir setiap hari. Toh dirinya tidak bersalah, tidak mengusik siapapun, maka tidak ada yang perlu di lakukan. Sayangnya, ada satu hal yang jelas-jelas membuatnya terganggu. Adalah keberadaan Awan yang entah sejak kapan selalu menyapanya dengan ramah, dengan akrab, seakan mereka adalah teman dekat. Padahal menurut Rindang dia sudah membalas semua kebaikan yang Awan lakukan padanya dengan setimpal, yaitu dengan mengajak pria itu makan di kantin selama sebulan penuh, bena

